Saturday, 14 November 2015

Tumbal Arwah Jelangkung - Satu

Gerakan badan Donni begitu lincah. Sepatunya berdecit menggesek lantai semen. Donni mampu mengecoh lawannya hingga ia mencetak three point melaluishooting keras ke ring basket.
“Skill-mu memang enggak bisa dilawan, Don. Kalau begitu, kita lanjutin besok aja ya. Soalnya aku sudah capek banget.” ujar William sambil memasukkan kain lap ke dalam tasnya.
“Ya sudah. Aku pun juga lelah. See you tomorrow, bro. Be careful.”tutup Donni seraya memanggul tas punggungnya.
William dan teman-temannya telah meninggalkan lapangan basket. Tinggal Doni sendirian di sana. Setelah semuanya benar-benar sepi, Donni melangkahkan kaki menuju semak-semak yang berada di belakangnya. Ia meraih boneka yang tergeletak tak jauh dari sana.
Ini dia yang kucari. Ujar batin Donni.
Teman-teman Donni berkumpul tepat waktu. Seperti yang telah disepakati, mereka akan melakukan ritual pemanggilan jelangkung pada Malam Jumat pukul sepuluh di sebuah rumah kosong terbengkalai selama 10 tahun.
“Don, kamu yakin gak akan terjadi apa-apa?“ tanya Lina ragu.
“Gak bakal terjadi apa-apa. Ini cuma sebentar kok. Setannya bisa usir kalau kita sudah selesai bertanya,“ jawab Donni tenang.
“Iya, betul kata si Donni. Ini kan cuma permainan. Kalau sudah selesai kita bertanya, arwahnya bakal pergi sendiri kok. “ timpal Heru.
“Bagaimana nih? Udah bisa dimulai gak? Dari tadi ribut melulu.“ gerutu Prakoso.
            Shanti sudah menyiapkan perlengkapan ritual. Pulpen, Kertas, Boneka berwujud manusia serta kayu ditambah dengan seutas tali. Kayu diikatkan dari kepala hingga ujung kaki. Tidak lupa, pulpen diikat di bagian kakinya. Donni bersiap untuk memegang bagian kepala. Shanti dan Heru memegang bagian tangan. Lina dan Prakoso di bagian kaki.
            “Kalian sudah siap?“ tanya Donni.
            “Tunggu dulu, Don,.“ sela Lina.
            “Ada apa lagi, Lina?“
            “Ka-kalau boleh tahu, kamu dapat darimana boneka ini?“
            “Aku temukan boneka ini dipinggir jalan dekat sungai kecil. Sudah jelas? Bisa kita mulai sekarang?“
            Tak terdengar lagi pertanyaan dari siapapun. Mereka sudah siap memulai ritual. Mereka serempak mengucapkan mantra pemanggilan arwah untuk merasuki boneka jelangkung.
            Jelangkung jelangsetan di sini ada pesta
            pesta kecil kecilan
            Jelangkung jelangset
            datang tak dijemput pulang tak diantar...
            Mereka terus menerus mengucapkan mantra hingga muncul reaksi dari boneka. Boneka mulai bergoyang. Awalnya pelan, semakin lama semakin kencang goyangannya sehingga mereka harus kuat menahannya.
            “Don, bonekanya mulai bergerak. Turunkan pelan-pelan.“ perintah Prakoso pelan.Perlahan tapi pasti mereka mengarahkan boneka ke atas kertas.
“Siapa yang mau nanya duluan?“
“Aku, Don!“ jawab Heru.
“Tidak, Her. Aku dulu. Aku punya pertanyaan penting mengenai pacarku, Sandy.” potong Shanti.
“Hey, hey, kenapa kalian ribut begini? Tenang, semua pasti dapat giliran.” lerai Donni.
            Lina tak peduli dengan pertengkaran mereka. Matanya waspada mengamati sekeliling ruangan tamu. Prakoso terlihat jengah melihat tingkah teman-temannya. Mata Lina sigap saat ia melihat sekelebat hitam berdiri tak jauh dari jendela tak berkaca.
           
            “Kalian harus mati...” gumam makhluk halus berpakain hitam itu.
            Bola mata Lina terbeliak. Donni yang melihat perilaku aneh Lina, mencoba memanggil namanya hingga tiga kali. Ketika Lina menoleh ke arah Donni, angin mendadak berembus kencang, menggerak-gerakan bingkai jendela tanpa kaca. Gerakan boneka semakin menjadi. Mereka berlima berusaha menahan gerakannya, tapi mereka terpental jauh, demikian dengan boneka itu. Angin perlahan mulai mereda. Mereka berusaha bangkit meskipun badan masih terasa sakit akibat menahan gerakan boneka.
            “Aduh pinggangku sakit!“ keluh Prakoso sambil meringis memegang pinggangnya.
            “Di mana boneka itu?!“ ucap Doni panik.
            Mendengar apa yang dikatakan Doni, sontak mereka bangkit berdiri, mencari-cari boneka itu. Suasana ruang depan begitu mencekam ketika mereka melakukan pencarian.
            “Ini dia Don!“ tunjuk Prakoso. Ternyata, boneka itu berada di luar rumah dengan posisi menancap di tanah. Donni setengah berlari mengambil boneka itu.
            “Kelihatannya kita harus pulang. Aku merasa tidak enak.“ ujar Donni sambil mengoper boneka pada Prakoso.
            “Shan, masukkan alat-alat sama boneka ini ke tasmu.“ perintah Prakoso seraya memberikan boneka pada Shanti.
            Shanti memasukan semua peralatan ke dalam tasnya termasuk boneka jelangkung yang diberikan Prakoso. Lina masih shock karena kejadian tadi, berjalan sambil memegang erat pergelangan tangan Doni.
            “Jangan parno gitu lah, Lin. Biasa aja.“ ketus Doni.
            Lina melepas pegangannya pada tangan Doni, berjalan normal seperti biasanya. Rasa was-was masih menghantui pikiran Lina. Saat dia berjalan, matanya masih jeli mengamati apa yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba Lina terhenti.
            aku akan menjemput kalian semua ke alam ku...
            Suara bisikan pelan terdengar oleh Lina. Ia menengok kepada teman-temannya.
            “Kalian dengar suara itu, ada suara aneh yang bilang kalau kita akan—“
            “Sudahlah Lina, tak bisakah dirimu tenang sebentar saja?! Jangan kayak orang sakit jiwa gitu deh!“ caci Prakoso.
            “Tapi, aku beneran dengar sendiri kok, Kos! Sumpah!“ ucap Lina mengotot.
            “Sudah cukup, Lin. Soal itu, nanti saja bicarakan kalau kamu sudah sampai di rumah mu.“ tandas Donni.
            Mereka sudah berada di pekarangan rumah. Untung saja, rumah Lina tak jauh dari rumah kosong itu, hanya berjarak 200 meter, sedangkan empat orang kawannya pulang menaiki sepeda motor. Tapi, tetap saja hal yang barusan dialaminya membuat dirinya mati. Ia memilih mempercepat laju kakinya. Pukul 23.05, dia sudah berada di rumahnya. Lina beberapa kali mengetuk pintu.
            Tok... tok... tok...
            Dari dalam rumah , ibunya sudah datang membukakan pintu.
            “Kamu dari mana saja, nak? Sudah larut malam begini kamu baru pulang?“
            “Tadi, banyak banget tugas kelompok yang harus dikerjakan, bu, jadi pulangnya agak larut.“ sahut Lina.
            “Ngomong-ngomong, kenapa kamu kelihatan gelisah, nak? Lihat muka kamu, pucat.“
            “Ah gak apa-apa kok, bu. Cuma masuk angin aja.“
            Lina langsung melewati ibunya menuju ke kamar. Ibunya heran melihat tingkah laku anaknya, namun dia tak mengetahui apa sebabnya. Sambil menghela nafas, ibunya kembali mengunci pintu rumahnya.
            Untuk menghilangkan kegelisahan, Lina mencuci muka sambil menggosok gigi . Usai itu, Lina mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Ditariknya selimut, Lina mulai memejamkan matanya.
            20 menit telah berlalu. Lina terlelap dalam tidurnya. Dia berada di sebuah hutan. Nampaknya dia masih bingung kenapa dirinyaada di sana. Dia berjalan pelan sambil mengamati yang ada di sekelilingnya. Suasana hutan remang-remang dan suram. Dia merasakan hawa mistis yang terkandung  dalam hutan meningkat pesat. Ditambah dengan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduknya merinding.
            Lina tak sengaja melihat seorang wanita sedang dipukuli dan disiksa oleh sekelompok wanita yang berjumlah tiga orang. Kondisi wanita itu begitu memprihatinkan. Matanya sembab. Seragam SMA yang dikenakan kumal. Rambutnya awut-awutan. Pemandangan miris itu membuat hatinya tergerak. Dia segera berlari menuju lokasi untuk menghentikan perbuatan mereka. Setibanya di sana, Lina mencoba melerai tapi mereka tak menghiraukannya. Bahkan, tak memperdulikan sekalipun Lina sudah ada di depan mereka. Mereka bertiga terus saja menyiksa perempuan itu lalu menusukkan pisau ke perut perempuan malang itu.
            “Hey, kenapa kalian membunuhnya?! Jawab aku!“ pekik Lina.
            Mereka kelihatan panik dan berlari meninggalkan perempuan itu. Lina yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan perempuan itu dibunuh. Ia hendak mendekati mayat perempuan itu. Saat didekati,  bola mata perempuan itu terbelalak, terbuka lebar. Lina terperanjat. Dan tak kalah mengerikan, dia berdiri tegak menatap dingin dan penuh amarah kepada Lina dengan kondisi pisau masih menancap di perut.
            “Kamu! Kenapa kamu tak mencegah mereka?!“
            “A-a-aku su-sudah me-mencoba me-menolongmu tapi  mereka tapi memperdulikan omongku,“ jawab Lina terbata-bata. Ia tak mampu menahan gemetar kengerian yang berada di hadapannya.
            “Bohong! Aku tidak percaya! Kau juga harus mati!“
            “ Jangan... Jangan bunuh aku... Aku tidak melakukan apapun kepadamu... Tolong jangan bunuh aku... Kumohon ! “ jerit Lina sambil memohon agar dia tak membunuhnya .
            “Tidak! Kau harus menerima hukuman atas perbuatanmu! Hahahaha!“ perempuan menatap Lina beringas seraya mengeluarkan tawa menggelegar.
            Lina berjalan mundur kemudian berlari ke mana saja agar dirinya terbebas dari maut. Namun sial. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Badannya membeku bagai patung. Tak ada yang bisa dilakukannya. Dia tetap saja tak bisa menggerakkan badannya sedikitpun. Hanya ada air mata menetes di sudut pelupuk mata. Berharap Tuhan menolong dirinya.
            Ternyata salah besar. Keadaan Lina yang tak berdaya, malah membuat perempuan itu senang. Ia tertawa lebar seolah-olah mangsanya sudah siap untuk dieksekusi. Dicengkramnya leher Lina kuat sehingga membuat nafasnya sesak.
            “To-to-long...“ gumamnya terputus-putus.
            Suara teriakan dan lenguhan Lina terdengar oleh orang tuanya. Mereka segera bergegas menuju kamar anaknya. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, anak mereka mengigau seperti orang yang dicekik lehernya.
            “Lina! Bangun nak!“ teriak ibunya sambil menggoyang-goyangkan badan anaknya.
            “AKH!“ Lina terbangun dari mimpi buruknya. Ketika itu wajahnya terlihat sangat pucat.
            Melihat wajah anaknya yang pucat, sang ayah segera mengambil air hangat , diberikan pada anaknya.
             “Ada apa dengan kamu, nak? Kamu mimpi buruk?“ ibunya bertanya setengah panik.
            “I-i-iya, bu. Ada perempuan yang mau mencekik aku, bu. Wajahnya menyeramkan sekali,“ jawabnya gagap.
            “Makanya kalau mau tidur, jangan lupa berdoa. Kalau lupa, ya jadinya sepeti tadi,“
            “Iya bu, lain kali Lina bakalan doa dulu sebelum tidur.“
            “Ya sudah . Ibu dan bapak balik ke kamar.“
            Setelah kedua orang tuanya meninggalkan kamar, Lina menutup pintu kamar dan berdoa selama dua menit. Meski sudah berdoa, masih saja terlintas di benaknya, wajah perempuan yang hendak membunuhnya dalam mimpinya.
            “Aku harus memberitahu teman-teman... ya harus.“ gumamnya.

Monday, 9 November 2015

Kau (Semu)



Kau
Tercipta insan damai hati
Citra indah karunia Tuhan
Ingin kubelai walau semu

Kau
Mekarkan bunga-bunga mimpi
Sesuci akhlak kaulakukan
Aku tersanjung melayang terlena

Kau
Jangan dustai harapanku
Tinggalkan sesal tak bersuka
Jangan campakkan benih-benih cintaku
Bawaku bersamamu merajut masa depan

Sunday, 8 November 2015

Lupa



Kamu adalah kenangan
            Kenangan manis tak semudah kulupakan
            Banyak hal ingin wujudkan bersamamu
            Tapi kamu tak memilihku
            Cinta, ya, aku seorang manusia
            Manusia yang ingin mencintaimu sepenuh hati, setulus jiwa dan segenap pikiranku
Aku ingin melupakanmu perlahan-lahan
Aku ingin mengambil satu langkah berat
Hidupku tanpa cintamu tapi apakah hidupmu tanpa cintamu?
Apakah aku ada di hatimu? Adakah tempat, ruang di hatimu?
Apakah seluruh tempat, seluruh ruang sudah kau isi untuknya?
Adakah kau beri tempat dan ruang untukku sepersen saja
            Aku sedih bila mengenang kenangan tentangmu walau itu tak berarti untukmu
            Aku rapuh bila kau bicara tentangnya walau tak sengaja kudengar darimu atau dari temanmu
            Aku sakit bila memandangmu, melihat senyum manismu walau kutahu senyum itu bukanlah untukku
            Aku menangis bila terkenang semua yang kulakukan padamu
            walau kutahu aku rela terluka untuk masa lalu
            pengorbanan tak memandang seberapa besar yang akan kautuntut padanya
            janganlah kau tuntut, cukup Tuhan saja yang akan menuntutnya
            Aku hancur bila permintaanku menyentuhmu
            menjamah wajah ayumu penuh kasih sayang tak terwujud sesuai keinginan dan harapanku
            aku hanya bisa mencobanya walau dihalangi dinding kaca dunia maya
Aku masih bisa sedikit bersyukur
Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan cita-citanya
Aku hanya bisa memandang dari kejauhan
terus menjauh dan dia melupakanku
aku pun akan melupakannya walau terasa sepersen dalam diriku
Aku memang sedikit gila tapi itu tak menjadi masalah untukku
            Perlahan-lahan dia akan lupa dan aku pun akan lupa
            Biarkan, membiarkanku tenggelam dalam lautan kesepian, kesendirian
            Tersesat dalam gurun kehampaan, ruang kesunyian, buta dalam kegelapan pekat
            Sampai datang seorang wanita memberi tangannya menyelamatkanku
            Menunjukkan jalan penuh kebahagian, penuh cahaya dan sukacita abadi
Tuhan, masih bisakah cinta tumbuh di hati yang dipenuhi lubang-lubang dalam untuk wanita seperti itu
Apakah masih ada cinta seorang wanita tulus apa adanya menerima diriku yang sangat sederhana
Jauh lebih indah dan nyata dibandingkan dunia mimpi nanti, Tuhan...
            Aku masih mencari di manakah jawabannya
            Tapi aku masih menunggumu datang itupun jika kau datang kembali
            Lihatlah aku masih di hatimu
            Kelak jika kau tak datang lagi
             kamu akan melihatku bersama dengan wanita yang membawaku sebuah bahagia