Friday, 5 June 2015

The Last Holiday ( Part 4 )



Topeng terungkap
Masih dalam suasana pikiran yang kacau , mereka masih berusaha mencari Rahel yang hilang tadi malam . Tiba – tiba , Satrio tercekat , ia seperti ingin mengatakan sebuah ide .
“ Eh Sat , aku punya ide . “ kata Raka .
“ Ide apa ? “ tanya Satrio .
“ Biar lebih cepat , kau cari bantuan warga desa dari luar pulau ini &aku akan cari di mana Rahel dan lain – lainnya disembunyikan .” tegas Raka .
“ Aku masih ingat sedikit tapi jaraknya lumayan jauh , Rak . Apa sebaiknya kita cari bantuan dulu baru mencari tahu di mana persembunyiannya ? “ tanya Satrio .
“ Gak, gak ada cara lain . Aku yang mencari mereka dan kau datang dengan bantuan begitu aku sudah temukan teman – teman dan dalang di balik ini semua . “ tukas Raka .
“ Hem , ya sudahlah , aku mau kok , asal kau bisa jaga diri baik – baik , Rak . Bisa kan ? “ tanya Raka .
“ Kalo itu sih kau gak usah khawatir .Aku bisa  jaga diri kok . Kupastikan teman – teman kita ditemukan dalam keadaan selamat . “ Raka berusaha meyakinkan sambil menepuk bahu Satrio .
“ Kalo begitu , duluan ya , Rak . “ Satrio pergi dari hadapan Raka .
Raka pun juga pergi . Ia masuk menyusuri pedalaman hutan dan Satrio mencoba mengingat dan mencari jalan menuju desa Baturaja .
Satrio dalam perjalanan , entah mengapa ia berhenti mendadak .
“ Aduh aku udah beneran lupa jalan mau ke desa itu . Gimana nih ?! “ Satrio panik .
“ Tapi untuk kali ini aku gak boleh nyerah , pasti si Raka juga lebih bersusah payah buat nemuin tempat di mana teman – teman kami disembunyikan . “ Satrio berusaha menguatkan dirinya .
“ OK lah perjalanan harusdilanjutkan . “ kata Satrio .
Setelah berpikir panjang , akhirnya Satrio memilih jalan kecil yang ada di sebelah kirinya dan melanjutkan perjalanan .
Ternyata si sosok misterius itu mengikutinya perlahan – lahan dari belakang . Perlahan tapi pasti si pembunuh itu mengikuti Satrio dengan sangat hati – hati , mengatur langkah gerakan kakinya agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan .
Satrio berhenti sejenak ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang .
“ Kayak ada yang ngikutin ... “ iamenoleh ke belakang .
“ Ah gak ada ... “ Satrio melanjutkan perjalanan .
Satrio tak tahu bahwa dia menyelinap di balik pohon . Satrio melanjutkan perjalanannya sementara itu , si sosok tersebut masih saja mengikutinya . Terus berjalan dan mengatur langkah kakinya agar tidak menginjak sesuatu yang akan mencurigakan targetnya . Dan ternyata si sosok tersebut tak sengaja menginjak ranting kayu kering sehingga terdengar bunyi yang membuat Satrio menengok ke belakang .
Kraak ...
            “ Siapa itu ?! “ sentak Satrio .
“ Kayak yang ada nginjek kayu . “ Satrio menoleh lagi ke belakang .
            “ Hm , kayu ini patah seperti ada yang menginjak nya .. “
Satrio berjalan ke belakang dan dia melihat potongan kayu kering patah tersebut sambil berlutut sedikit .  Saat dia berlutut , semak – semak yang ada di depan nya , kurang lebih 7 meter , mengeluarkan suara gemerisik .
Sreikk ... Sreikk ...
            “ Suara itu asalnya dari dalam semak – semak itu .. “ kata Satrio dalam hati sambil mendekati semak – semak itu dengan sangat hati – hati .
            Perlahan – lahan dan akhirnya dia sudah ada di depan semak – semak itu .
            “ Syuungg “ suara tebasan pedang membelah sesuatu yang ada di depan nya ...
Di tempat Raka
“ Tak kusangka hutan ini dalam juga . Agak lebat . “ kata Raka dalam hati sambil menyisir tanaman yang ada di depannya dengan parang  di tangannya .
Sambil terus menyisir , Raka mengingat perkataan pak supir yang t’lah mencoba mengingatkan dia dan teman – temannya agar tidak mendekati pulau itu tapi mereka malah mengabaikannya . Dan sekarang , mereka menanggung akibatnya . Hilang satu per satu , tanpa ada meninggalkan jejak berarti dan hanya tersisa Raka sendiri . Dia harus berjuang mencari tahu apa yang terjadi dengan semua teman – teman dan juga mencari tahu misteri apa yang tersimpan di balik pulau itu .
Penyesalan semakin menyesakkan dada Raka . Tak tertahankan . Tetesan air mata pun mengalir dari kelopak mata Raka . Jika saja dia bisa bersikap lebih tegas untuk membatalkan rencana mereka untuk liburan ke pulau itu pasti takkan begini kejadian nya . Biarlah semua teman – temannya kecewa padanya , tapi mereka semua dalam keadaan selamat . Kini sudah terlambat menyesalinya , yang hanya bisa dilakukan ialah menemukan titik terang .
Saat dirinya masih termangu , dia melihat sebuah bangunan rumah tapi tak terlalu besar .
“ Apa itu ? apa sebuah bangunan ? “ kata Raka sambil mencoba memotong lagi agar terlihat jelas apa yang ada di depan nya .
“ Oh ya jelas sekali . Memang sebuah rumah . Tapi rumah siapa ini ? Apa rumahnya bang Armand ? Tapi seingatku rumah bang Armand agak jauh dari pulau ini . “ pertanyaan – pertanyaan itu bermunculan di pikiran Raka .
Raka pun mendekati rumah itu dan membuka pintu nya yang ternyata tidak terkunci . Raka pun masuk ke dalam rumah itu dan ternyata ruangannya tak terlalu luas , terlihat hanya sebuah kayu besar dan sebuah bingkai foto .
“ Foto siapa ini ? Mirip sekali dengan Rahel ! “ Raka terkejut .
“ Sebenarnya siapa pemilik dari rumah ini ?! “ Raka semakin penasaran .
Dan kemudian , Raka melihat sebuah pintu , seperti pintu menuju ruang bawah tanah . Raka membuka pintu itu dan masuk dengan sebuah anak tangga yang telah terpasang sampai ke bawah .
Raka t’lah masuk ke sebuah bungker yang luas . Ia terperangah melihat luasnya bungker itu .
“ Wah ... “ Raka ternganga sambil mengagumi dalam hati dan terheran bagaimana bisa sebuah bungker seluas ini dibangun dan siapa pula orang yang membangunnya .
Belum hilang rasa penasarannya itu , seseorang t’lah keluar dari sebuah ruangan . Ia menggunakan topeng , celana jeans hitam , dan kaus berwarna hitam .
“ Wah ada tamu rupanya . “ kata orang tersebut .
“ Siapa kamu ?! Apa kamu pemilik rumah ini ?! “ Raka mengambil sikap was – was .
“ Ohoh jangan galak seperti itu . Aku sebenarnya yang mengundang kamu untuk datang ke sini . Waktu yang tepat sekali ! “ tawa orang tersebut .
“ Mengundang ?! Jadi kamu yang menulis surat itu ?! pekik Raka .
“ Surat merah itu ? Ya benar sekali . Teman – teman mu memang sudah lama sekali menunggu kedatanganmu . “
“ Kalau begitu di mana mereka sekarang ?! Cepat katakan di mana mereka sekarang ! “ teriak Raka .
“ Sudah kubilang tahan dulu emosimu . Coba kau lihat papan nisan ini . “ Diasedikit menunduk dan menyusun beberapa papan nisan itu . Raka tertegun melihat nama – nama yang tertera di sana .
“ Jadi .. Kamu yang ... “ Sambil melihat nama teman – temannya yang tertulis di papan nisan itu .
“ Hm , tapi kamu ingin tahu kan di mana dua orang teman mu yang sedang kaucari ? “ tanya orang itu .
Dia berjalan dan  membuka sebuah pintu , ternyata di sana terlihat Rahel : badan& kakinya sudah terikat oleh tali tambang , mulutnya dibekap dengan kain ; Agun juga demikian . Badan , tangan , dan kakinya juga terikat dan mulutnya juga di sumpal .
“ KAU JAHANAM ! KETERLALUAN ! “ pekik Raka .
“ Egh , ini juga sebenarnya salahmu . Jika kau datang lebih cepat pasti kau masih bisa melihat teman - teman mu yang lain dalam keadaan selamat , tapi aku juga masih berbelas hati pada kedua temanmu ini .”  katanya sambil berjalan dan mengelus – elus pipi Rahel dan memegangi kepala Agun , keduanya terlihat pingsan .
“ARRGH ! KAUUUU ! “ Raka berlari sambil mengepalkan tinju di tangannya . Dia sudah takkan bisa menahan kesabaran lagi melihat apa yang sudah dilakukan kepada teman – temannya .
“ BAJINGANNNN !!! “ Emosinya terlepas bersamaan dengan tinju yang mengenai topeng nya . Saking kuatnya pukulan itu , badannya pun terdorong hingga mengenai dinding dan tubuhnya pun jatuh bersandar .
“ Uhh , hebat sekali kau bisa merobohkanku dengan satu pukulan saja . “ sambil menyingkirkan pecahan topeng itu dan mencoba berdiri .
“ Tapi aku juga tak bisa tinggal diam . Kupastikan kedudukannya akan berubah . “ akhirnya topeng yang melekat di wajahnya sudah dilepaskannya .
Raka tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang dan seolah tak mampu berkata .
ARMAND !
“ Bang .. Armand ?! Tapi kenapa ...!? “ Raka masih tercengang .
“ Tidak usah heran begitu , tapi tak apa – apalah . Kalian hanya melakukan satu kesalahan kecil yang fatal . “ Armand terkekeh .
“ Kesalahan apa ? Apa yang kau maksud dengan kesalahan ?! “ pekik Raka .
“ Kalian .. datang ke pulau ini ... “ kata Armand datar .
“  Kau gila ! Jadikau membunuh semua teman - temanku hanya karena kami datang , hah ?! “ pekik Raka .
“ Lebih tepat nya kalian itu mengganggu ! Kalian t’lah mengusik ketenangan Rania di pulau ini ! “ kata Armand .
Raka seolah - olah berpikiran bahwaRania yang dimaksudkan Armand adalah sosok hantu perempuan yang mereka jumpai kala mencari keberadaan teman mereka yang hilang di tengah hutan .
“ Jadi hantu perempuan itu adalah Rania ! Rania adalah hantu perempuan suruhan mu yang kauperalat supaya bisa menakuti kami dan pergi dari pulau ini , bukan begitu ?! “ tanya Raka .
“ Dugaanmu itu salah besar . Lagi pula aku sama sekali tidak tahu- menahu kalau memang ada hantu di pulau ini . “ Armand menyanggah .
“ Jadi apa yang sebenarnya terjadi ?! Jangan mempermainkan aku ! ” Emosinya sudah menumpuk di ubun – ubun . Tapi ditahannya , karena dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungannya , Rania & pulau itu sebagaimana yang t’lah dikatakannya .
“ Sebelum aku membunuh kalian semua , ada baiknya aku bercerita sedikit kepada kalian tentang aku , Rania & hubungan nya dengan pulau ini . “ Sambil mengawali ceritanya .
2 tahun lalu ...
            Di ruang tamu , nampak seorang laki – laki sedang bersantai memainkan alunan nada di gitar . Jari jemarinya begitu lihai memindahkan jari – jarinya sesuai dengan petikan . Suara merdu mengiringi permainan gitarnya selaras dengan petikan nada pada bunyi senarnya .  Nada handphone berbunyi menandakan ada panggilan masuk ke handphone nya .
“ Halo Rang . Ada apa ? “ tanya Armand .
“ Kamu udah berangkat belum di sana ? Lumayan lama nih kami berdua nunggu .?! “ kata Rangga .
“ Oh iya iya . Ini lagi di jalan .” kata Armand .
“ Cepat sikit ya , bro . Ada hal yang penting mau aku omongin sama kalian berdua . “
“ Ok . Gua pasti datang kok . Tapi elu berdua di kafe biasa tempat kita nongkrong kan ? “ tanya Armand .
“ Ya Iya . Maka nya cepat . “ kata Rangga sambil menutup handphone .






Wednesday, 3 June 2015

The Last Holiday ( Part 3 )



Pedang Berdarah
Hari sudah semakin gelap . Matahari terbenam di ufuk timur .Burung – burung camar sudah pulang ke sangkar mereka masing – masing tapi Agun tak juga menampakkan dirinya sampai detik ini .
“ Wah , gawat ni anak , udah mau gelap tapi batang hidungnya pun gak ada keliatan , jangan – jangan ... “
Raka pergi ke tenda dengan rasa panik . Ia melihat teman – temannya saling melempar gurauan di antar api unggun .
“ Woy , lagi ngapain kalian semua ? Ayo bantuin aku nyari si Agun , perasaanku udah gak enak ini ... “kata Raka yang terlihat cemas .
“ Jadi yang menjaga tenda siapa ? “ sahut Anna .
“ Ya udah , kau, Rahel sama Satrio jagain tenda , Gue sama Fachry nyari si Agun , bisa kan ? “
“ Ya bisa , asal ada cewek aja ,aku mau kok , Rak . “ kata Satrio tertawa sambil bermain mata dengan Anna .
“ Eh dasar mesum . “ ketus Anna .
“ Chry , kau mau kan nemenin aku nyari Agun ke hutan ? “
“ Ok lah Rak , demi sahabat – sahabatku , apa sih yang gak bisa buat kalian . “ jawab Fachry .
“ Ok kita cabut . Oh ya , aku bawa senter , kau bawa obor . “ Raka sambil menyerahkan obornya pada Fachry .
“ Kami pergi ya teman – teman ! “ kata Fachry .
“Yooo “
Di perjalanan , mereka berdua tidak membuka percakapan , baik dari Fachry  maupun dari Raka . Mereka masih berkonsentrasi mencari Agun . Raka menyinari sekelilingnya dengan senter yang ada di tangannya begitupula dengan Fachry . Fachry begitu penasaran ke mana Agun pergi , mencoba bertanya pada Raka .
“Ngomong – ngomong , tadi si Agun mau pergi ke mana , Rak ? “ tanya Fachry .
“ Tadi dia pamit pergi ke dalam hutan , katanya mau cari kayu bakar . “ jawab Raka .
“ Dia gak ngasih tahu samamu berapa lama dia di hutan ? “
“ Sebenarnya aku mau nanya itu , Chry , tapi dia nya udah keburu pergi . “
“ Hmm itu anak susah banget sih memahami isi hatinya . “
“ Ya udah kita fokus buat mencarisi Agun sekaligus si Vinna . “ kata Raka
“ Fokus sih fokus , lihat udah mulai gelap, suasana angker nya hutan ini kerasa banget Rak . “
Ketika mereka sedang serius dalam perbincangan , sesosok bayangan putih mengikuti mereka
“ Rak , kau ngerasain gak ada yang ngikutin kita dari belakang ? “
“ Ah kau , coba cek dulu “ Raka sambil menengok ke belakang .
“ Ah gak ada kok Chry ,mungkin cuma perasaanmu doang kali . “ Raka berusaha memastikan .
“ Apa mungkin ya ? Ah iya kali . “ sambil melanjutkan perjalanan
Dan setelah beberapa menit mereka berjalan , sesosok bayangan putih itu kembali mengikuti mereka .
“ Ckkk , perasaanku udah gak enak banget Rak , kayaknya tuh ada yang ngikutin kita terus dari tadi . “
“ Ah ngaco kau , Chry , mana mungkin ada yang ngikutin kita ?Kau itu cowok atau cewek sih , penakut banget ?! “
“ Bukannya begitu Rak , coba liat bulu tanganku berdiri semua . “ sambil menunjukkan bulu tangan nya yang berdiri .
Tanpa mereka sadari bayangan putih itu sudah ada di belakang mereka dan sosok tersebut menyentuh leher Raka .
“ Ssstt , tanganmu dingin banget Chry , habis megang apaan sih ? “
“ Megang ? Megang apaan ?! “
“ Tanganmu megang leherku ?! “
“ Megang lehermu apaan ?!Aku gak ngerti maksud mu ?! Dari tadi tangan ku gak nyentuhmu sama sekali , sumpah deh  . “
Sosok tersebut kembali menjahili Fachry dengan mengusap lehernya .
“ Ssssttt , iiiii . dingin Rak , dingin . “ sambil menggerak – gerakkan leher nya .
“ K’napa Rak ? Kok kayak orang kegelian gitu ? “
“ Entahlah , kayak ada orang lagi ngusap leherku juga , Chry . “
“ Wah , ini mulai gak bener nih Rak , jangan – jangan ... “
“ Ah ini nih , hobbymu kebanyakan nonton film horor , jadi parno sendiri kan ? “
“ Kamu ini susah sekali diberitahu , rak . Nih , aku mau membuktikan kalau di belakang kita pasti ada sesuatu ... “ Fachry menoleh perlahan ke belakang .
“ Ada ....
“ Ada apa , Chry ? “ tanya Raka .
Fachry tak sanggup memberi tau apa yang terjadi kepada Raka .
“ Ada apa ?! “sangking kesalnya , Raka pun menoleh ke belakang .
Keduanya diam mematung seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat .
Sosok tersebut sudah ada di depan mata mereka . Sosok perempuan berpakaian putih kumal berambut panjang . Rambutnya itu menutupi bola matanya yang putih menyorot tajam ke arah mereka .
“ SETANNNNN !!!!!!!! “
Mereka berlari pontang – panting tanpa arah saking takutnya .
Akhirnya mereka sampai ke tenda dengan napas ngos – ngosan dan keringat bercucuran di dahi mereka begitu banyaknya .
“ Eh ... eh kalian semua kenapa , kayak abis kejar setan? “ tanya Satrio .
“ Hah ... Hhhaaahhh .... a...a...ada setan , Sat . “ napas tersengal .
“ HAH ! ADA SETAN ! DI MANA ?! “ mereka bertiga sontak terkejut .
“ Mendingan kalian semua masuk ke dalam tenda ! tutup rapat – rapat ! jangan sampai hantu itu masuk ke tenda . Ngerti ?! “
Akhirnya mereka semua masuk ke tenda , mentup rapat – rapat pintu tenda masing – masing . Mereka pura – pura tidur , menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut tebal , pikiran mereka diliputi rasa ketakutan sepanjang malam manakala hantu tersebut datang .
Mentari pagi sudah menerangi di tenda mereka , tapi satupun dari mereka tak ada yang mau keluar .
“ Eh Sat , coba cek kondisi di luar tuh hantu udah pergi blum ? “ suruh Fachry .
“ Yah kau Chry , tahunya cuma nyuruh orang aja . Kalo berani cek sana. “
“ Jangankan kau , aku aja gak berani , makanya aku nyuruh kau ... “
“ Ah udah – udah , ribut kalian semua . Ya udah aku aja yang ngecek di luar . “
Perlahan – lahan tapi pasti Raka membuka resleting tenda dengan hati- hati dan pintu tenda itu terbuka dan perlahan juga kepala Raka muncul keluar dan akhirnya badannya  keluar dari tenda .
Pelan – pelan Raka melangkah dari tenda dan dirinya dikejutkan oleh seseorang  muncul dari samping tenda .
“ Ah abang ini , ngagetin aja ! “ kata Raka sambil mengelus dada .
“ Kamu ini kenapa sih , ketakutan begitu . Mana teman kamu yang lain ? “ tanya abang Armand .
“ Lagi di tenda semua , Bang . Takut itu hantu datang ke tenda kemah . “
“ Hantu ? Hantu perempuan itu datang ke tenda ? “
“ Sebenarnya gak datang ke tenda cuma kami berdua yang berjumpa sama hantu itu . “
Satrio mengintip dari balik resleting tenda untuk mengetahui apa yang terjadi di luar . Melihat suasana mulai kondusif , Satrio mulai keluar dari dalam tenda , dikuti oleh teman – teman yang lain .
“ Kalian jumpa di mana ? “
“ Di hutan , waktu kami nyari kawan kami yang hilang . “
“ Hilang ? hilang kenapa ? “
“ Ya bang , Agun , teman kami . Udah dari semalam gak pulang – pulang ke tenda . Dia pamit katanya mau ngambil kayu . Kami sudah cari sampai kami harus jumpa hantu , dia hilang kayak di telan bumi . “
“ Hmmm ... Abang sebenarnya sulit mengatakan hal ini tapi kalian .... harus cepat meninggalkan pulau ini .... “ perkataannya mendatar .
“ Meninggalkan pulau ini ...?! “ begitu juga dengan Raka yang seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bang Armand .
“ Eh , bang , jangan keenakan ceplos donk , kawan kami udah dua hilang di pulau inidan sedikitpun kami gak dapat petunjuk yang berarti tentang keberadaan mereka . Kami harus menemukan mereka , hidup atau mati ! “tegas Fachry yang juga mendengar perkataan bang Armand .
Bang Armand pun terdiam mendengar perkataan Fachry begitu pula dengan Raka dan teman – teman nya .
“ ... Maaf jika kata – kata abang terlalu spontan untuk kalian jadi suatu keputusan , tapi ini juga merupakan hal yang penting mengingat hantu itu merupakan hantu ganas , tak mudah kalian menghadapinya , lagipula sama saja nyawa kalian akan terbunuh sia – sia di pulau ini ... “
“ Ya memang itu konsekuensinya , aku juga setuju yang Fachry bilang . Kita akan cari mereka sampai ketemu , bukannya begitu , kawan - kawan ? “
Semua mengangguk pertanda setuju dengan apa yang dikatakan Satrio .
“ Hmm ya sudahlah , kalau ada hal yang mendesak segera hubungi abang , aku mau pergi dulu ada urusan mendadak . “ Armand mengangkat tangan .
“ Ok ... “ jawab Raka .
“ Ya sudah , kita beres – beres tenda dulu , Anna sama Fachry cari kayu bakar sama sumber air , biar aku , Satrio sama Rachel yang ngurus soal makanan , bisa kan ? “
“ Oh bisa kali pun , tapi si Anna nya mana ? “ kata Fachry
“ Ini aku lagi di dalam tenda , aku lagi ngambil jeregen buat nampung air . “ seraya keluar dari tenda .
“ Ayok kita pergi ... “ ajak Fachry
“ Kita pergi ya Raka ! “ pamit Anna .
“ Ya . Hati – hati . ”
Dalam perjalanan , keduanya tampak begitu akrab . Fachry sekali – kali melemparkan candaan kepada Anna . Anna pun membalas dengan tawa kecil menanggapi lelucon yang dikatakannya . Kini , mereka sudah memulai pembicaraan yang serius .
“ An , ngerasain gak ada sesuatu yang disembunyiin sama bang Armand tadi ? “
“ Disembunyiin apaan ? “ tanya Anna .
“ Mukanya tadi seperti mencemaskan sesuatu. Apa itu sebabnya dia menyuruh kita cepat pergi dari pulau ini atau ada hal lain yang berhubungan dengan hilangnya teman – teman kita ? “
“ Heh , jangan berprasangka buruk dulu deh , kita kan gak punya bukti apa – apa buat menuduh dia yang enggak – enggak , gak baik menuduh sembarangan . Lagipula kelihatannya dia orang yang baik kok . “
“ Yah aku cuma berspekulasi saja , bukan bermaksud menuduh , aku juga berharap kenyataannya gak seperti itu . Eh ngomongin soal kenyataan , kayaknya kita sudah lewat dari sumber air nya nih ? “ Fachry bingung .
“ Kayaknya iya nih , sudah kelewatan . Kita sih , ngobrolnya keenakan banget . Mana udah jauh banget lagi . “
“ Udahlah kalau begitu kita cari di sini aja , aku ke sana&kamu arah ke sana . “ kata Fachry sambil menunjuk arah Utara – Selatan .
“ Tapi sebelum kita pergi ini kuberikan seplastik beras buat pertanda arah siapa tahu kamu kenapa-napa jadi aku bisa datang ke tempatmu . “ Fachry sambil memberikan beras tersebut .
Akhirnya mereka berpencar dan Anna mulai menaburkan berasnya sebagai penunjuk jalannya .
Anna menemukan sumber air yang dia cari dan segera menyiapkan jeregen yang dibawanya untuk menampung air yang ada .
Di saat sedang mengisi air , Anna sudah merasakan firasat buruk di tempatnya mengisi air . Namun , itu semua tidak terlalu dipedulikannya , sampai suara gemerisik dari dalam semak – semak liar mengganggu konsentrasinya .
Srriik ... Srriikk ... ssriikkk ...
Awalnya Anna tidak menghiraukan suara berisik itu tetapi suara berisik itu semakin mendekat dan membuat Anna sedikit was – was . Anna mulai terganggu dengan suara itu , mencoba memberanikan diri melihat apa berada dalam semak liar itu .
“ Gak ada apa – apa ... “ ujarnya sambil berjalan .
“ Tapi , ... Kenapa beras – beras ini berhamburan dan s’perti ada yang mengacak – acak nya , tapi siapa ? “ batinnya .
“ Apa jangan – jangan binatang buas tapi acakannya tidak seperti diacak oleh binatang buas atau mungkin ...”
“ Ah gue pergi aja deh dari sini ... “ sambil cepat – cepat membawa jeregen air .
Belum sempat membalikan badan setengahnya, sebilah besi tajam bermata dua sudah menembus dadanya , Anna memuntahkan darah segar dari mulutnya .
CRATS !!
“ AOKH !! “
Pedang itumembuat dia tak berdaya . Menusuk jantungnya .  Anna tak mampu bertahan , ia menjatuhkan jeregen yang ada di tangan nya . Kakinya sudah goyah dan lemas , lututnya sudah tak mampu menopang badannya .
“ kamu ...... “ lirih Anna .
SRATT !
            Pembunuh misterius itu mencabut pedangnya dari tubuh Anna . Tubuh malang Anna jatuh mencium tanah ,darah kentalmenggenang & mulai meresap ke dalam tanah , di tempat dirinya t’lah ‘dieksekusi’ oleh sosok misterius itu
            Mendengar suara seperti seseorang tertusuk senjata tajam , Fachry berpaling dan melihat temannya tergeletak .
“ ANNA ! “
Fachry langsung bergegas ke sana dan orang misterius itu menghilang .
Akhirnya ia datang dan melihat temannya tewas secara mengenaskan dengan luka tusuk di dada . Tak terbendung lagi air mata Fachry begitu mengetahui temannya t’lah tewas dibunuh .
Fachry segera berlari menuju tenda terburu - buru , berharap agar dia bisa tiba di tenda dan memberi tahu teman – temannya agar mereka segera pergi dari pulau ini . Secepatnya !
Sambil berlari mencari jalan keluar dari hutan rimbun tersebut , ternyata diam – diam pembunuh misterius itu mengikutinya dari b’lakang . Saat berlari , Fachry terjatuh , kakinya tersandung akar pohon .
Tak menyia - nyiakan kesempatan yang ada , pembunuh misterius itu sudah ada di belakang nya dan Fachry mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya besar !
“ Siapa kamu ?!!! “ pekik Fachry .
“ Kamu tak perlu tahu , yang perlu kamu lakukan adalah menyiapkan diri untuk menyusul teman – temanmu ada di sana ... “
“ Jadi ... kamu yang ... “ selaFachry
“ Tepat ! Bersiaplah ... “
Tak sempat meneruskan perkataannya , Pedang itu sudah memisahkan kepala Fachry dengan badannya . Kepalanya yang putus itu melayang sesaat di udara sebelum kepala itu menggelinding di tanah dan akhirnya berhenti . Ekspresi wajahnya begitu menyedihkan , s’perti menahan rasa sakit amat luar bisa sesaat pedang itu menebas lehernya .
Dipandanginya tubuh Fachry yang tanpa kepala itu , dia menyeret kepala dan badan yang terpisah dengan tangan kanannya dan terus berjalan untuk mengambil mayat Anna yang masih tergeletak di sana .
Tak terasa waktu terus berjalan , sudah hampir sore namun Anna dan Fachry belum juga kembali ke tenda , timbullah kekhawatiran dalam diri mereka .
“ Si Fachry sama si Anna lama banget ya , Sat ?Mereka mencari air sampai ke mana ya ? “ tanya Raka pada Satrio .
“ Iya nih , katanya mereka ke tengah hutan , tapi gak mungkinlah mereka sampai sesore ini , apa perlu kita cari mereka ?! “ timpal Satrio .
“ Sebaiknya jangan , lagi pula , hari sudah mau gelap , lebih baik besok saja , kita mencari mereka . “ jawab Rahel .
“ Tapi Hel ... “ sela Raka .
“ Rahel benar Sat . Ada baiknya kita cari mereka besok , lagi pula alat penerangan kita sudah hilang ... “ ujarSatrio .
“ Aah terserah kalian berdua lah , tapi perasaanku sudah gak enak banget ! “ Raka masih saja bersikeras namun dia akhirnya menyerah juga dan pencarian akan dilakukan esok hari .
Malam ini begitu sunyi . Rahel tertidur begitu pulas . Tiba – tiba ia merasakan dirinya berada di alam mimpi . Ia melihat seorang wanita dengan rambut hitam panjang sebahu dengan bola mata berkaca – kaca memandang dirinya .
“ Ka .. kamu siapa ? “ Rahel gugup .
“ Aku mohon kalian harus tinggalkan pulau ini secepatnya ! Aku mohon ! “
Perempuan itu memohon – mohon kepada Rahel . Dari ekspresinya , perempuan itu tidak bermain – main dengan ucapannya . Tapi , dia masih tak mengerti mengapa dia harus meninggalkan pulau ini . Saat ia ingin meminta penjelasan lebih banyak tentang pulau ini , wanita itu sudah menghilang. Matanya mendelik dan bangkit dari tidurnya . Ia mencubit – cubit tangannya dan menampar pelan pipinya , ia masih berpikir jika dirinya masih terjebak dalam mimpinya . Ia merasakan sakit ketika ia mencubit tangan dan pipinya , ia sudah sadar sepenuhnya .
Entah kenapa ia merasakan gerah dalam tendanya , ia membuka resleting tenda dan segera keluar dari tendanya . Ia melipat tangannya begitu angin darat menerpa kulit halusnya . Malam begitu mencekam , jangkrik dan suara lengkingan burung hantu mengiringi keheningan serta suara deburan ombak kecil mengikis pesisir pantai . Ya hanya itu yang didengarnya .
 Tapi Rahel begitu menikmati suasana seperti ini . Ia memandang ke langit hitam di mana bulan purnama bertemankan bintang – bintang menyinari dirinya . Tak diduga , sebuah tangan besar membekap wajahnya dengan sebuah saputangan . Saputangan itu berbau alkohol , membuat Rahel memberontak tapi sosok misterius itu berusaha membawanya ke dalam hutan . Rahel tak kuasa melawan , akhirnya pingsan dalam dekapan sosok itu tanpa diketahui oleh Raka dan Satrio .
“ Bangun Sat , sudah pagi nih ! Ayo cepat bergegas ! “ suara sopran Raka membangunkan tidur Satrio .
“ Oh iya bro , kita beres – beres dulu baru bangunin si Rahel . ”
15 menit usai mereka membereskan barang mereka , Satrio langsung beranjak ke tenda Rahel .
“ Nah ..aku udah beres – beres , saatnya bangunin Rahel . “ kata Satrio .
“ Rahel , kamu udah bangun belum ? “ tanya Satrio .
Satrio memanggil Rahel dari luar tenda ia berpikir bahwa temannya itu mungkin masih tertidur .
“ Lama banget ngejawab nya ? Rahel udah bangun blum ? “ tanya Satrio .
Begitu lama ia menanti jawaban dari Rahel , ia mencoba masuk ke dalam tenda .
“ Lho Rahel kemana ? Dia gak ada , Rak  ! “ Satrio panik .
“ Masa iya ?! Coba cek baik - baik ! “ kata Raka sambil keluar dari tenda .
Setelah mereka memeriksa dan mengecek daerah sekitar perkemahan , mereka tidak menemukan batang hidung Rahel di sana .
“ Wah gawat nih , Rahel hilang ?! Gimana nih bro , mana udah 5 orang kawan – kawan kita hilang ! S’karang Rahel pun juga hilang ! “ Raka bingung .
“ Aku juga bingung , Rak ! Kita gak tau apa yang mesti kita lakukan sekarang . “ kata Satrio dengan nada bicara rendah .
            Di tengah kekalutan mereka , Satrio melihat sebuah kertas terselip di bawah tenda di tempat mereka duduk .
            “ Rak , lihat di bawah tenda ada surat . “
            “ Surat ? Surat dari siapa , Sat ?
            “ Yah mana aku tau , belum juga aku ambil . “ kata Satrio sambil mengambil surat dan membukanya .
            Kalian ingin tahu kan di mana keberadaan teman – teman kalian sekarang ?Segeralah datang , teman – teman kalian sudah lama menunggu ...
            “ AKH SIAL ! Siapapun yang ngirim surat ini pasti tau apa yang terjadi terhadap teman – teman kita semua dan pasti dia penyebab ini semua ! “ pekik Raka .
“ Aku juga setuju Rak ! Kita harus secepatnya menemukan teman kita sebelum terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka . “ kata Satrio .
            Mereka merasakan firasat buruk akan menimpa Rahel , segera bergegas masuk ke dalam hutan , dan membiarkan perlengkapan mereka di sana , mereka akan kembali setelah mereka menemukan Rahel dan yang lainnya .