Sunday, 22 November 2015

Love in Dead - End




Getar SMS masuk ke BlackBerry Icha. Icha bergolek santai di ranjangnya, langsung menyergap BlackBerry. Ia membuka kunci tombol, membaca isi SMS tersebut.
Icha, kamu lagi di rumah?
            Ya. Memangnya ada apa?
            Coba lihat dari jendela.Aku sedang berada di depan rumahmu.
            Icha tersentak membaca balasan SMS dari Aldian. Seakan tak percaya, Icha beringsut dari ranjangnya menuju ke jendela. Selepas ia menyingkapkan jendelanya, benar saja Aldian sedang berdiri di luar pagar rumahnya. Dengan kemeja bergaris-garis coklat mengenakan celana panjang longgar, Aldian memegang sesuatu di tangan kanan sambil disembunyikan .
            Tak terpikirkan sama sekali, Aldian akan melakukan kunjungan mendadak seperti ini. Tak mau membuat Aldian menunggu lama, Icha buru-buru keluar dari kamar hendak membukakan pagar agar Aldian segera masuk.
            Sekitar lima menit Icha sampai di pagar. Sebelumnya, ia harus mengganti piyamanya dengan baju yang lebih sopan.
            Icha mengambil kunci dari kantong sambil dimasukkan ke dalam gembok lalu menarik gagang pintu pagarnya. Aldian yang sudah lama berdiri, masuk dengan perasaan kaku dan agak canggung. Icha dapat melihatnya melalui gerak tubuh.
            Kini Aldian sudah masuk. Aldian berjalan bersama dengan Icha ke ruang tamu. Aldian jadi salah tingkah dekat dengan Icha. Ia menjadi tak berani menatap Icha.
            Icha menyuruh Aldian duduk sambil menunggu dirinya datang membawa air minum. Sementara Icha pergi, Aldian harus berembuk dengan pikirannya sendiri—apa kata-kata yang pas untuk mewakili perasaannya pada Icha. Aldian akan menyatakan cinta pada Icha dengan momen yang ada, saat ini juga.
            Icha sudah tiba dari dapur dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya sudah tersedia segelas sirup dan cemilan kecil. Anggunnya Icha membawa nampan makanan, membuat Aldian tergugah hatinya. Semakin dalam perasaannya tertanam pada Icha.
            Icha sudah menyimpuhkan kedua kakinya, meletakkan segelas sirup dan cemilan itu di atas meja ruang tamu. Kemudian, duduk di hadapan Aldian.
            “Tumben, kamu datang mendadak. Ada apa? Ngomong-ngomong, apa yang berada di belakang tanganmu?“ Berbagai lontaran pertayaan terucap begitu saja dari mulut Icha. Sekarang , Aldian diam membisu. Ia berusaha menarik tangan kanannya yang gemetar ke depan, seperti ingin memberikan sesuatu. Icha terus bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya akan diberikan Aldian.
            “Icha, kamu mau nggak jadi pacarku?“ Aldian sudah melepaskan kata-kata mujarab yang selama ini dipendamnya. Mulut Icha menganga. Ia terkesima. Di depannya, ada seorang lelaki pendiam dan kutu buku sudah menyatakan cinta padanya.
            Binaran mata Aldian yang cerah, mengisyaratkan kalau dia menginginkan Icha menjadi miliknya—seutuhnya. Tapi tak begitu dengan Icha. Alis matanya mengkerut, wajahnya tertekuk. Ada sesuatu begitu mengganjal perasaannya.
            “Maaf, aku tidak bisa, Aldian...“
            Rasanya bumi bergoncang hebat, meruntuhkan segala keindahan menjadi serpihan kehancuran. Begitu pula dengan perasaan Aldian. Mata sipitnya menjadi sedikit terbuka. Ia menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang dikatakan Icha. Melihat reaksi Aldian spontan tertegun, Icha menjelaskan jawaban atas penolakannya pada Aldian.
            “Aku sudah memiliki pacar, Aldian. Namanya Daniel. Dia bersekolah di SMA Negeri 2. Kami sudah berpacaran hampir setahun. Sekali lagi, aku minta maaf, Aldian. Aku tidak bisa.“ Icha memejamkan mata sejenak kemudian menghela nafas pendek. Ia berharap Aldian bisa menerima alasan yang diutarakannya. Setidaknya, ia telah jujur pada Aldian.
            Aldian sendiri masih diam menekur diri. Tatap matanya mengawang jauh, menembus alam pikirannya. Ia galau. Entah apa yang akan katakannya untuk menanggapi alasan dari Icha.
            “Tidak apa-apa, Icha. Seperti yang pernah kukatakan, menjadi temanmu saja, aku sangat senang. Tidak mungkin aku memaksamu, bukan? Tapi maukah kamu terima bunga ini?“ Aldian menegakkan kepalanya sambil memberikan setangkai bunga mawar kepada Icha.
            Icha mengangguk pelan seraya meraih bunga yang diberikan Aldian untuknya.
            “Sepertinya aku harus pulang.“ Aldian melirik arloji di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00.
            “Selamat tinggal Icha. Sampai jumpa esok.“ Aldian berdiri dari tempat ia duduk. Ia hanya menyunggingkan senyum kecil sambil melambaikan tangan. Ia akan beranjak pergi dari rumah Icha.
            Icha berjalan menuju ruang tamu, membuka pintu luar agar Aldian bisa keluar lebih cepat. Sejauh ini, tak ada tatap kesedihan atau penyesalan terbias dari mata Aldian. Ia terlihat biasa-biasa saja. Tak tersirat perasaan negatif di sana, bahkan ia sempat bertanya mengapa Icha terus memandangnya penuh heran.
            “Aldian, terimakasih atas bunganya. Aku suka. Sampai jumpa esok. Selamat malam.“ Icha mengucapkan salam berpisah pada Aldian. Tangannya masih memegang erat tangkai bunga tersebut.
            Aldian mengambil sepeda yang tergeletak di pekarangan. Dirinya membuka engsel gerbang, lalu ia mengayuh sepedanya menembus kesunyian malam.
            Icha terus menatap Aldian yang perlahan menjauh dari kediamannya. Dalam hatinya, ia tak sanggup mengatakan kebenaran itu pada Aldian. Rasa bersalah mulai mengusik hatinya. Ia takut hal tersebut akan menyakiti hati dan perasaannya. Jika ia begitu mudahnya menerima cinta Aldian, itu sama dengan mempermainkan perasaan Daniel. Inilah dilema.
            Icha menatap lekat setangkai bunga yang berada dalam genggamannya. “Kamu datang terlambat, Aldian. Hatiku sudah dimiliki orang lain. Mengapa kau datang di saat aku sudah dimiliki?“ berbagai ungkapan penyesalan memenuhi relung batinnya. Tak mau dikacaukan oleh perasaannya sendiri, Icha memilih masuk ke dalam rumah.
            Icha membawa dirinya dalam baringan ranjang empuknya. Ia meletakkan bunga pemberian Aldian di samping bantal. Pikirannya masih saja tertuju pada Aldian. Ia berharap Aldian baik-baik saja.
            Semakin jauh ia berpikir akan Aldian, entah mengapa dirinya merasakan Aldian ada sangkut pautnya dengan pembunuhan Anji dan Andy. Jika dipikir baik-baik, bagaimana Aldian bisa melakukan perbuatan sekeji itu. Bahkan, dirinya saja sering menjadi korban bullyFidel dan teman-temannya.
            Icha menganalisis dengan berbagai dugaan dan keterangan yang ia dapatkan selama meneliti ini. Pertama, waktu Anji ditemukan tewas di kawasan perumahan Air Lihas. Menurut keterangan polisi, mayat Anji ditemukan pada pukul  tujuh tepat saat SMS masuk ke Black Berry-nya. Di sana Aldian bilang ia tak jadi datang ke rumahnya karena ban sepedanya bocor. Satu hal yang masih menjadi pertanyaan, di manakah posisi Aldian saat kejadian tersebut? Itulah yang tidak dijelaskan Aldian dalam SMS-nya.
            Kedua, Aldian pernah mengatakan padanya kalau ia pergi mengunjungi proses pemakaman Anji. Pertanyaan lain adalah pukul berapa dia tiba di sana? Apakah dirinya bertemu dengan Andy? Menurut keterangan yang didengarnya dari kepolisian, Andy dibunuh setelah pemakaman selesai. Dan apa mungkin Aldian datang di saat pemakaman usai?
            Belum siap pikirannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebuah panggilan masuk berdering keras ke BlackBerry-nya. Ia melihat nama yang tertera di layar—Aldian. Tanpa ragu ia mengangkatnya.
            “Icha cepat datang ke sini! Pembunuh itu sudah membunuh paman dan bibiku! Cepat! Dia mengincarku! Aku bersembunyi... Tut tut...“
            Icha merasa Aldian dalam bahaya besar. Pembunuh itu akan segera mengincar nyawa temannya. Ia tak bisa tinggal diam. Ia harus segera pergi ke rumah Aldian. Sebelumnya, Icha sudah meng-SMS pacarnya, Daniel,menjemputnya di depan rumahnya. Icha menjemput jaket yang tergantung di pintu kamarnya dan langsung dikenakannya.
            Dari tadi, Icha gelisah tak menentu dalam batinnya. Kekhawatiran terus menghantuinya,. Takut terjadi apa-apa dengan Aldian. Sekian lama menunggu, akhirnya Daniel sudah tiba di hadapannya.
            “Lama sekali!“ nada bicara Icha keras. Dirinya naik ke atas jok belakang lalu menyuruh Daniel mengendarai sepeda motornya lebih cepat.
            “Apa yang sebenarnya terjadi?“ tanya Daniel sambil memacu gas. Ia menanyakan alasan pacarnya menyuruhnya cepat-cepat.
            “Aldian sedang dalam bahaya. Aku tak punya banyak waktu menjelaskan.“ Matanya terus tertuju pada layar BlackBerry berharap SMS atau miscall dibalas oleh Aldian. Namun, sudah lewat setengah perjalanan pun tak mendapatkan balasan.
            Daniel mengerti kondisi pacarnya, menarik gas lebih kencang agar lebih cepat tiba di rumah Aldian.
            10 menit terlewati. Mereka sudah sampai di rumah Aldian. Rumah dengan  lampu depan menyala terang tapi lampu bagian dalam padam.
            “Lebih baik kamu tunggu di sini. Tunggu aku tiba bersama pihak kepolisian. Biar kita masuk bersama-sama. Akan sangat membahayakan jika kau masuk sendirian.“ Danni dengan sigap menahan tangan Icha. Hampir saja Icha melangkah menuju rumah.
            Icha terpaksa menuruti apa yang dikatakan Danni. Ia menunggu sembari melihat pacarnya membawa sepeda motornya menjauh dari hadapannya. Melihat pacarnya sudah semakin jauh, Icha pelan-pelan berjalan menuju ke rumah Aldian. Ia yakin sang pembunuh masih berada di dalam rumah dan Aldian masih bersembunyi. Sebelum masuk, Icha memungut sebuah bambu yang bisa dijadikan sebagai senjata.
            Kini Icha sudah berada di muka pintu. Ada rasa gentar ketika tangannya menyentuh gagang pintu. Icha menelan ludah kering yang terasa begitu mencekik kerongkongannya. Dengan keberanian yang ada, tangan kanannya sudah menggenggam gagang pintu itu.
            Dengan sedikit dorongan tangannya, pintu itu terbuka. Jantungnya berdetak keras. Matanya agak kesulitan melihat karena situasi rumah begitu gelap. Icha harus ekstra hati-hati, bisa saja pembunuh tersebut sudah berada di belakangnya, mengincarnya ketika ia sedang lengah.
            Derap langkah kaki amat lembut itu sejalan dengan suara detak jantungnya. Penuh kewas-wasan, penuh perhitungan di setiap hentakan.
            Bola matanya berputar liar mengamati gerak-gerik mencurigakan walau kegelapan menghalangi pandangannya. Sandalnya seperti menginjak sesuatu—cairan. Kental dan agak lengket. Icha mengangkat sedikit kakinya, mencolek cairan yang menempel di tapak sendalnya.
            Icha membaui cairan itu. Amis dan warnanya merah dan ternyata—darah. Ia terkesiap. Darah itu tidak berhenti di tempatnya berdiri. Ada banyak jejak-jejak darah mengarah pada suatu tempat.
            Awalnya, Icha takut mencari tahu ke mana jejak-jejak darah itu akan berhenti. Namun karena niatnya ingin menemukan Aldian, ia memutuskan terus berjalan meskipun rasa degdegan di dada makin mendesak.
            Pelan-pelan, Icha mengikuti ceceran darah tersebut. Begitu panjang tapi ceceran tersebut berhenti pada suatu kamar. Lampunya menyala. Pintunya terbuka lebar. Icha tak mau berpikir macam-macam. Icha mencoba menguatkan hati sambil melangkah ke sana.
            Deru nafas tersendat. Bola matanya membulat . Mulutnya ternganga.
            Icha menemukan mayat laki-laki dan perempuan terkapar bermandikan darahpenuh luka di sekujur tubuhnya. Tapi bagian yang paling mengerikan adalah sepasang tangan dan kaki sudah terpotong-potong, dibiarkan terbuang begitu saja .
            Mereka adalah paman dan bibi Aldian. Mati mengenaskan di tangan pembunuh itu.
            “Aldian! Aldian!“ Icha menyingkir dari sana sambil berseru memanggil nama Aldian.
            “Kamu sudah datangya, Icha.“ Suara itu muncul disertai dengan lampu ruang tamu menyala tiba-tiba.
            “Aldian,“ Icha lantas berbalik badan begitu mendengar suara Aldian. Suara itu memang suara Aldian . Tapi ada yang berbeda. Tatapan dan roman sungguh berbeda. Tak seperti Aldian yang ia kenal . Dingin, picik dan bengis. Bola matanya memperlihatkan kekosongan yang begitu dalam. Sangat dalam.
            Aldian menghampiri Icha dengan tangan memegang sebilah golok berlumuran darah. Baju dan tangannya juga ternodai cipratan darah.
            Icha serasa tak punya kekuatan untuk membela dirinya. Bambu yang ringan pun menjadi berat diangkat. Aldian sudah berada di hadapan Icha. Lutut Icha lemas. Diam mematung memandangi Aldian.
            “Ja-jadi kau?! Ti-tidak mungkin!“
            Aldian diam. Secara mengejutkan, ia menjenggut rambut Icha. Icha mengaduh kesakitan. Bambu yang digenggamannya terlepas. Icha meronta-ronta sambil memukul tangan Aldian, tapi Aldian tak merespon malah semakin menguatkan genggamannya, menarik Icha mengikuti ke mana dirinya pergi.
            Icha pasrah. Berapa kali pun ia memelas dan memohon, takberpengaruh pada Aldian. Air matanya tak henti menetes , berusaha menahan rasa sakit di ujung rambutnya. Dalam hati, ia juga tak henti-henti berdoa, meminta kejaiban datang menolong dirinya.
            Mereka sudah tiba di sebuah ruangan berdebu, pengap danminim pencahayaan. Aldian mencampakkan tubuh Icha dengan kasar. Usai menutup pintu, dengan sigap Aldian mengambil segulung tali tambang, diikatkan pada lengan dan tungkainya.
            “Kenapa kamu melakukan hal ini, Aldian? Aku sungguh tidak percaya. Ini bukan kamu ‘kan, Aldian?“ suara Icha menjadi lebih serak.
            “Tapi inilah kenyataannya. Akulah Aldian. Aldian temanmu. Aldian yang selalu menjadi bulan-bulanan di sekolah. Aldian si penyendiri. Aldian si pemalu. Aldian yang begitu menginginkanmu... Icha.“  ujar Aldian sambil meletakkan goloknya di atas sebuah meja kecil. Dirinya duduk seperti orang bersila di depan Icha .
            “Kamu tak perlu menjadi seperti ini, Aldian!“ pekik Icha. Ia tak mampu menahan ledakan emosinya melihat kelakuan Aldian.
            “Tapi kamulah yang membuat aku seperti ini, Icha! Ketika aku menjalani hari-hariku yang penuh kesepian, kamu datang di saat yang tepat. Ya, kamu datang seperti seorang malaikat penyelamat. Tapi semakin aku dekat denganmu, semakin Fidel dan teman-temannyaterus berusaha menyingkirkanku,“ Aldian tak kalah emosi mendengar pernyataan Icha.
“Orang tuaku sudah lama meninggal dunia akibat kecelakaan. Kamu tahu bagian terburuk dari semua itu, Icha? Aku masih hidup dan menyaksikan orang tuaku tewas di depan mataku! Di saat itu aku sadar, aku menjadi yatim piatu, sama sekali tak punya saudara. Tapi, semenjak kecelakaan seperti punya kemampuan istimewa. Seperti indra keenam. Aku bisa melihat wujud orang tuaku tapi tidak begitu dengan orang-orang di sekitarku. Mereka menganggap aku gila.
Aku ditampung di rumah pamanku. Meskipun pamanku baik kepadaku , tapi tidak demikian bibiku. Dia tak pernah menganggap keberadaanku di rumah ini. Aku seperti hantu baginya.“ Aldian mengambil jeda sejenak lalu melanjutkan cerita.
“Pasti kau juga mengira-ira siapa yang telah membunuh Anji dan Andy ‘kan? Selama ini aku selalu bersabar menghadapi mereka bertiga . Akan tetapi , kesabaran juga ada batasnya. Aku sudah merencanakan semuanya,begitu terperinci. Aku tahu Anji selalu pulang tepat setengah tujuh dari lapangan bola. Ini kebetulan sekali karena rumahmu pun melewati rumahnya, bukan? Aku pura-pura pingsan begitu Anji akan melewati kawasan perumahan Air Lihas. Begitu ia mendekat, langsung kutancapkan golokku ke keningnya!“ Aldian memperagakan sendiri bagaimana ia menancapkan goloknya.
“Dan Andy, aku hampir menunggunya sejam lebih begitu para pelayat bubar meninggalkan pemakaman. Satu per satu para pelayat mulai pergi hingga tersisa dirinya seorang. Aku sudah bersiap-siap dengan bersembunyi di balik rimbunan pohon beringin. Ketika ia lengah, kusergap dia dan kubantai habis-habisan di sana.“ Aldian menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Icha bungkam. Tak terlintas di pikirannya, bahwa orang seperti Aldian bisa melakukan pembunuhan dengan sangat terencana namun sangat keji.
“Untuk Fidel, kau tahu, aku betul-betul tidak menyukai lelaki satu ini. Aku ingat bagaimana dia mengancam dan menghajarku sampai babak belur karena kamu mengantarku pulang, Icha. Kuharap kau masih ingat. Tapi, aku tidak akan menceritakan bagaimana aku menghabisi Fidel karena sudah kupastikan nasib dia tak jauh beda dengan teman-temannya. Aku mau bicara tentang kamu, Icha,“
Aldian mengubah sorot matanya yang tajam menjadi sedikit lembut. Icha menyadari perubahan tingkah laku Aldian, dia mengambil sikap waspada, bisa saja Aldian melakukan perbuatan nekat padanya.
“Icha, sejak kau masuk ke sekolah ini, aku selalu mengagumimu. Tapi kau tahu kan, kamu itu primadona sekolah sedangkan aku hanya pecundang yang tak dianggap. Banyak lelaki ingin dekat denganmu, tapi entah mengapa kamu memilih dekat denganku. Walau dianggap sebagai teman, rasanya aku senang sekali. Setelah aku menyingkirkan tiga tikus sialan itu, aku berniat ingin mengutarakan perasaanku sama kamu. Tak peduli apa statusku di sekolah.“ Aldian mendekatkan wajahnya ke wajah Icha. Ia memalingkan wajahnya. Icha tak ingin melihat raut wajah Aldian yang memuakkan.
“Awalnya, aku takut bahkan tak punya keberanian mengungkapkan semua ini padamu. Tapi, aku terus mendorong diriku sendiri kalau semua akan berjalan sesuai keinginan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Aku hancur begitu mendengar kau sudah dimiliki orang. Hati kecilku terus memberontak, memaki lelaki pujaan hatimu itu. Aku pulang ke rumah, menyesali kenyataaan yang terjadi malam itu, Icha,“ Dari sudut pelupuk matanya , Aldian menyadari kalau air matanya menetes membasahi pipi. Aldian memalingkan sedikit wajahnya, mengusapnya dengan lengannya.
Air mata kesedihan lenyap tergantikan seringai lebar mengerikan. Aldian beranjak dari hadapan Icha . Ia mengambil golok yang sedari tadi tergeletak, digenggam erat dalam tangannya.
“ Aku berpikir, kau sama saja dengan bibi dan pamanku. Kau jahat. Sama jahat dengan Fidel dan teman-temannya. Sangking kesalnya, kubunuh saja paman dan bibi sebagai pelampiasanku. Kau lihat, banyak sekali ‘kan darah yang menempel?“ Aldian memperlihatkan golok itu di depan mata Icha. Icha bergedik ngeri. Darahnya berdesir kencang mengalir ke otaknya. Serasa ingin pecah, mungkin meledak.
“Kejam! Biadab! Kau tak punya perasaan!“ maki Icha.
“Diam kau! Sebentar lagi, kau pun akan mati! Tak usah banyak omong!“ sahut Aldian penuh kekesalan dan amarah meluap-luap. Ia menempelkan ujung lancip golok itu di leher Icha. Ia berusaha menggertak Icha.
Melihat ancaman yang dilakukan Aldian, membuat air matanya meluruh pelan-pelan. Ia sadar hidupnya akan berakhir di tangan Aldian. Icha menatap mata Aldian dengan penuh rasa iba dan nelangsa. Ia mengakui memang dirinya juga berperan menyebabkan Aldian seperti ini.
Ia dekat dengan Aldian tanpa mengetahui bahwaAldian menyukai dirinya. Itu pun ia tahu setelah Aldian mengungkapkan perasaannya. Tanpa sadar, ia juga memberi harapan pada Aldian tanpa membalas perasaannya.
Di tengah rasa sesal, suara gebrakan pintu mengagetkan mereka.
Braakkk!
Aldian tanggap menutup mulut Icha. Ia berontak dengan menyikut perut Aldian tapi Aldian menempelkan lagi golok itu di lehernya membuat nyali Icha ciut seketika.
“Sekali lagi kamu melawan, golok ini takkan segan memutus lehermu!“ bisik Aldian dekat daun telinga Icha. Ia yakin pasti sebelum Icha datang ke sini, mereka sudah menghubungi polisi terlebih dahulu.
Derap langkah kaki terdengar jelas sampai ke gudang. Mereka diam sesaat dalam keheningan yang dingin danmencekam. Sepertinya mereka sedang mencari tempat dirinya menyekap Icha. Mau tak mau, ia harus berurusan dengan para polisi yang membawa pistol.
Aldian melepaskan tangan kanan yang membekap mulut Icha tapi tangan kirinya tetap memegang golok. Ia mengutak-atik kantong celananya mencari sesuatu yang amat dibutuhkannya.
Matanya terbeliak begitu mengeluarkan benda dalam kantongnya. Sebuah sapu tangan. Sapu tangan itu ditempelkan ke wajah manis Icha. Ketika sapu tangan itu ditempelkan, ada aroma menyengat menusuk indra pembaunya. Kepalanya pusing berat. Mataberkunang-kunang. Ditambah lagi, tubuhnya serasa lemah.
Aldian menyimpulsenyum kemenangan melihat kondisi Icha sekarang. Icha tak bisa melakukan apapun bahkan berteriak sulit sekali. Aldian memotong tali tambang yang membelenggu tubuh Icha, membiarkan tubuh semampainya terkulai tak berdaya.
Ia beralih sebentar menuju pintu. Dilihatnya Aldian sedang memutar-mutar kunci dengan sangat hati-hati. Dalam pikirannya, sekecil apapun suara pasti akan terdengar. Aldian menekan gagang pintu. Celah pintu sedikit tersingkap.
Sementara Icha masih tergeletak, Aldian datang kembali, mengangkat tubuh Icha yang tak terlalu berat. Aldian memanggul tubuh Icha seperti karung beras di pundak kiri.
Aldian berjinjit. Ia mengintip dari celah pintu melihat apakah kondisi sudah aman. Kelihatannya polisi belum menyisir sampai ke gudang. Ia sudah mematikan seluruh lampu agar polisi sulit menemukan dirinya. Celah pintu yang dibuatnya tak leluasa mengeluarkan tubuh Icha . Didorongnya pelan menggunakan ujung kaki kanannya. Setelah celah pintu sudah cukup pas, Aldian menjulurkan kepalanya disusul badannya serta tubuh Icha.
Aldian tetap menjaga derap kakinya agar tak membuat suara-suara mencurigakan. Ia juga memastikan Icha tak melakukan hal-hal yang membuat perhatian para polisi tertuju ke tempatnya. Keadaan Icha masih sama. Lemas dan tak bertenaga.
“Setelah kita menjauh dari sini, kita punya waktu berdua, Icha sayang.“ Aldian berbisik manja di dekat telinga Icha. Icha meneteskan air mata, mendengar apa yang akan dilakukan Aldian padanya. Ia tak bisa melakukan apapun dengan keadaan tubuh yang lemah.
Dirinya tak mau menyerah begitu saja. Ia terus mencari akal, menyelematkan dirinya dari genggaman Aldian. Icha terus memutar-mutar otaknya, berharap sebuah ide terlintas di benaknya.
Sorot matanya tertuju pada sebuah sapu lidi yang diletakkan bersandar di samping pohon mangga. Meskipun badannya agak sulit digerakkan, Icha tetap gigih mengerakkan kakinya agar bisa menyenggol ujung sapu lidi. Dengan segenap kekuatananya, kakinya bisa menyentuh ujung tongkat sapu lidi.
Taakkk!
Sapu lidi terjatuh dan menimbulkan suara. Salah seorang polisi yang mendengar suara benda terjatuh, langsung menghardik.
“Siapa di sana?!“ Suara itu betul-betul mengejutkan Aldian. Ia cepat-cepat menyelinap di sebuah pohon.
Di balik pohon itu, jantung Aldian berdegup keras, melawan rasa takut dan khawatir begitu memuncak. Untung saja, para polisi juga tak melihatnya menurunkan tubuh Icha.
Sepertinya, pengaruh obat bius itu sudah mulai berkurang. Rasa pusing dan berkunang sudah hilang, tapi badannya masih saja lema. Irama jantung Aldian semakin tak teratur seiring derap sepatu pancus semakin mendekat, kian dekat.
Akhirnya, Aldian keluar dari persembunyiannya. Para polisi sudah bersiaga dengan pistol tergenggam di tangan. Tangan kiri Aldian mengapit leher Icha dan tangan kanan memegang golok.
“ Turunkan pistol loe atau gua gorok lehernya!“ gertak Aldian sambil meletakkan golok itu di leher Icha. Mau tak mau, mereka harus menuruti apa yang diperintahkan Aldian agar pelaku tidak berbuat nekad. Para polisi menurunkan pistol mereka, membiarkan Aldian bergerak melewati mereka.
“Icha!“ pekik Daniel yang berada di antara kumpulan polisi bersenjata itu.
“To-to-long...“ jeritan itu terdengar lemah. Mungkin pengaruh obat bius itu belum habis sepenuhnya.
Aldian mempercepat langkah kakinya begitu dirasanya ia sudah jauh dari para polisi. Tangannya masih mengapit leher Icha.
Doorrrr!
Selongsong timah panas dimuntahkan dari ujung pistol. Aldian melolong kesakitan merasakan sakit di bagian betis. Rupanya, peluru tersebut mengenainya.
Aldian terus saja berjalan tanpa memperdulikan darah yang terus mengucur di bagian betisnya.
Melihat sang pelaku yang tidak menghentikan aksinya, seorang polisi menembakkan peluru ke bagian pangkal pahanya.
Doorrr!
Peluru kedua sudah menembus pangkal paha Aldian. Kedua kakinya lumpuh. Rasa sakitnya kini bertambah dua kali lipat. Aldian tak sanggup menahan akhirnya ambruk. Begitu pula dengan Icha. Wajah mereka terjerembap ke permukaan tanah.
Melihat kondisi Aldian sudah tak berdaya, Icha memanfaatkan kesempatan untuk bangkit dan berlari dari Aldian. Tapi sialnya, badannya masih saja lemah.
“Hehehe, jangan sepelekan khasiat obat itu. Meskipun rasa pusingmu sudah hilang, efek penghilang tenaga itu bisa bertahan sampai setengah jam dan sekarang tibalah waktumu, Icha!“ ujar Aldian dari belakang. Ia terkekeh melihat ekspresi kebingungan Icha.
Bersusah payah, Aldian bangkit walaupun dengan posisi merangkak . Langsung saja, ia meraih golok yang berada tak jauh di depannya.
Sadar bahaya sedang mengincar di depan mata, dengan sekuat tenaga ia menyeret badannya menjauhi Aldian.Aldian menghunjamkan golok itu ke arah kaki Icha. Untungnya, Icha lebih cepat mengelak, jika tidak, bisa saja golok itu akan memutuskan kakinya.
Tak hanya sekali, Aldian berkali-kali menghunjamkan goloknya membabi buta ke kedua kaki Icha. Satu hunjaman meleset, cuma mengenai tanah. Namun, Aldian tak mau menyerah begitu saja. Dan kali ini, goloknya berhasil menyayat daging pahanya.
Arrggghh!
Walau darah mengalir deras, Icha terus saja menyeret badannya menjauhi Aldian lebih cepat.
Deru nafas Icha tersengal satu-satu. Peluh bercampur debu mengotori wajah ayunya. Ia merasalelah di bagian tangan karena dirinya harus menggunakan kedua tangannya untuk menyeret badannya.
Melihat di depannya ada sebuah pohon, Icha memilih untuk berhenti. Ia betul-betul tak sanggup lagi. Ia sudah pasrah jika harus mati di tangan Aldian.
“Kelihatannya, kau sudah lelah bermain-main, Icha. Tapi biarlah. Aku akan akhiri semua di sini,“ Aldian berada tepat di hadapan Icha. Aldian menegakkan badan dengan bertumpu pada kekuatan lututnya. Ia meringis kesakitan, mengabaikan rasa nyeri dan pedih di kedua  tungkai kakinya.
“Matilah!“ golok teracung di depan matanya, siap mendarat di kepala Icha.
            Aldian mendelikkan kedua bola matanya. Tak diduga, lelehan darah mengalir dari mulutnya. Golok yang berada digenggamannya terlepas. Ia jatuh bersujud memuntahkan darah. Aldian meraba dadanya, melihat darah membasahi bajunya.
            Uhuaaaakk!
            Muntahan darah terus keluar dari mulut Aldian. Rasa kasihan muncul dalam diri Icha melihat kondisi Aldian mulai sekarat.
            “Aldian! “ pekik Icha sambil mendekati Aldian.
            “Ja-ja-ngan me-me-no-nolongku! Pergilah!“ bentak Aldian. Mulutnya dipenuhi bercak darah. Tangannya berusaha menghardik Icha agar tak mendekat.
            Icha mengeluarkan sapu tangannya, mengelap darah yang tersisa di mulut Aldian.
            “Icha..,. kau...“ Aldian tak sadar air matanya berhamburan. Aldian tak menyangka di saat dirinya berusaha membunuhnya, Icha masih sempat berbuat baik padanya. Ketika ajal akan menjemput nyawanya, ia menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Icha. Berusaha menerjemahkan arti pertolongan Icha untuknya .
            “Terimakasih Icha, aku pergi...“ suara Aldian tak terdengar lagi. Tubuh malang Aldian ambruk. Ia telah mengembuskan napas terakhir.
            Icha terpaku menatap mayat Aldian. Ia meneteskan air mata membayangkan perjalanan kehidupan Aldian yang selalu menderita. Ia hanya membutuhkan kasih sayang dari seseorang yang benar-benar menyayanginya. Tak lebih dari itu.
            “Icha, kau tak apa-apa?“ tanya Danni ditemani tiga orang polisi menemui Icha yang masih bersandar di bawah pohon.
            “Ya tapi tidak untuk yang satu ini,“
            Daniel melihat kondisi mayat Aldian dipenuhi darah di bagian kaki terutama di dada. Rasa penyesalan mendalam turut meliputi dirinya.
            “Semua sudah berakhir. Aldian sudah mendapatkan ganjarannya. Biarlah polisi yang menangani selanjutnya,“
            “Kau benar. Dan sepertinya,pengaruh obat itu sudah habis. Badanku tidak lemas lagi.“ Icha mencoba berdiri dengan berpegangan pada batang pohon di belakangnya. Icha menghampiri Daniel terpincang-pincang.
            “Ayo kita pergi.“ Danni mengajak Icha beranjak dari sana . Ia menatap mayat Aldian sekali lagi sebelum mayat Aldian dikebumikan besok.
            Suasana prosesi pemakaman hanya dihadiri oleh tujuh orang termasuk Icha, Ovy, Diana, Daniel dan tiga kerabat jauh Aldian. Tidak ada karangan bunga di sana. Batu nisan yang menancap di tanah merah menjadi saksi bahwa kehidupan manusia akan menuju pada suatu fase yaitu kematian. Kematian bisa menjemput siapa saja tidak peduli apakah kau seorang pemuda yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuanmu.
            “Mungkin Aldian akan lebih bahagia di surga sana. Ia tidak akan merasa kesepian lagi. Ia akan ditemani malaikat-malaikat surga menyenandungkan sajak-sajak indah,” ujar Icha nelangsa.
            “Kalian tahu, kepolisian akan menutup kasus pembunuhan Anji, Andy, dan Fidel. Kepolisian dan pihak sekolah akan berunding dengan orang tua pihak korban mengenai biaya santunan anak mereka—”
             “Jadi, Fidel...” potong Dian.
            Daniel mengangguk pelan. Dian tak meneruskan perkataannya.
            Sosok laki-laki yang mengawasi mereka, menghilang bagai uap air panas. Ia mengulas senyum samar dari bibirnya seraya bergumam,
            “Aku pergi...”
End

Wednesday, 18 November 2015

Tumbal Arwah Jelangkung - Dua

            Hoaamm...“ Lina menguap lebar. Dirinya barusan bangun tidur.
            Matanya dimelekkan ke arah jam dinding. Ternyata waktu menunjukkan pukul 06.00, sedangkan sekolah masuk pukul 07.15. Lina terburu-buru menuju kamar mandi dengan baju piyama masih menempel di badan. Usai mandi, dia berlari ke kamar untuk berpakaian. Keluar dari kamar pun, Lina masih dalam keadaan kurang rapi. Seragam sekolahnya masih belum dimasukkan ke dalam roknya. Rambut panjangnya belum tersisir rapi.
            “Lina, ya ampun. Lihat penampilan kamu. Seperti bukan anak sekolah saja.“ Omel ibunya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
            Dia coba menoleh ke cermin sebentar. Dan benar yang dikatakan ibunya. Dia segera mengambil sisir yang berada di sebelah cermin itu kemudian merapikan seragamnya. Yakin penampilannya sudah cukup rapi, dia langsung menuju meja makan. Di sana, Rafly—adiknya dan ayahnya duduk di meja makan, menunggu ibu menyiapkan sarapan pagi.
            “Kakak, ada apa sih teriak-teriak di kamar tadi malam?“
            “Jadi kamu juga tahu, dik?“
            “Ya jelas tahulah. Sebenarnya, aku juga mau ke kamar kakak, memastikan apa yang terjadi. Tapi, aku juga mengantuk sekali, jadi aku biarkan saja. Mungkin kakak sedang bermimpi buruk.“ tutur Rafly sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
            “Semalam kakak bermimpi, seorang perempuan hendak membunuhku. Saat kakak mau melarikan diri, tiba-tiba kaki kakak tidak bisa bergerak. Disitu, dia langsung mencekik seperti ini,“ katanya sambil berpura-pura mencekik leher adiknya.
            “Ah, sudahlah kak,“ Rafly menyingkirkan tangan kakaknya yang hendak mencekiknya. “Lagian itu cuma hanya mimpi saja, lihat sudah jam berapa ini?“ pungkasnya sambil melirik ke jam dinding.
            “Oh ya.“ Lina langsung menghabiskan nasi yang tertinggal di piringnya. Ia langsung meneguk susu yang disediakan ibunya.
            “Kami pergi ya, bu!“ sorak mereka bertiga sambil melambaikan tangan usai berpamitan.
            Ayah pergi ke kantor dengan menaiki sepeda motornya. Sementara Lina dan Rafly menunggu mobil datang. Tak lama mereka menunggu, mobil sudah berhenti tepat di hadapan mereka.
            Mobil melaju kencang membawa penumpang ke tujuan masing-masing. Terlihat dalam mobil didominasi olah anak sekolah. Mungkin yang lain diisi pegawai negeri dan swasta. Suasana dalam mobil cukup tenang. Penumpang disuguhi dengan alunan musik Pop Barat yang memanjakan telinga yang mendengarkannya. Tapi beda dengan Lina. Ia kelihatan sedang memikirkan sesuatu.
            Dia memutar ingatannya tentang mimpinya semalam. Dalam mimpinya, dia melihat sekelompok wanita sedang menyiksa seorang wanita juga. Dia terus mencoba mengingat apa gambaran yang terjadi dalam mimpinya. Namun, ia tak kunjung mendapat titik terang mengenai keempat wanita yang berada di mimpinya.
            “Ada apa, kak? Apa kakak sedang memikirkan sesuatu?“ tanya Rafly. Alisnya terangkat sedikit ke atas.
            “Gak apa-apa, kok. Kakak cuma sedikit haus saja.“ jawab Lina seraya mengambil botol minuman  di dalam tasnya. Adiknya mengangguk pelan.
            Lina membuka penutup botolnya, menenggak air yang mengalir ke dalam kerongkongannya. Sebenarnya dia tidak merasa haus. Dirinya cuma berpura-pura agar adiknya tidak mengetahui apa yang sebenarnya dia pikirkan.
            Hampir saja. Ujar batinnya.
            Tak terasa, mobil itu sudah tiba di sekolah. Lina menyetop di samping pagar utama sekolah. Bersama dengan adiknya, mereka bergegas menuju kelas masing-masing. Rafly berada di kelas X–2, Lina berada di kelas XII IPA 2. Dia melirik arloji. Ternyata 10 menit lagi, kelas akan dimulai. Untungnya dia belum terlambat. Ketika dia memasuki kelas, dia melihat seorang perempuan berdiri di tembok luar kelasnya. Dia mengenakan baju putih abu-abu. Lina tak mengamati dengan jelas bagaimana rupa wajahnya karena tertutupi oleh rambut panjangnya. Dia merinding ngeri. Gadis itu terus berdiri di tembok luar kelasnya. Lina buru-buru masuk ke kelasnya.
            “Lin, kenapa lo? Kayak habis dikejar setan,“ tanya Shanti di sampingnya.
            “Bukan dikejar tapi ngeliat setan, Shan...“ sahut Lina. Ia meletakkan tas punggung di sebelah Shanti.
            “Yang benar, Lin?“ Shanti sontak kaget.
            “ Iya, beneran. Aku tadi ngeliat pake mata kepalaku sendiri. Dia ada di tembok luar kelas kita,“ jelas Lina.
            “Ah, aku gak percaya. Aku mau mengecek sendiri.“ Shanti keluar memastikan apa yang dikatakan Lina benar.
            Beberapa menit setelah dia meninggalkan ruang kelas , dilihatnya Shanti berlari masuk ke dalam kelas .
            “Shan, lu lihat setannya, enggak?”
            “Gak ada. Malah Bu Hesty sudah mau datang.“
            Para siswa yang mengetahui bu Hesty, guru matematika mereka, akan menuju kelas, segera kembali ke meja masing-masing. Yang tadinya saling bertukar tempat duduk, kini sudah duduk rapi sambil menyiapkan alat tulis dan buku bacaan mereka.
            Akhirnya, ibu Hesti memasuki ruang kelas. Ia menyapa para siswanya.
            “Selamat pagi, anak-anak,“ sapanya dengan wajah dingin.
            “Selamat pagi, bu.“ jawab mereka serempak.
            Bu Hesty memulai pelajarannya. Sementara itu, Lina dan Shanti sedang membincangkan sesuatu.
            “Masa kamu gak ngeliat hantunya?”
            “Beneran gak ada, Lin. Mungkin kamu cuma salah lihat. Lagipula, mana ada hantu pagi-pagi gini.“ bantah Shanti.
            Ibu Hesty langsung menegur siswanya yang mengobrol saat dia menerangkan pelajaran.
            “Shanti, Lina, apakah itu suara kalian?“
            “I-iya, bu.“ jawab mereka berdua .
            “Sekali lagi ibu dengar kalian berdua berbicara, saya takkan segan-segan mengeluarkan kalian dari kelas.“
            Mendengar ancaman gurunya, mereka berdua terdiam. Mereka mencoba memberi perhatian, berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang dijelaskan. Lina yang sedang memperhatikan gurunya, konsentrasinya terganggu oleh seseorang yang berdiri di depan pintu kelas. Dia mencoba menoleh sekilas. Ternyata itu adalah perempuan yang dilihatnya sebelum ia memasuki kelas.
            Ini sungguh membuatnya terkejut. Dia kembali mengarahkan pandangannya kepada gurunya. Seperti yang dilihatnya barusan. Dia memakai baju putih dengan rok abu-abu, sedang berjalan di sekitar kelasnya. Wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang panjang. Tetapi, dilihatnya lagi dengan jelas—bola matanya kosong. Dia melirik Lina yang sedari tadi memperhatikannya. Lina terdiam tapi tak bisa memalingkan perhatiannya  dari sana. Dia terus berjalan pelan-pelan melewati kelasnya. Langkah kakinya tidak terdengar oleh siapapun seolah dia berjalan tanpa memijak lantai.
            Dia mendadak berhenti. Mengarahkan badannya, berjalan menuju jendela kelasnya. Dia hanya sebentar menampakkan dirinya. Wajahnya menempel di kaca jendela . Dia tersenyum menyeringai ke arahnya. Perasaan takut mulai menyelimuti dirinya. Keringat dingin menetes dari dahinya. Berharap, dia bisa bersuara sedikit. Tapi, jangankan bersuara, bergerak sedikitpun tak bisa.
            “Hei, kenapa lo Lin?“ tegur Shanti sambil menepuk pundak Lina pelan.
            Saat Shanti menepuk pundaknya, baru dia bisa berbicara dan bergerak bebas. Tidak seperti tadi. Semua sendi-sendi di tubuhnya terkunci begitu pula dengan mulutnya.
            “Shanti... Lina...“ tegur gurunya.
            “Nanti kita bicarakan di kantin.”
            Bel tanda istirahat sudah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas. Sebagian memilih ke kantin dan sebagian lagi memilih di dalam kelas. Dua perempuan berjalan santai menuju kantin. Keduanya akrab dan intim seperti saudara kandung. Tak terasa mereka sudah sampai di kantin. Mereka mengambil makanan ringan seperti roti, wafer atau jajanan lain ditambah dengan aqua gelas. Mereka mencari tempat duduk terujung. Kebetulan, suasana kantin tidak terlalu ramai.
            “Lin, kenapa kamu dari tadi ngeliat jendela mulu? Emangnya ada apa sih di jendela?“
            “Hantu itu terus saja menatap aku, Shan. Kamu tahu, wajahnya pucat banget walaupun tertutup sama rambut panjangnya. Dan yang lebih menyeramkan lagi, bola matanya kosong...“
            “Itu cuma perasaan kamu aja, Lin. Kamu keliatannya kayak kurang tidur. Makanya kalau tidur, jangan terlalu larut. Ya sudah, bayar dulu makanan sama minumanmu, kita masuk ke kelas.“
            Mereka bergegas sambil memberikan beberapa uang kepada tukang kantin. Keduanya berlari kecil menuju ruang kelas.
            Proses belajar masih berlanjut. Para murid terlihat serius tetapi ada juga murid yang duduk di bangku terbelakang mencuri kesempatan, membicarakan sesuatu yang tentu topiknya hanya mereka yang duduk sebangku yang tahu. Selain itu, ada juga murid yang terlihat serius memperhatikan, tetapi gurunya tahu, perhatiannya bukan tertuju dengan apa yang dijelaskannya, tetapi pikirannya entah melayang ke mana. Juga, mereka tidak mengetahui bahwa mereka sedang diawasi oleh sosok yang tak kasat mata.
            Tak terasa pelajaran sudah berakhir. Bel tanda pulang berdering nyaring. Guru pun menyudahi pelajaran mereka hari ini sambil keluar dari ruangan kelas. Begitu guru mereka keluar, para murid berdesakan mendahului satu sama lain.
            Di sisi lain, dua perempuan terlihat gelisah. Mereka duduk menunggu seseorang datang.
            “Mana nih si Doni dan Prakoso? Sudah hampir setengah jam ini kita menunggu di sini,“ keluh Lina.
            “Kita tunggu saja sebentar lagi. Pasti mereka datang kok,“ sahut Shanti tenang.
            “Maaf, kami telat,“ suara lelaki menyela di tengah percakapan mereka.
            Tiga orang lelaki berada tepat di hadapan mereka. Lina hanya mengenal Doni dan Prakoso tapi dia tak mengenal satu laki-laki yang bersama dengan mereka.
            “Don, ini siapa?“ tanya Lina sambil menunjuk ke arah laki-laki itu.
            “Oh, ini namanya Indra.  Perkenalkan bro, ini teman-teman gue,“ ujar Donni sambil memperkenalkan Lina dan Shanti.
             “Lina,“ sapa Lina sambil menjabat tangan laki-laki itu.
            Disusul satunya lagi, “Shanti.“
            Mereka berencana melakukan ritual pemanggilan jelangkung sekali lagi di rumah kosong itu. Sebenarnya, Indra bukanlah teman satu geng mereka. Sebelumnya, Heru sudah meminta izin kepada Doni. Dia tidak bisa ikut dengan mereka karena dia pergi kerja kelompok dengan teman-temannya. Hal ini tidak membuat Doni kehabisan akal. Ia mengajak teman sebangkunya, Indra. Indra tak menolak sama sekali ajakan mengikuti ritual pemanggilan jelangkung bersama teman-temannya nanti. Dia sendiri sangat menyukai hal-hal berbau mistik dan supranatural seperti jelangkung, pelet, susuk dan sebagainya. Lagipula, ayahnya Indra juga seorang paranormal.
            Doni sudah membuat janji kepada teman-teman nya untuk melakukan ritual itu hari ini tanpa memberitahu kepada mereka bahwa ada seseorang yang akan bergabung ,
            “Don, kamu kenapa sih ngajak anak orang? Ini tuh terlalu berbahaya. Gak ingat apa kejadian yang semalam itu,“ bisik Lina sambil menyikut pinggang Doni.
            “Biarin aja, lagipula dia juga mau kok.“ pungkas Doni.
            Sedang asyiknya berbincang, seorang wanita dengan menggunakan pakaian dinas pegawai negeri lewat di hadapan mereka.
            “Apa yang kalian lakukan di sini?“ tanya wanita itu.
            “Oh, enggak ada apa-apa, bu. Cuma mau diskusi tentang pelajaran saja,“ ujar Donni sekenanya.
            Lina dan Shanti menyadari bahwa mereka sedang berbicara dengan guru matematika mereka, ibu Hesty.
            “Benarkah kalian membicarakan tentang pelajaran? Tapi sekilas ibu mendengar kalian berbicara tentang jelangkung?“ ibu Hesty mencecar mereka dengan beberapa pertanyaan.
            “Serius, bu. Kami gak bicara hal-hal lain apalagi jelangkung.“ Indra berbicara sedikit keras agar bisa meyakinkan jawaban mereka pada ibu Hesty.
            “Hmmm, bagus. Lagipula, ini zaman teknologi. Dan kalian ini, orang-orang berpendidikan jangan mudah percaya oleh hal-hal yang tak masuk di akal.“ tutur ibu Hesty dingin.
            “Ya, bu.“ jawab Prakoso singkat.
            Setelah ibu Hesty selesai menasihati mereka, dia beranjak pergi dari hadapan mereka .
            “Jadi, jam berapa kita akan memulai ritual?“ tanya Prakoso.
            “Seperti biasa, jam 10 malam. Dan untukmu Lina, jangan bawa parnomu kali ini supaya ritual kita berjalan lancar, kau mengerti?“
            “Aku mengerti, Don.” Jawab Lina cemberut.
            Akhirnya mereka pergi setelah kesepakatan sudah disetujui oleh mereka semua.
            Malam telah tiba. Jam dinding menunjukkan pukul 09.20. Lina hanya memperhatikan jam dinding yang terpaku di dinding kamarnya. Dirinya masih berbaring di atas ranjangnya. Bingung, apakah dia harus membatalkan rencananya atau tidak.
            Tergambar jelas bagaimana wajah menyeramkan hantu yang mengamatinya dari luar jendela. Dirinya dilanda ketakutan ketika hantu itu memperlihatkan wajahnya yang berkopeng dengan bola mata kosong, tersenyum menyeringai padanya. Dia beruntung tidak langsung menjerit. Ia masih bisa mengendalikan dirinya. Tapi yang pasti, jika seseorang melihatnya langsung dengan mata kepala mereka sendiri, tentunya, mereka akan berteriak kencang dan lari terbirit-birit.
            Badannya pun bergidik ngeri membayangkan kengerian yang di alaminya. Sekali lagi, dirinya bimbang akan keputusannya untuk ikut bersama dengan teman-temannya. Matanya sesekali mengedarkan pandangannya di sekitar kamarnya kemudian memejamkan mata untuk berpikir. Di alam pikirannya, dia berusaha menguatkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Ia meyakinkan diri bahwa kejadian yang dialaminya semalam mungkin karena keteledorannya. Sehingga, membuat penunggu di rumah kosong itu marah. Lina sudah bulat dengan apa yang direncanakannya. Lina membuka mata, beringsut dari ranjangnya. Disambarnya sweater merah marun dan ranselnya kemudian bergegas membuka pintu kamarnya.
            Diraihnya gagang pintu lalu dibukanya sedikit. Diintipnya dari luar. Dia tidak melihat siapapun. Melihat kondisi sudah aman, Lina melebarkan celahpintu, meninggalkan kamarnya. Ketika berjalan menuju pintu luar, ternyata ibunya sedang asyik menonton televisi. Bola mata Ibunda Lina melirik anak perempuannya memakai jaket sembari memanggul ransel.
            “Kamu mau ke mana, nak? Kerja kelompok lagi?“
            “Ya, bu. Ini mendadak sekali. Temanku saja baru meng-SMS-ku supaya cepat datang ke rumahnya.“
            “Kenapa bukan besok saja kalian mengerjakannya? Ini ‘kan sudah malam. Tidak baik anak gadis keluar malam-malam begini,“ ibunya coba memperingatkan Lina.
            “Tidak mungkin besok, bu. Tugas ini dikumpul besok. Ya, pasti hari ini dan malam ini juga harus disiapkan.“ ungkap Lina tegas.
            “Ya sudahlah. Hati-hati. Nyalakan terus handphone-mu. Hubungi ibu jika ada hal yang mengganggumu.“ Ibunya berat hati mengizinkannya pergi.
            “Ya bu, pasti. Kalau begitu, aku pergi dulu.“ Lina berbalik badan menjauhi ibunya.
            Ibunya mengangguk pelan seraya berjalan,mengengsel pintu rumah tapi tak menguncinya.
            Usai keluar dari rumah, Lina bergegas melangkah menuju rumah kosong, tempat mereka bertemu. Saat dia berjalan, angin malam bertiup sepoi. Dinginnya angin malam menyentuh rambut-rambut halus di tangannya hingga membuatnya berdiri.
            10 menit telah berlalu. Sampai juga dirinya di rumah tersebut. Cukup besar dan kelihatan mewah untuk sebuah rumah lama yang ditinggal pemiliknya. Dari berbagai cerita yang didengarnya dari warga sekitar, rumah itu dulunya di tempati oleh orang kaya. Tapi, beredar rumor bahwa di rumah itu juga telah terjadi pembunuhan keji yang pelakunya belum bisa ditemukan pihak kepolisian.
            Pintu rumah kosong terbuka. Ada perasaan aneh menjalar dalam dirinya. Lina merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya sewaktu dia ingin masuk ke dalam rumah itu.Ia melangkah pasti setelah menepis rasa takut dan ragunya. Teman-temannya tampak resah menunggu kedatangan dirinya.
            “Hey, lama sekali,“ tegur Shanti.
            “Iya, kami hampir saja mau pulang. Ritual ini takkan berjalan lancar kalau kita kurang satu orang.“ tambah Prakoso.
            “Sudahlah, lebih baik kita segera mulai saja ritual ini.“ tutup Indra.
            Semua mengangguk pertanda setuju dengan apa yang dikatakan Indra. Lina yang baru saja datang mengambil posisi di dekat Donni. Ada yang ganjil dalam dirinya. Diam-diam, dirinya menaruh rasa pada Donni . Namun, angannya buyar ketika teman-temannya sudah mempersiapkan diri, berkonsentrasi memanggil roh halus dari dunia lain.
            Mereka mengerahkan perhatian pada boneka jelangkung. Indra menjadi juru kunci yang memimpin ritual. Mulutnya berkomat-kamit merapal mantra.
            Jelangkung jelangsetdi sini ada pesta
            pesta kecil-kecilan 
            Jelangkung Jelangset datang tak di jemput
            pulang tak diantar
            Mantra itu terus berdesis dari mulut mereka. Semakin intens mantra itu diucapkan, mantra itu semakin tak terdengar jelas. Namun nampaknya, boneka itu tak menunjukkan tanda telah dirasuki bahkan tak goyang sedikit pun.
            Indra heran kenapa boneka itu tidak menunjukkan tanda-tanda sudah kemasukan, segera menghentikan ritual.
            “Tolong, hentikan sebentar!“ perintah Indra.
            “Ada apa, Ndra?“ tanya Doni.
            Indra diam sebentar. Dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi. Dia menduga pasti ada yang salah saat dia melafalkan mantra pemanggil roh. Atau mungkin, salah satu temannya tidak fokus memanggil roh halusagar merasuki boneka.
            “Roh halus yang kita panggil tidak kunjung datang,“ kata Indra.
            “Kalau begitu kita coba lagi.“ tegas Prakoso.
            “ Ya, kita ‘kan coba lagi.“ ulang Indra lagi.
            Mereka semua setuju mengulangi ritual. Sekali lagi, Indra melafalkan mantra pemanggil roh. Donni dna kawan-kawan mencoba menaruh konsentrasi memanggil roh halus dari dunia lain agar merasuki boneka. Hampir 15 menit berlalu, boneka tetap bergeming. Indra juga merasa tidak ada yang salah dengan mantra yang diucapkannya.
            “Ada apa dengan boneka ini? Apa boneka ini sudah tidak berguna lagi?!“ maki Prakoso seraya mengambil boneka itu. Dengan geramnya, Prakoso melempar boneka itu ke pekarangan rumah.
            “Hey, Prakoso apa yang kau lakukan?“ Donni tersentak dengan perlakuan Prakoso.
            “Biarkan saja boneka itu. Pun, boneka itu sudah tak punya kekuatan untuk mengundang arwah lagi. Aku tidak akan main jelangkung dan jangan ada yang mengambil boneka itu lagi.“ tandas Prakoso seraya bangkit berdiri dari tempat duduknya.
            Suasana semakin panas. Ia mencoba menenangkan Prakoso dan Donni dengan mengajak mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Indra juga ingin pulang ke rumahnya, mengadukan masalah mantra pemanggil roh kepada ayahnya.
            Akhirnya semua sudah pulang dari rumah kosong. Malam semakin larut. Tak satu pun bintang-bintang menampakkan cahayanya di langit gelap. Bulan purnama berpendar, menghantarkan aura mistis ke dasar bumi. Hening dan sepi. Tak terdengar suara jangkrik ataupun kodok-kodok bernyanyi riuh. Kesunyian mencekam dan bisa saja membunuh nyali.
            Tapi tak masalah bagi Prakoso. Walaupun rumahnya jauh, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan hal itu. Orang tuanya pun takkan mencari dirinya karena sampai sekarang kedua orang tuanya masih bertugas di Riau . Kini yang tinggal di rumahnya, hanya mbak Sinda, pembantu rumah tangga dan adiknya, Melly, yang masih duduk di bangku SMP.
            Prakoso berfokus dengan sepeda motor dan jalan yang berada di depannya. Dia masih memacu sepeda motornya sangat hati-hati walaupun jalan terlihat begitu lengang.
            Angin malam bertiup lembut, menerpa wajah halusnya yang tanpa jerawat. Kulit wajahnya dingin. Untungnya dia memakai jaket dan shalf yang membungkus lehernya. Namun, angin malam masih bisa menembus celah-celah kecil dalam jaketnya. Bola matanyatertuju pada arlojinya. Jarum panjang dan pendeknya menunjukkan pukul 23.00.
            Dia menambah kecepatan motornya hingga spedometer menunjuk ke 70 km/jam. Saat dia mencoba menarik gas sepeda motornya, jok belakang terasa berat seperti ada yang mendudukinya. Prakoso merasa demikian. Namun, ia sama sekali tak menghiraukan dan menarik gas sepeda motor hingga habis. Bukannya semakin cepat, laju sepeda motornya ogah-ogahan seperti ibu bunting tujuh bulan.
            Merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sepeda motornya,  pandangan Prakoso tak sengaja tertuju pada kaca spionnya. Dia melihat sejuntai rambut panjang menutupi sebuah wajah. Perasaan tak enak menyelimuti hati Prakoso. Dia tak berani menoleh ke belakang, tapi tubuhnya seolah-olah menyuruhnya untuk melihat ke belakang.
            Jantungnya hampir lepas dari dadanya begitu melihat wujud makhluk astral di jok belakang. Sebuah wajah perempuan yang kulitnya berkopeng, mengeluarkan aroma busuk yang menusuk penciuman. Ratusan belatung memakan setengah dari daerah wajahnya. Siapapun yang melihatnya  pasti takkan sanggup menahan rasa mual. Ia menyeringai seraya memperlihatkan bola matanya yang kosong.
            “Selamat datang kawanku,“ sosok wanita menyeramkan itu mendesis di telinga Prakoso.
            Teriakan dari mulut Prakoso memecah keneningan. Dirinya tak mampu mengendalikan ketakutan dan kepanikan yang luar biasa. Ia lepas kendali. Sepeda motornya oleng diikuti oleh kemudinya.
            Tanpa disadarinya, sebuah truk besar melaju kencang menuju arah sepeda motornya. Jarak Prakoso dengan truk besar hanya sekitar 20 meter lagi.
            Lampu sorot panjang menerpa wajah Prakoso, menyilaukan pandangan matanya. Ia tak sempat mengelak. Semuanya terjadi begitu cepat.
            “Aaaaaaaaaaaaaaa!!!“
            Bagai ledakan dua meteor yang bertabrakan di antariksa. Tubuh Prakoso dengan sepeda motornya terempas jauh, hampir hancur lebur. Truk besar itu hanya berlalu saja tanpa memperdulikan apa yang barusan ditabraknya. Sosok wanita seram itu tertawa cekikikan memandangi tubuh malang Prakoso seraya menghilang bak uap air panas.