Tuesday, 23 June 2015

The Last Holiday ( Part 8 )



Pembalasan
            Armand telah sampai di desa Baturaja setelah menempuh perjalanan selama 30 menit . Pemandangan desa juga tak kalah indahnya seperti di pulau Hinako .Desa yang tak terlalu luas , seperti desa yang terletak di luar pulau besar . Banyak sekali rumah – rumah sederhana yang berderet di pinggir jalan besar .        
Sambil berjalan mengamati pemandangan desa , ada juga warga desa yang menyapanya , Armand juga membalas sapaan nya dengan senyuman ramah . Keramahan yang tak hilang sejak ia dan kedua temannya datang ke sana . Sepanjang jalan dihabiskannya dengan memandang keasrian desa Batu Raja yang belum terjamah sepenuhnya oleh pembangunan di kota – kota besar , hanya diolah seadanya . Akhirnya , Armand sampai juga di losmen tempat penginapan mereka dulu .
            Armand masuk ke dalam losmen , tidak ada yang berubah sama seperti saat mereka bertiga menginap di sana . Mungkin petugas resepsionis nya sudah tidak asing lagi melihat wajah nya .
            Armand mendatangi resepsionis untuk meminta kunci kamar .
            “ Pesan kamar , Bang ?”
            “ Ya kak . Satu kamar saja . “
            “ Oh , tapi ngomong – ngomong ke  mana teman abang yang cewek dan cowok itu ? “
            “ Oh mereka berdua lagi kuliah . Saya ngambil cuti 2 hari buat refreshing , mau nikmatin liburan sendiri . “ jawab Armand .
            “ Hm begitu . “sambil menyerahkan kunci kamar .
            Armand berjalan sambil mencari kamar bernomor 013 dan sudah menemukannya . Segera dimasukkannya kunci itu dan membuka pintu nya .  Armand sejenak berbaring untuk menghilangkan kepenatan sehabis menaiki pesawat terbang dan angkutan umum .
            Armand masih ingat saat dia keluar diam – diam sambil mengendap – endap agar dia tidak ketahuan oleh Rangga yang pada saat itu sedang tertidur . Tetapi Armand berusaha menyingkirkan semua ingatan nya saat dia menyatakan cinta nya pada Rania , tetapi Rania menolaknya . Sungguh kenyataan pahit yang harus diterimanya . Armand kemudian keluar dari kamar nya sekaligus untuk memesan makanan .
            Senja juga sudah berganti malam . Jam dinding berdetak menunjukkan pukul 9 malam . Di kamar nya memang tersedia TV tetapi Armand sedang tidak mau menonton , dia memilih untuk duduk di depan teras sambil minum secangkir kopi yag telah dia pesan tadi .
            Armand mengamati sekelillingnya , rimbunan pepohonan yang berselimut kegelapan malam dan jalan yang juga terlihat sepi . Mungkin sebagian orang akan memilih duduk bersama keluarga di dalam rumah dan menonton TV , tapi tidak dengan Armand . Baginya pemandangan seperti itu s’perti lukisan alam di malam hari dan suasana tak terlalu gelap , karena bulan sedang purnama , menerangi sudut – sudut tergelap di pulau itu .
            Armand menyeruput segelas kopi yang ada di tangan nya , masih terasa hangat di dalam perutnya .  Armand masih mencemaskan bagaimana keadaan Rania di sana dan apakah Lenni sudah melakukan apa yang dia katakan tadi siang sebelum dia berangkat .
            Suara Handphone berbunyi membuyarkan lamunan Armand dan segera melihat layar handphone .
            “ Nomor ini lagi ..!
 “ Halo ?! “
            “ Oh .. kukira kau sudah tak peduli lagi dengan teman mu . Jangan bersantai dulu , temanmu sedang dalam bahaya kan ? Jika kau ingin melihat teman mu selamat . kuharap kau datang secepatnya . “
            Armand mematikan handphone nya dengan perasaan gusar dan masuk ke dalam losmen karena udara malam semakin dingin dan kopi di cangkir nya sudah habis diminum .
            Malam telah berganti pagi , Armand sudah bersiap untuk pergi dari losmen itu dan meneruskan perjalanan nya menemukan Rania . Dia berangkat setelah dia memberikan kunci kamar dan uang sewa kamar nya .
            Sudah agak jauh perjalanannya dari losmen tersebut , kini dia melintasi jembatan penghubung antara desa Batu raja dengan pulau Hinako yang panjang nya sekitar 300 meter .
            Setelah melewati jembatan tersebut , dia t’lah menginjakkan kaki nya di pulau itu . Armand berjalan memasuki pulau yang keadaan hutan nya masih belum terjamah oleh tangan – tangan pengusaha , begitu rimbun dan lebat . Armand melihat ada 2 cabang jalan di pulau itu dan ia memilih jalur yang kanan .
            Dia berjalan dengan tenang , tetapi ada seseorang yang mengikuti nya tapi ia tak mengetahui nya . Tapi semakin lama Armand semakin merasakan ada yang mengikuti nya dari belakang , merasa tak nyaman , Armand mencoba menoleh ke belakang .
            “ Tidak ada orang .. “
            Setelah itu dia melanjutkan lagi perjalanan nya . Dia semakin merasa kalau ada seseorang yang terus mengikuti nya dari belakang , untuk memastikannya , Armand menoleh ke belakang lagi dan lagi tak ada orang di belakang nya . Armand mulai berpikir kalau ada hantu yang mengikuti nya , tetapi dia menangkis pikiran buruk itu , tanpa memerdulikan apa yang ada di belakang nya .
            Armand terus saja berjalan tanpa tahu orang yang sedari tadi sudah semakin mendekat, mengambil ancang – ancang untuk bersiap memukul nya . Dan kini orang itu sudah ada di belakang nya , segera memukul tengkuk Armand hingga dia ambruk .
            1 jam kemudian , Armand sadar dan merasa tengkuknya nyeri seperti ada yang memukul . Armand yang mencoba memulihkan tenaga dan melihat bahwa dia ada di sebuah ruangan yang besar dan sontak dia melihat ada suara jeritan tertahan seperti orang yang disekap .
            Armand terkejut bahwa yang disekap itu adalah Rania yang berada tak jauh di depan nya . Saat mendekati Rania , ada seseorang yang bertopeng yang mengacungkan pedang ke hadapan wajahnya , hal itu membuat Armand terhenti .
            “ Hei  , apa yang kau lakukan ?!! “
            Beberapa orang terlihat memasuki ruangan itu dan mendekat ke seseorang yang bertopeng itu , Armand sangat terkejut bukan main , ternyata dia mengenali mereka .
            “ JACK ! HERMAN ! RYHAN ! JANGAN – JANGAN KAU ... “
            “ Benar sekali ... Aku .. “ sambil membuka topeng nya
            “ RANGGA ! “
Armand seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya . Rangga , sahabat dekat nya sendiri yang menculik dirinya dan juga Rania .
“ RANG , KENAPA KAU BISA NGELAKUIN HAL SENEKAT INI SAMA RANIA ?! “ pekik Armand .
“ Seharusnya aku yang nanya ?! Kenapa kau begitu bernafsu mau merebut Rania dariku ?!! “ balas Rangga .
“ Merebut Rania ?! Aku betul – betul gak ngerti dengan apa yang kaumaksud ?! “ tepis Armand  .
“ Nggak ngerti ?! Jadi ini ...! “ Rangga mengambil 4 lembar foto dari dalam kantong kemaja nya dan mencampakkan ke wajah temannya .
Armand mencoba mengambil foto yang dicampakkan Rangga dan melihat nya satu per satu . Di foto itu jelas sekali terpampang kedekatan dirinya dengan Rania . Armand ingat sekali bahwa dia pernah mengajak Rania ketemuan dengan nya di beberapa tempat , tapi yang membuatnya penasaran siapa yang memfoto itu semua .
“ Rang , aku ingin bertanya satu hal ... “
“ Apa ! “
“ Dari mana kamu dapatkan foto – foto ini ? “
“ Heh . Jack nggak sengaja ngeliat kalian jalan berdua . Dia berinisiatif buat memfoto kalian berdua  dan nunjukin padaku . Awalnya aku gak percaya dan kusuruh Jack buat ngumpulin beberapa foto lagi sebagai bukti kalo kalian berdua gak ada hubungan spesial sama sekali . Tapi kau tahu , Mand , melihat kau berdua sama Rania di losmen malam itu , buat aku berubah pikiran samamu ... “
“ Jadi kau ... ? “
“ YA , AKU LIAT SEMUA NYA KOK !AKU BERPIKIR KAU ITU GAK LEBIH DARI SEORANG PENGKHIANAT , MAND !! “
Armand tertegun sebentar dengan apa yang dikatakan Rangga . Ia masih berpikir bagaimana caranya agar Rangga tak salah paham tentang dirinya .
“ Rang .. aku bisa jelasin semua... “
“ JELASIN ?! MAU JELASIN APA ?!! SEMUA UDAH JELAS KOK !! “
“ Aku ... “
“ DIAM KAU ! SEKALI LAGI KAUBICARA , AKU NGGAK AKAN SEGAN – SEGAN UNTUK MENGGOROK LEHER INI CEWEK !! “ Rangga menempelkan pedang itu ke leher Rania .
Melihat Armand takut dengan ancaman nya kepada Rania , membuat Rangga membuka sumpalan mulut Rania .
“ ARMANDD !! “ teriak Rania .
“ RANIAA ! “ Armand mencoba mendekat .
“ JANGAN COBA DEKAT – DEKAT ! MAU KUPUTUSIN LEHER NYA?!! “ sambil kembali menempelkan pedang itu ke leher nya .
Armand berjalan mundur perlahan agar bisa menyakinkan Rangga bahwa dia takkan melakukan sesuatu yang berbahaya kepada Rania , di depannya juga sudah ada 3 orang yang siap menghadang Armand . Armand perlahan mundur begitu juga dengan Rangga . Armand mundur beberapa langkah hingga mentok ke dinding tapi ketiga orang itu juga mengikuti ke mana Armand bergerak .
Armand bergerak ke sebelah kiri tetapi ketiga orang itu tetap  saja mereka mengikuti nya . Tangan kanan Rangga masih mendekap leher Rania dan tangan kirinya memegang pedang .
Tak ada pilihan lain selain selain menerobos orang itu dan merebut paksa Rania . Armand berhenti sejenak . Tiba – tiba , Armand berlari dan menerobos mereka bertiga . Mereka yang tak tahu Armand akan berlari , sempat terjatuh , tapi naas saat Armand meraih tangan Rania ...
“ AOKH ! “
“ Sudah kubilangkan jangan mendekat ! “
            Sebilah besi dinding menembus dada Rania dari belakang . Armand menurunkan tangan nya perlahan . Mulutnya ternganga , ia tak bisa mengelurakan sepatah kata pun . Matanya hanya terbeliak , menatap apa yang ada di hadapannya .
            “ Ra ... Rania ... “ desisArmand .
            Mata Rania terbelalak sesaat sebelum pedang itu mencabut nafasnya dan tubuh Rania ambruk bersimbah darah di hadapan Armand .
            Kaki Armand seolah bergetar dan lemas menyaksikan wanita yang sangat dicintainya mati di hadapan nya .
            “ Teman – teman , hajar dia sampai babak belur kalau perlu sampai dia mati ! “ Rangga menunjuk Armand .
            Di tengah kesedihan nya , Jack , Herman & Ryhan menyeret nya ke pojok dinding  dan menghajarnya hingga dia babak belur .
            Armand sadar beberapa menit lalu setelah dikeroyok oleh mereka bertiga . Tubuhnya masih merasakan sakit , nyeri hingga dia belum bisa menopang badan nya .
            Dia menyeret badan nya untuk mencapai mayat Rania yang tidak terlalu jauh darinya . Dia menyeret badannya dengan tenaga yang ada hingga dia sampai . Armand mencoba bangkit walaupun rasa sakit masih menderadan akhirnya dengan bersusah payah , Armand duduk dan mencoba mengambil tubuh Rania menaruh ke dalam dekapan nya .
            Dipandangi nya tubuh Rania yang tak bernyawa , gadis yang sangat dicintainya itu . Tanpa terasa tetesan air mata mengalir dari sudut pelupuk matanya . Tangisnya memecah kesunyian dan semakin keras , menggema di ruangan ‘eksekusi’ itu , sambil menggoyang – goyangkan badan Rania berharap dia masih hidup .
            “ RANIA ? BANGUN RANIA ?! BANGUN ! “ Armand masih saja berusaha untuk membangunkan Rania tapi apa daya usaha nya sia – sia , Tuhan sudah menjemputnya .
“ RANGGA ?! KAU ... !!! HARUS MEMBAYAR KEMATIAN RANIA !! KAU HARUS MATI DI TANGAN KU , RANGGA !!! “ Armand berteriak keras dan tatapan mata nya merahpadam seakan dirinya ingin sekali membunuh Rangga. Api dendam pun sudah membara dadanya.
Siang t’lah bertukar senja . Polisi t’lah tiba di pulau Hinako . Polisi mendapatkan informasi dari beberapa saksi dan teman – teman Rania . Pihak kepolisian yang baru saja tiba di tempat kejadian terkejut mendapatkan tubuh seorang wanita tergeletak tak bernyawa , bersimbah darah . Mereka menduga t’lah terjadi pembunuhan di tempat itu. Itu terbukti setelah polisi melihat ada luka tusukan senjata tajam di dada Rania .
Orang tua Rania yang ikut bersama polisi tersebut menangis histeris melihat putri mereka meregang nyawa secara mengenaskan . Kepolisian memanggil tim pengangkut jenazah , ahli forensik dan otopsi guna mengetahui penyebab lebih lanjut pembunuhan Rania .
Jenazah Rania diterbangkan dengan menggunakan pesawat terbang khusus untuk dikebumikan . Orang tua masih menangis meratapi kepergian putri sulung mereka , mereka juga menyesal terlalu menekan anak mereka , mencari Rangga guna mempertanggung jawabkan janin yang ada di rahimnya .
Satu setengah jam t’lah berlalu , mereka sampai di bandara . Polisi bersiaga mengambil jarak dengan orang – orang yang mulai ramai melihat para polisi membawa sebuah kantung yang berisikan jenazah seorang wanita dan segera memanggil ambulance untuk dibawa ke rumah sakit .
Hari sudah malam , rencana penguburan Rania dilaksanakan pada pagi hari . Tetangga mulai berdatangan begitu juga dengan teman – teman kampus dan satu falkultas nya melayat , memberi penghiburan bagi orang tua Rania dan adik laki – laki nya yang duduk samping jenazah Rania yang sudah diletakkan dalam peti . Lenni yang saat itu masih di rumah duka , mencoba menghubungi Armand , tetapi nomor nya tidak aktif , begitu pula dengan Rangga , tidak ada satupun teman dekat Rania yang bisa diberi tahu tentang kabar dukacita ini .
Pemakaman t’lah dilaksanakan . Terdengar suara isak tangis dari teman – teman Rania .Mereka sangat menyayangkan kematian Rania yang begitu tragis dan berharap pihak kepolisian bisa menangkap tersangka pembunuhan tersebut . Masih terlihat orang tua Rania dan adik nya masih menangis tersedu – sedu mengiringi kepergian Rania yang petinya sudah tertimbun oleh tanah . Di tengah suasana haru tersebut , Rangga juga datang dan sekonyong – konyong menangis di depan makam Rania .
Melihat hal itu , Lenni mencoba menghibur Rangga yang masih diselimuti kesedihan .
“ Sabar ya Rang , kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Rania . Mungkin ini sudah kehendak yang di atas . “ sambil menepuk lembut pundak Rangga .
Melihat kedatangan Rangga tiba – tiba , tersulutlah emosi ayah Rania mengingat Rangga selama ini menghilang , muncul lagi ketika Rania sudah meninggal .
“ EH , KAMU LIAT INI ! ANAK SAYA , MENINGGAL GARA – GARA KAMU ! DASAR LAKI – LAKI GAK BERTANGGUNG JAWAB ! BIAR SAYA HABISI KAMU SEKARANG ! “ emosi ayahnya tak terbendung ketika tangannya mengepal keras dan mencengkram leher Rangga , hendak bersiap memukul nya .
“ Jaga emosi mu , Pa ! Ini bukan semata salah Rangga . Kini Rania sudah tiada .  Kita ikhlaskan saja , ini sudah jadi kehendak Yang Maha Kuasa , pak ! “ timpal sang ibu .
Lenni yang ada di samping Rangga pun tak bisa berbuat banyak , meredam luapan emosi ayah Rania , hanya bisa tertunduk lesu .
“ Dasar manusia biadab ...! “
Terdengar desis suara dari balik pohon tetapi ketika dilihat nya dari belakang , tidak ada seorang pun . Mungkin hanya halusinasi nya saja .
Malam hari ini bulan sedang purnama . Sinarnya memancarkan cahaya pada suatu tempat nan ramai . Di sebuah bar , di antara kelap – kelip lampu berwarna – warni , suara musik disco yang berdentum begitu keras , mungkin bisa memekakkan telinga siapa yang mendengarkan nya .
            Terlihat ada 4 orang pemuda duduk melingkar di sebuah meja . Mereka sedang sibuk menegosiasikan sesuatu yang bersangkutan dengan keselamatan mereka .
            “ Eh kawan – kawan . Denger – denger , polisi sudah mengantongi identitas para pelaku pembunuh Rania ..? ” tutur Jack .
            “ Tahu dari mana kawan , Jack ? “ kata Herman .
            “Dengar ada warga desa yang memergoki kita , seperti melakukan sesuatu hal yang mencurigakan gitu ... “
            “ Ah gak mungkin . Kita kan pergi nya malam banget . Lagipula semua barang – barang bukti udah pada kita buang . Takkan ada yang bisa menemukan kita “ Rangga memotong pembicaraan Jack .
            “ Betul tu kata Rangga . Si Armand kan udah kita beresin . Gak mungkin ada orang yang ngeliat kita . Lebih baik kita minum – minum dulu deh biar hanget . “ timpal Ryhan sambil mengangkat gelas nya .
            Mereka saling mengangkat gelas nya dan bersulang . Tanpa mereka tahu seseorang yang berada di sudut bar sudah memperhatikan gerak - gerik mereka dari tadi .
            Pukul 23 . 30 tengah malam . Jack pulang terlebih dahulu dengan alasan dirinya sudah mabuk. Dia juga khawatir karena akhir – akhir ini banyak kecelakaan kendaraan disebabkan pengemudi dibawah pengaruh alkohol . Jack dengan langkah sempoyongan keluar dari bar , hendak mengambil sepeda motor nya . Ketika sedang memasukkan kunci nya , Jack dibius dari belakang , tak sanggup dirinya melawan ,  orang misterius itu menyeret nya ke tempat yang gelap .
            Keesokan hari nya seorang penjaga bar menemukan mayat seorang pria tewas mengenaskan dengan luka bacok hampir di sekujur badan nya . Penjaga bar tersebut langsung menelpon polisi karena dirinya takut terlibat dalam kejadian tersebut .
            Setelah 20 menit usai ditelepon , datanglah polisi dan petugas medis . Polisi menemukan identitas mayat tersebut adalah Jack , pria berusia 22 tahun . Jack ditemukan dengan kondisi badan penuh luka bacok , tubuhnya sudah digenangi oleh darah segar . Polisi menduga pria tersebut menjadi korban pembunuhan .
            Petugas medis membawa mayat itu ke rumah sakit guna otopsi dan pemeriksaan lebih lanjut . Polsi yang berada di tempat kejadian perkara menelepon keluarga korban dengan Handphone milik korban yang berada di saku celana nya .
            Keluarga Jack yang menerima kabar bahwa anggota keluarga menjadi korban pembunuhan langsung menuju rumah sakit usai ditelepon oleh polisi . Ayah , ibu dan adik nya Jack sudah menemukan jenazah anggota keluarga mereka sudah terbujur kaku , dingin , t’lah tertutupi oleh kain putih panjang . Suara tangis pun pecah di ruang jenazah .
            Pukul 12 . 30 , acara pemakaman Jack sedang berlangsung . 3 orang cowok , Rangga , Herman &Ryhan dan 3 orang cewek Lenni , Tian & Jen menghadiri pemakaman teman mereka . Suasana pemakaman penuh haru dan tangisan dari ibunda Jack yang masih tak percaya bahwa anaknya akan pergi dengan cara yang mengenaskan . Begitu pula dengan Rangga , Herman & Ryhan yang tak habis pikir siapa yang tega menghabisi sahabat nya dengan cara sesadis itu .
            Sudah 3 hari sejak kejadian pembunuhan tersebut , polisi masih melanjutkan penyelidikan guna menemukan siapa tersangka pembunuhan Jack .
            Malam hari pukul 20.00 , Herman baru saja pulang dari rumah teman nya . Rumah Herman berada di dalam gang kecil sebelah kiri komplek perumahan . Herman memilih turun jauh dari rumah nya karena dia merasa segan dengan temannya . Dia pikir , jarak rumah nya dari komplek perumahan tersebut hanya berjarak kurang lebih 150 meter , bisa ditempuh dengan berjalan kaki .
            Tak seperti biasa nya , begitu sepi . Terlihat hanya satu atau dua orang melintas -- pulang ke rumah masing – masing . Mungkin teringat pada kasus pembunuhan Jack yang tersiar sampai ke tempat tinggal nya , membuat penduduk yang bermukim di sana , merasa takut dan resah , walaupun tempat kejadian nya jauh dari sana .
Herman berjalan sambil bersenandung kecil untuk mengusir rasa sepi yang mencekam di malam itu . Sambil bersenandung , Herman mendengar suara derap kaki yang mengikuti nya dari belakang . Dirinya merasa was - was , kala dia melihat ada bayangan orang , seperti seseorang yang sedang membuntuti nya .
Dia terus saja melangkah tanpa peduli kalau dia terus diikuti . Terus berjalan seolah tak ingin peduli kalau ada seseorang yang mengikuti nya . Seiring langkah kaki nya , seiring dengan degup jantungnya semakin berdetak kencang tak teratur , derap langkah kaki seolah semakin dekat , dirinya merasa keamanannya akan terancam , Herman menoleh lagi ke belakang .
Ketika dia menoleh , tak ada seorang pun . Yang terlihat hanya sebuah pohon jambu air dan tanaman pagar tumbuh di sebrang jalan . Herman menghela nafas kecil , ternyata hanya perasaan nya belaka .
Saat memasuki gang kecil menuju rumahnya , tiba – tiba sebuah tali tambang mencengkram leher nya begitu kuat , hingga membuat diri nya terjatuh dan tali itu terus saja menyeretnya ...
Keesokan paginya , seorang warga digegerkan dengan ditemukan nya seorang pria tewas gantung diri sebuah pohon . Warga bermukim di komplek itu mengenal mayat pria tersebut adalah Herman . Sejumlah warga langsung berlari ke rumah orang tua nya  untuk memberitahu kalau anak mereka t’lah tewas gantung diri .
Berita kematian Herman yang diduga bunuh diri tersebut sampai ke telinga Rangga &Ryhan .
“ Rang , aku takut banget nih . Jangan – jangan Herman bukannya mati karena bunuh diri tapi karena dibunuh , Rang . “ tutur Ryhan
“ Maksudmu ?! “
“ Ya s’lama ini , Herman kan gak pernah ada masalah apa – apa , sama kita enggak , sama orang tua nya juga enggak , apalagi sama studi nya , gak ada masalah sama sekali . Aku curiga , ini semua ada kaitannya sama Rania , yang kita bunuh di pulau itu ... “ nada bicara Ryhan berubah pelan .
“ Hush ! jaga omonganmu, Han ! kalo ada orang yang dengar gimana ?! Bisa habis kita , tau kau ! “ potong  Rangga .
“ Ya ... ya ma.. maaf Rang . Aku soalnya takut banget , Rang . Bisa aja si Armand balas dendam sama kita – kita karena udah membunuh Rania ,.. “
“ AH CUKUP HAN ! CUKUP ! Sekali lagi kau sebut nama Armand , kutinggalkan kau sini ! “ bentak Rangga .
“ Ya jangan donk , Rang . Aku takut banget sendirian di sini , Rang . Sepi banget , gak ada siapa – siapa lagi... “
“ Ya sudah , kau tunggu aja dulu di sini bentar , aku mau buang air kecil bentar . Ini nih gara – gara kau ngomongin soal Rania sama Armand . Tapi , kau nunggu di sini ya !? Jangan ke mana – mana . “
“ Yah tega amat kau , Rang , ninggalin aku di sini . Aku ikut kenapa ? “
“ Aduh ... cuma bentar aja kok , gak bakalan lama , penakut banget jadi cowok ! “ ketus Rangga .
“ Tapi janji kan ? “
“ Iya .. iya. “
Letak toilet agak berjauhan dari pintu gerbang keluar . Beberapa saat jalan kaki , akhirnya sampai juga di toilet .
“ Ah lega nya ... “
Sesaat Rangga buang air kecil ,ada seseorang dari luar mengetuk pintu toilet .
“ Siapa di luar ? Ryhan jangan main – main deh . Gak lucu tahu gak ?! “
Rangga berjalan menuju pintu toilet dan membuka engsel nya . Saat pintu sudah terbuka , dia menemukan seseorang dengan posisi telengkup di depan pintu,  sontak membuat Rangga terperanjat .
Saat membalikkan badannya , alangkah terkejut nya bahwa orang itu adalah Ryhan , temannya sendiri . Dia tewas dengan 3 luka tusuk di perut nya dan darah nya berceceran di lantai .
Belum habis rasa paniknya , seseorang berdiri membelakangi nya tak jauh dari posisi tergeletaknya mayat itu .
“ Eh si ..si..siapa ka..kamu ? “ Rangga agak terbata – bata .
Beberapa saat di berbalik , seseorang mengenakan sebuah topeng dengan jaket hitam , sebuah sarung tangan hitam dan celana jeans panjang , mengacungkan sebuah pistol di hadapan wajahnya .
Orang tersebut berjalan maju dan Rangga berjalan mundur perlahan – lahan .
“ Si .. si ... siapa kamu ?! kenapa kamu membunuh temanku ! Apa yang kamu mau dariku !! “
Orang itu tak menjawab pertanyaan nya dan terus saja berjalan menodongkan pistol , hingga Rangga dalam keadaan terpojok di dinding .
Orang itu membuka topeng nya
“ ARMAND ! “
Armand menatap Rangga dengan pandangan dingin dan kosong . Dendam yang membuncah di hatinya , tak sabar lagi ingin dilampiaskan pada temannya itu .
“ Waktu nya kau menyusul teman – temanmu , Rangga ... “
Tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara , Dia menarik pelatuk pistol itu sampai 4 kali dan peluru – peluru itu menembus dada nya dan darahnya membuncah mengenai dinding  , mengantarkan dirinya pada kematian yang begitu cepat dan tanpa mengenal rasa belas kasihan sama sekali .
Mas Kino , kini sudah keluar dari messnya . Sudah tugasnya sebagai pengawas ruang untuk membukakan ruangan kuliah yang akan dipakai untuk kegiatan perkuliahan . Tapi sebelum dia hendak membuka ruangan , dirinya ingin sekali menuju kamar mandi . Dia sempat terusik dengan suara letupan senjata angin , yang mengganggu tidurnya malam tadi . Dia ingin sekali melihat apa yang terjadi di sana , tapi rasa kantuk yang masih merajainya , diputuskannya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu itu .
Kini dirinya sudah berada di kamar mandi . Sontak dia terkejut , melihat mayat seorang pria terbujur kaku , dengan tubuh bersimbah darah di depan kamar mandi . Pikirannya melayang dan menduga pasti ada korban lain yang berada di dalamnya . Dengan tubuh sedikit gematar , dilangkahinyalah mayat pria itu dan langkah kaki juga bergetar masuk ke dalam . Ternyata dugaannya benar . Ada kagi mayat seorang pria tewas mengenaskan . Darah kering membasahi dinding kamar mandi . Mas Kino yang mampu menahan kepanikannya , berlari keluar sambil berteriak minta tolong . Pada saat itu selasa pagi yang sudih , mendadak mencekam karena kasus pembunuhan misterius menimpa 2 pria malang tersebut .
“ Nah ,begitulah . Kau sudah tahu kan bagaimana cara membunuh mereka semua , kini tibalah saat nya untuk kalian bertiga menyusul teman – teman kalian ... “ katanya sambil mengeluarkan sebilah pisau dari saku celana nya .

Sunday, 21 June 2015

The Last Holiday ( Part 7 )



Kenyataan Pahit
Keesokan harinya , Armand t’lah tiba di kafe tempat mereka bertiga biasanya nongkrong . Matanya jeli mencari di mana posisi tempat duduk Rania . Kini , matanya t’lah tertuju oleh seorang wanita yang memakai kaus oblong dengan kuciran rambut di belakangnya . Armand yang mengetahui posisi Rania , langsung mendatangi dirinya .
“ Eh Rania , kamu udah datang ? Maaf ya kalau aku datangnya telat . “ tutur Armand sambil menarik kursi , duduk di hadapan Rania .
“ Gak apa – apa . Malahan aku mau ngajakkamu pergi dari sini . Terlalu banyak orang , lebih baik kita pergi ke taman kota saja . Ayo , Mand . “ ajak Rania .
“ Ya sudah ayo kita pergi . “
Armand hanya menuruti perkataan Rania tanpa banyak bertanya . Raut wajah ayu Rania mendung tak memancarkan keceriaan di dalamnya . Dia hanya murung berlalu saja pergi menuju pintu keluar kafe itu .
Mereka berdua t’lah keluar dari kafe , dan segera menaiki sepeda motor . Di perjalanan , Armand ingin bertanya kepada Rania ke mana saja selama 2 minggu ini tak pernah terdengar kabarnya , tetapi kelihatannya Rania seperti orang galau , kebingungan dengan keadaan dirinya sendiri , membuat Armand mengurungkan niat nya untuk bertanya , dan mempercepat laju sepada motornya untuk cepat sampai ke taman .
Setelah 15 menit perjalanan , tibalah mereka di taman . Armand dan Rania mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai oleh lalu – lalang orang berlewatan .
Dan mereka mendapatkan tempat yang diinginkan untuk berbicara empat mata . Keraguan Rania timbul ketika dirinya ingin membuka pembicaraan dengan Armand .
“ Mand , ... ? “
“ Ada apa Ran ? “
            “ Sebenarnya aku agak berat hati memberi tahu ini samamu ... ? “
            “ Ya beri tahu saja , aku kan sahabat kamu , aku pasti akan bantu kamu . “
“ Aku Hamil . “
“ HAH ! APA ?! “ Armand terperanjat .
“ Aku hamil , Mand . Janin dalam kandungan aku ini adalah anak Rangga . “
“ Kenapa bisa begitu ? Kenapa Rangga bisa berbuat begitu sama kamu ?! “
“ Sebenarnya kami melakukan hubungan ini atas dasar suka sama suka . Rangga terus saja merayu dan membujukku , dia juga bilang setelah melakukan hubungan ini dia akan menikahiku dalam waktu dekat , lagipula kami sudah bertunangan . Akhirnya aku terbuai juga oleh sentuhan & belainnya dan hubungan itupun terjadi... “ Rania tak meneruskan perkataannya lagi .
Armand cukup terheran mendengar pernyataan Rania . Dia berpikir bahwa yang dilakukan kedua sahabatnya terkesan bodoh dan keliru , tetapi melihat keadaan Rania yang seperti ini dia tidak ingin mengungkapkannya , cukup sebagai pendengar saja .
“ Jadi apa yang kamu permasalahkan dengan janin yang ada di kandunganmu itu ? Bukannya Rangga akan bertanggung jawab dengan hal ini ? “
“ Rangga lari dari tanggung jawabnya , Mand . “
“ RANGGA LARI ?! “
“ Ya , Mand . Orang tuaku tahu bahwa aku sudah hamil , langsung mendesak aku dan Rangga untuk segera menikah . Aku sudah berusaha menghubungi dia tapi nomornya tidak aktif , aku sudah menanyakan keberadaan nya kepada teman – temannya , tapi mereka bilang Rangga sudah mengundurkan diri dari kampus ...“
“ Jadi Rangga sudah tidak kuliah lagi ?!.. “
Mendengar apa yang dikatakannya , Armand merasa tak percaya dengan apa yang dilakukan Rangga kepada Rania . Armand tak habis pikir apa yang menyebabkan Rangga berbuat hal sebodoh ini . Sahabat yang sudah lama dia anggap sebagai saudara sendiri , bertindak seperti pecundang yang lari dari masalah , sudah mengambil kehormatan seorang gadis yang tak berdaya , yang kini ditinggalnya seperti sampah .
“ Tapi tunggu dulu . Kapan kalian melakukan hubungan itu ? “
“ Kamu ingat waktu kita berlibur ke pulau Hinako ?
“ Ya .” Armand mengangguk pelan .
“ Kamu ingat kamu kami berdua pergi ke dalam hutan untuk mencari kayu dan air minum ? “
Armand mencoba memutar ulang ingatan nya dan akhirnya dia ingat . Ternyata candaan yang tidak sengaja dilontarkan untuk mereka kini menjadi kenyataan . Ada rasa bingung , rasa benci , kasihan dan menyesal semua bercampur menjadi satu , mengaduk – aduk hati dan perasaan nya . Armand hanya terdiam , tak bisa melakukan apa – apa -- semua sudah terjadi .
Mungkin hanya satu yang masih bisa dilakukannya adalah menemukan Rangga dan mendesaknya agar segera menikahi Rania . Rania menatap dalam – dalam ke dalam mata Armand . Seketika itu pecahlah tangisan Rania . Dirinya sempat terkejut dengan perlakuan Rania yang spontan itu , sempat canggung saat dirinya hendak memeluk wanita yang saat ini bersandar di dadanya . Hanya memeluk dirinya agar terlupakan sejenak masalah yang menghimpitnya dan bagi Armand , hal ini mungkin hanya terjadi saat itu juga dan kemudian berlalu begitu saja .
“ Jangan menangis Ran .Aku akan berusaha semampuku buat nemuin si Rangga . Percayalah . “ Armand mengusap air mata Rania.
“ Makasih banyak ya Mand . Aku gak tahu apa yang mesti kulakukan kalau gak ada kamu . Terima kasih banyak Mand . “
            “ Sekarang ayo kita pulang . Kamu perlu istirahat & kelihatannya kamu lelah sekali . Ayo kuantar ke rumah orang tuamu . “ ajak Armand .
            “ Jangan antarkan aku ke sana . “ cegah Rania .
            “ Tapi kenapa ? “
            “ Aku lari dari rumah orang tuaku . Aku malu tetangga di sekitar rumahku terus saja menghinaku karena mengetahui aku hamil di luar nikah . Jika aku masih ada di sana , pasti aku hanya membuat orang tuaku s’makin bersedih , makanya aku putuskan untuk lari dari rumah . “
            “ Kalo begitu , aku harus antar kamu ke mana ? “
            “ Antar saja aku ke kost nya si Lenni , bisa kan Mand ? “
            “ Ya sudah . Gak apa – apa . “
            Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang . Rania dibonceng oleh Armand dengan duduk di jok sepeda motor dengan posisi menyamping . Kepala Rania bersandar di bahu Armand . Ada rasa nyaman dan intim dalam diri Armand . Tak bisa dilukiskan oleh kata – kata . Mungkin dirinya memang tak ditakdirkan untuk bersama Rania .
            Tapi bagi Armand keadaan Rania sekarang bukan saat yang tepat untuk mencuri perhatian Rania . Rania yang begitu terpukul & rapuh butuh seseorang yang mampu menjaganya dan mengerti keadaannya . Dan sekarang , waktunya Armand menunjukkan itu semua bahwa dia bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih sebagai seorang pria . Tapi perasaannya tak bisa dibohongi , di dalam hati dia masih mengharapkan Rania menjadi miliknya , entah sampai mimpi itu jadi kenyataan .
            Masih ada waktu 2 hari lagi waktu cutinya . Dimanfaatkannya untuk mencari Rangga . Armand mencoba menghubungi nomor Rangga berkali – kali tapi nomornya sudah tidak aktif lagi .
            Tak kehabisan akal Armand mencoba menghubungi teman dekatnya , Jack .
            “ Maaf masbro . Memang akhir – akhir ini si Rangga gak pernah lagi ngubungin kami , jadi aku gak tahu di mana dia sekarang . “ ujar Jack .
            Tak  mendapatkan informasi dari Jack , Armand terus mencoba menghubungi Herman dan terakhir Ryhan . Tapi tak ada satupun dari mereka yang tahu di mana keberadaan Rangga .
            Tak cukup sampai di situ , Armand mencoba menghubungi teman satu falkultasnya , Rangga , yang ada di kontak HP nya dan sama sekali tak membuahkan hasil .
            Armand hampir saja putus asa , tapi terlintas di benaknya .
“ Oh Ya ! Kenapa aku gak kepikiran buat nyari ke kostnya dia ?! Siapa tahu aku bisa dapat informasi tentang keberadaaan Rangga ! “ sentak Armand .
Keesokan harinya Armand pergi menuju ke kostan Rangga dan menjumpai pemilik kost .
“ Permisi Bu , apa ibu kenal dengan orang bernama Rangga ? “
“ Oh Rangga . Ibu kenal tapi dia sudah lama pergi di kost ini lagi . “
“ Kapan dia pergi dari sini , Bu ? “
“ Sejak seminggu yang lalu . “
“ Apakah ibu tahu di mana Rangga pindah sekarang ? “
“ Oh kalau itu saya sih tidak tahu di mana . Mohon maaf ya , Nak . “
“ Kalau begitu tidak apa – apa . Saya mau ngucapin terima kasih ibu sudah memberitahu banyak informasi . Mohon maaf juga bu kalau ngerepotin . “
“ Ya sama – sama , Nak . Kalau begitu ibu pamit ke belakang dulu ya .”
“ Ya silakan bu . Sekali lagi terima kasih banyak . “
Ibu tersebut akhirnya masuk ke dalam rumah dan tinggallah Armand sendiri . Dia begitu bingung ke mana lagi dia harus mencari Rangga . Dia t’lah habis ide bagaimana lagi caranya agar dia bisa menemukan Armand .
Sambil memegangi kepalanya yang sudah panas , tiba – tiba Handphone nya berbunyi .
“ Haduuh ngapain lagiini anak pake nelpon segala . Udah tahu orang lagi bingung . “ Rangga jengkel .
“ Hallo ada apa sih Len ? Gua lagi sibuk nih ! “ Armand mengangkat panggilan telepon Lenni dengan perasaan kesal .
“ Hallo , ARMAND ! RANIA DICULIK ! “
“ APAA ?!! “
            “ RANIA DICULIK ?! “
            “ IYA MAND , POKOKNYA KAMU DATANG DEH KE SINI ! “
            “ Iya iya , aku segera datang ke sana ! “
            Armand segera menstarter sepeda motornya dan tidak membutuhkan waktu lama dia pun pergi . Armand mengkhawatirkan keadaan Rania dengan begitu labil dan goyah , pasti ada orang – orang jahat yang memanfaatkan keadaannya tersebut untuk memerasnya , tetapi dia mencoba tetap berpikir positif berharap Rania tidak mengalami apapun .
            Tibalah Armand di kost Lenni . Armand yang melihat Lenni sedang berdiri di depan pintu kostnya , langsung mendatangi Lenni .
            “ Kenapa bisa terjadi seperti ini , Len ? “
            “ Aku juga gak tahu , Mand . Sudah dari semalam Rania gak pulang . Padahal dia pamit samaku mulai dari jam 11 siang . “
            “ Semalam aku sama dia habis jalan – jalan ke taman kota dan kuantar pulang dia sampe ke komplek kost-kostan sini , kok . “ tutur Armand .
            “ Haduh Mand , ini gawat banget , Mand . Gawat ! “
            “ Gawat kenapa ? “
            “ Orang tua nya Rania udah tahu kalo dia ada di sini kalo sampai orang tua nya tahu kalau Rania diculik , bisa habis kita . “ Lenni terlihat cemas .
            “ Kapan orang tuanya datang ke sini ? “
            “ Aku gak tahu , mungkin besok . “
            “ Ya sudah kalau orang tua nya sudah datang ,kamu telpon aku , biar akusaja yang ngomong sama orang tua nya . Aku mau pergi dulu ke kantor polisi . “
            “ Ok lah , cepat – cepat kaulapor ke polisi . Aku sebagai temannya juga khawatir sama keadaan nya , Mand . “
            “ Kalau gitu aku pergi dulu ya , Lenn . “ Armand pamit .
            “ Ok hati – hati , Mand . “
            Armand kembali menstarter sepada motornya untuk segera pergi dari kost Lenni menuju kantor polisi . Ketika dalam perjalanan , Handphone Armand berdering .
            “ Ini siapa lagi ?! Pake private number segala ?! “
            Armand memindahkan sepeda motornya ke pinggir jalan dan mengangkat Handphone nya .
            “ Halo ? “
“ ARMAND ! TOLONG AKU ARMAND ! LEPASKAN AKU !BAJINGANN  ! “ jerit Rania dalam telepon .
“ RANIA ?! HALO RANIA ?! KAMU DI MANA SEKARANG ??! “ Armand berkali – kali berteriak tapi tak terdengar lagi suaranya .
            “ HALO RANIA ... “
            “ Apa kau sudah mendengar suara teman mu ? “ suara misterius itu muncul dari sambungan telepon nya .
            “ HEH KUKASI TAHU SAMAMU , JANGAN SEKALI – KALI SENTUH TEMENKU , KALO SAMPAI KAMU SENTUH DIA , KAMU BAKAL NGERASAIN AKIBATNYA ! “ gertak Armand .
            “ Tenang ... tenang aku gak akan apa - apakan temanmu , kamu masih mau kan lihat teman mu selamat kan ? Itu soal gampang asalkan ... “
            “ ASAL APA ??!! “
            “ Kamu harus datang sendiri ke Nias tepatnya pulau Hinako , kutunggu 3 x 24 jam dan ingat jangan sampai membawa polisi . Kalau kamu tidak menepatinya , maka ... “ seraya dengan perkataan itu putuslah sambungan Handphone nya .
            “ APA YANG MAU KAMU LAKUKAN ?!!! HALOO !!! “
            “ AKH , SIAL !!! “
            Mendengar ancaman yang diberitahu penculik itu padanya , Armand mengurungkan niatnya melapor ke pada polisi . Dia berbelok menuju arah rumah nya untuk memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Rania .
            Sesampainya di rumah , Armand tercekat . Ia seperti mendapatkan firasat tentang penculikan Rania .
            “ Tunggu dulu ! Bagaimana penculik itu bisa tahu nomor ku ? dan dia bilang pulau Hinako ? dan apa maksud di balik dia menculik Rania , apa ini ulah ... ? “
            Semua praduga itu kini berputar dan membayangi pikiran Armand . Tetapi Armand menepis prasangka buruk tersebut dan menenangkan dirinya .
            “Gak mungkin ini ulah Rangga . Pasti ada ulahseseorang yang mau ngancurin hubungan persahabatan kami bertiga . Yah , aku yakin . “
            Armand juga menimbang jika dia terus – terusan mengambil libur cuti maka itu akan mengganggu pekerjaannya .Akhirnya , Armand menetapkan pilihannya bahwa dia akan berhenti dari pekerjaannya . Keputusan yang berat bahwa dia akan berhenti dari tempat kerja yang selama ini menghidupinya .
            Sekarang jarum jam dinding menunjukkan 17 .30 , kafe tempat dia bekerja t’lah buka . Waktunya untuk Armand pergi untuk mengajukan surat pengajuan pengunduran diri .
            Setelah melalui perjalanan 30 menit akhirnya sampai jumpa dia tempat kerja nya . Ada rasa deg – degan dan takut untuk menghadap sang direktur , tapi disingkirkannya perasaan itu demi keselamatan sahabatnya , Rania . Tak butuh waktu lama , sang direktur menerima surat pengajuan pengunduran diri dan menerima pesangon nya . Tak tersirat tatapan sinis dan kata – kata pedas keluar dari mulut direkturnya , dia menerima dengan terbuka pengunduran diri Armand .
            Armand sudah selesai dengan urusan pengunduran dirinya , kini tiba saat dia harus membeli apa yang menjadi kebutuhan nya selama dia berpergian ke Nias tepatnya ke pulau Hinako, apakah itu makanan , minuman , atau hal yang lain – lain .
            Dua jam sudah Armand menghabiskan waktunya di luar rumah , kini di sampai di rumah nya . Satu hal yang baru teringat dia harus membayar uang kontrakan nya dan lagi surat pengunduran diri dari kuliah . Dua hal yang membuat dia harus berpikir matang – matang setelah dia mengundurkan diri dari pekerjaan nya . Armand harus cepat mengambil tindakan karena waktu yang diberikan kepada nya hanya 3 x 24 jam , jika dia tidak bisa ke sana tepat waktu , maka hal buruk bisa saja terjadi pada Rania .
Mentari pagi terbit , jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi , Armand sudah membereskan semua barang bawaan nya dan tiba waktunya dia pergi ke rumah sang pengontrak . Selesai sudah urusannya dengan sang pengontrak rumah , kini tinggal satu urusan lagi mengajukan surat pengunduran diri kepada rektornya . Berbagai negosiasi yang t’lah diutarakannya kepada sang rektor dan surat pengajuannya akhirnya diterima oleh sang rektor .
Armand langsung cepat bergegas menuju bandara agar dia tidak ketinggalan jadwal penerbangan ke Nias . Dengan menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya sampai juga di bandara dan segera menuju ke bagian petugas tiket .
Untung masih ada satu tiket dengan transit penerbangan Medan – Gunung Sitoli , Nias tetapi dia harus menunggu selama 2 jam lagi menunggu pesawat datang . Sambil menunggu , Armand memainkan Handphone nya . Di tengah keasyikan nya bermain handphone , ada panggilan masuk ke handphone nya .
            “ Lenni ? Ada apa dia menelpon ke sini ? “ kata Armand sambil mengangkat handphone nya .
            “ Halo Len . Ada apa ? “
            “ Halo , Mand . Orang tua nya Rania sudah mau datang nih . Sekitar 20 menit lagi . Apa yang mau kubilang nanti sama orang tuanya ? “ ujar Lenni yang terdengar khawatir .
            “ Begini , kamu bilang saja yang sebenarnya kalau Rania diculik , tapi kamu ngasih tahu nya baik – baik dan bilang sama orang tuanya Rania buat ngelapor polisi . Udah dulu ya , Len , aku gak punya banyak waktu . “ sambil mematikan handphone nya .
            Dua jam tlah terlewati , pesawat dengan tujuan Gunung  Sitoli – Medan  t’lah mendarat di bandara . Sudah waktunya Armand bergegas membawa perlengkapannya menuju bagasi pesawat untuk pengepakan . Ketika dia sedang berjalan , sebuah pesan singkat masuk .
            Waktu kamu tinggal 2 hari 13 jam 29 menit lagi , pastikan tidak ada orang yang bersamamu saat ini , dan sebaik nya kamu cepat, jika kau tidak mau terjadi apa – apa dengan teman mu ...
            Armand membaca SMS tersebut dengan perasaan geram dan kesal , karena isi SMS tersebut mengancam nya agar dia cepat sampai di sana dan sangking kesalnya dia menghapus SMS itu dan mempercepat langkah kaki nya menuju ke pesawat .
            Pesawat itu sudah mengudara  setelah beberapa menit dan Armand duduk di tempat yang t’lah tertulis pada tiketnya . Armand berolahraga kecil untuk mengendurkan sedikit otot – otot tegang setelah lelah berurusan dengan pekerjaan dan perkuliahan yang baru saja ditinggalkannya . Terasa jenuh sekali menyelesaikan semua dalam 1 hari ini , tapi rasa tentram dalam hati belum muncul kala Rania masih diculik dan belum tahu bagaimana keadaannya serta mencari kebenaran siapa di balik ini semua .
            Armand mencoba menggerakkan kaki nya ke kiri dan ke kanan , menggerakkan kepala nya ke atas dan ke bawah untuk menghilangkan kebas dan pegal . Ketika Armand menggelengkan kepala nya ke kiri , dia melihat sepasang kekasih sedang asyik bercanda mengingatkan dirinya bersama Rangga dan Rania saat bepergian ke pulau Hinako . Kini tersisa hanya dirinya seorang , hanya bisa terpaku dengan kemesraan mereka .
            Satu setengah jam perjalanan , Armand pun sampai juga di bandara . Suasana di bandara tak terlalu ramai , tak seperti tahun baru kemarin , hanya sedikit orang yang bepergian , termasuk dirinya .
            Setelah mengambil barang bawaannya , Armand berjalan ke luar bandara untuk mencari angkutan umum menuju desa Baturaja . Menaiki angkutan itu teringat Armand saat bersama Rangga dan Rania . Rania yang belum pernah naik angkut merasa sesak dan panas , Armand memberikan kipas kain dan Rangga mengejeknya
            “ Makanya sekali – kali , coba donk naik angkutan umum . Jangan terus – terusan diantar jemput sama supir pribadi . “
            “ Sebetulnya mau coba naik angkutan sih , tapi bapakku ngelarang aku , katanya demi keamananku . Maklumlah aku kan anak semata wayang , jadi harus dikasih perhatian ekstra donk... “
            “ Jadi kalo diajak naik angkot lagi kapok enggak ? “ sambung Armand .
            “ Kapok sih , tapi kalo nggak ada kalian berdua . “ jawab Rania .
            Mendengar jawaban dari Rania , membuat ketiganya tertawa  . Sungguh suasana yang sangat dirindukannya , penuh keceriaan , canda dan tawa .
            “ Mungkin sekarang kita bertiga tak bisa tertawa lagi seperti liburan kemarin , Rania . “ kata Armand dalam hati .