Wednesday, 12 April 2017

Sang Novelis - 14



Obrolan Pertama dengan Sang Penulis
            19 Desember 2012
            Jika direnungkan secara mendalam, sebenarnya tidak ada momen yang benar-benar tepat untuk melakukan suatu kemajuan diri. Ketika ingin memulai langkah pertama untuk berubah, kendala bisa saja datang darimana saja. Dari luar lingkungan maupun diri sendiri. Tapi kendala dari diri sendiri terkadang membuat kita kesulitan menjejakkan langkah pertama. Perlu motivasi kuat dan konsistensi untuk menjejakkan langkah pertama. Tanpa motivasi kuat dan konsistensi, kendala yang sebenarnya sepele, bisa menjadi alasan yang bisa menghancurkan kemajuan itu sendiri.
            Dan bicara soal motivasi dan konsistensi, perempuan yang satu ini sudah mempunyai dua hal tersebut. Ia sudah bertekad untuk berbicara dengan penulis novel Last Holiday via Facebook Messanger.
            Seusai makan malam perempuan itu langsung menuju kamar. Ia membuka laptop yang sedari pagi tergeletak di atas meja. Begitu laptop menampakkan wallpaper, perempuan itu menancapkan modem ke dalam USB. Saat modem sudah terhubung ke internet, dia membuka shortcut Mozila Firefox lalu mengetik halaman sebuah media sosial.
            Sebelumnya perempuan itu agak ragu memulai percakapan dengan seorang penulis yang bisa dikatakan terkenal. Bisa saja sang penulis sedang sibuk membuat workshop atau seminar kepenulisan di sekolah, kampus, toko buku atau tempat-tempat penting lainnya. Hal itu yang sempat membuat dirinya enggan bertanya kepada penulis itu.
            Tapi kali ini, dia sudah memiliki motivasi yang menguatkan dirinya, bertanya kepada penulis idolanya itu. Mengetahui seluk beluk teknik menulis yang baik.
            Ketika halaman Facebook perempuan itu sudah terlihat, dia mulai menekan tuts keyboard mencari nama penulis yang ia inginkan.
            Ini dia, ucap perempuan itu dalam hati begitu nama profil Facebook yang ia cari sudah ditemukan.
            Sudah menjadi suatu kelaziman mengucapkan sebuah kata sapaan kepada orang yang belum dikenal.
            Selamat malam, Bang.  
            Tiga kata itu dipilih sebagai pengantar percakapan dirinya dengan sang penulis. Sambil menunggu balasan, ia memilih membuka halaman lain. Tak menunggu lama, notifikasi obrolan langsung muncul di beranda Facebook perempuan itu.
            Selamat malam juga. Ada apa?
            Kata “ada apa” menunjukkan kalau sang penulis tidak suka berbasa-basi apa orang yang tidak dikenal. Tapi perempuan itu memilih bertanya-tanya seputar penjualan novel Last Holiday yang jika dilihat menduduki peringkat penjualan terbaik di tiga bulan ini. Dan dengar-dengar novel Last Holiday sudah dua kali cetak.
            Puji Tuhan, novel Last Holiday cukup memuaskan, jawab penulis itu.
            Dia mulai bertanya kepada penulis itu bagaimana pertama kali mendapatkan ide menulis novel Last Holiday.
            Jika berbicara tentang ide, sebenarnya, ide menulis suatu novel bisa didapatkan dari mana saja. Pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain. Tidak peduli pengalaman itu baik atau buruk, hal itu bisa kau jadikan sebagai inspirasi dalam menulis novelmu.
            Melihat beberapa kata yang terderet dalam percakapannya dengan penulis itu, dia memilih mengambil sebuah notes kecil dan menulis apa yang dikatakan penulis itu sebelum melanjutkan percakapan itu lagi.
            Abang pernah mengalami kendala dalam menulis?
            Kalau kendala, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan penulis terkenal di atas saya sekali pun, pernah mengalami kendala dalam menulis. Misalkan saja buntu ide di awal menulis kalimat pertama. Bisa juga penulis mengalami kebuntuan ketika di pertengahan cerita atau ketika mengakhiri cerita. Saya sendiri ketika mengalami yang namanya kebuntuan, hal yang saya langsung yakni berhenti. Bukan berhenti sebagai penulis maksudnya. Berhenti sejenak dari kegiatan menulis. Kamu bisa membaca buku referensi lain berkaitan dengan apa yang sedang kamu tulis. Ada juga cara lain seperti berolahraga atau tidur beberapa menit atau jam. Tapi kalau kamu bilang kendala seperti tidak punya waktu untuk menulis atau tidak punya talenta yang cukup untuk memulai menulis, yang harus kamu lakukan, menurut saya, adalah bertanya pada diri sendiri, apakah kamu benar-benar ingin menjadi seorang penulis? Yang kedua, apa motivasi terkuatmu yang menjadi pondasi dalam menulis. Dan yang terakhir, jika sudah menjawab kedua pertanyaan di atas, berdoalah kepada Tuhan dengan tulus supaya Dia memberikan waktu untukmu menulis.
            Sambil menulis di atas notes, perempuan itu menghayati kata demi kata yang tertulis di layar laptopnya. Satu hal yang memang menjadi kendala dalam menulis—dia tidak sungguh-sungguh menyelesaikan tulisan. Ada beberapa tulisan yang sampai saat ini belum diselesaikan tapi sudah masuk ke tulisan lainnya. Meskipun kali ini dia mempunyai satu tulisan yang sedang ingin diselesaikan, itu pun waktu pengerjaannya sudah memakan waktu tujuh bulan karena perempuan itu sering menulis ketika mood sedang baik. Jika mood sedang tidak enak, bisa saja dia tidak menulis selama seminggu lebih.
            Sebenarnya, ada tidak teknik menulis yang baku dan standar?
            Perempuan itu menuliskan pertanyaan itu. Karena kelopak mata sudah begitu berat untuk diangkat. Badan terlalu lelah dipaksakan bertahan di depan layar laptop.
            Sebenarnya tidak ada teknik menulis yang benar-benar bisa dilakukan semua orang jika mereka ingin menulis. Kalaupun ada penulis terkenal atau ahli kesusastraan di dunia ini menulis buku tentang teknik-teknik menulis yang jitu dan ampuh sekali pun, belum tentu semua orang bisa menerapkan itu. Semua orang punya gaya dan keunikan masing-masing dalam teknik menulis. Jika kamu membaca buku tentang teknik menulis, kamu bisa meniru cara atau langkah yang dianjurkan. Tapi tidak semua. Itu menurut diri sendiri yang benar-benar bisa kamu lakukan. Dari semua yang terdapat dalam buku teknik menulis, yang mereka inginkan tetap satu. Menjaga konsistensi minat setiap calon atau para penulis dalam kegiatan menulis. Itu menurut saya.
            Walau penulis itu tak mengungkap apa yang dibicarakan lewat lisan, perempuan itu menggangguk beberapa kali menyetujui apa yang katakan penulis itu. Lagi-lagi, dia mendapatkan satu kesalahan lagi. Tapi hanya perempuan itu yang tahu apa kesalahan itu.
            Ini sudah tidak bisa tertahankan lagi. Perempuan itu menutup percakapan dan berkata dia akan beetanya-tanya lagi soal dunia kepenulisan. Penulis itu tidak keberatan berbagi cerita, pengalaman, atau penjelasan kepada perempuan itu. Ketika laptop benar-benar tak aktif, dia melangkahkan kaki menuju ranjang peristirahatan empuk dan nyaman.

Friday, 7 April 2017

Sang Novelis - 13



Izin Kepergian
            17 Maret 2016
            Saat kedua jari Ervano memainkan Samsung Galaxy TAB miliknya, suara klakson mengganggu kesenangannya saat ini.
            “Biar aku saja yang lihat,” ujar sang istri sambil meninggalkan sebuah sendok beroleskan mentega.
            Sebenarnya bisa saja lelaki itu melihatnya keluar, tapi ia dalam kondisi pakaian tidak sopan. Mengenakan sebuah kaus kutang dan celana pendek biru muda. Lagi, ia sedang membaca sebuah koran online mengenai sidang kasus pembunuhan Marina.
            “Biasa. Manajer kamu,” ucap Liane. Ia sudah berdiri di hadapan suaminya.
            Sambil melirik jam bulat di atas dinding, pikiran Ervano berkata, Ada apa dia pagi-pagi datang ke rumahku. Adakah hal yang penting?
            Kali ini, ia meletakkan TAB-nya di atas meja. Ervano memilih mengenakan pakaian lebih sopan. Sebuah kaus kemeja biru berkerah dan sebuah celana jins hitam. Buru-buru, ia menuruni tangga berbentuk agak spiral itu.
            Sudah berada di pintu luar, Ervano menyuruh satpam yang berjaga membukakan pintu untuk manajernya.
            “Pak Sakin, buka gerbangnya,” suruh Ervano sambil berdiri, menunggu di depan pintu luar rumah.
            Begitu mobil sang manajer masuk ke pekarangan, Ervano langsung menghampiri.
            “Ayo masuk, Violana,” ajak Ervano.
            “Enggak usah.Aku malah mau kamu cepat-cepat mandi dan ganti pakaian. Ada hal yang penting ingin kuberitahu padamu,” tolak Violana sambil tetap duduk di dalam jok mobil.
            “Hal penting apa? Kan bisa juga kita bicarakan di teras rumahku,” tawar Ervano. Sebenarnya, hari ini Ervano malas keluar rumah. Makanya, ia menawarkan untuk berbincang di teras rumah.
            “Ini penting, Ervano Hansloffa. Ini penting,” balas Violana dengan penekanan kata ‘penting’ dalam perkataannya.
            Tanpa mau bertanya lagi, Ervano masuk lagi ke dalam rumah. Dengan dongkol hati, ia menaiki tangga lagi menuju pintu kamar.
            “Apa yang dibicarakan oleh manajermu?”
            “Entahlah. Katanya urusan yang penting. Oh ya, kamu enggak pergi ke percetakan lagi?” tanya Ervano balik.
            “Ya sebentar lagi. Kira-kira, jam sembilan. Tinggal mengerjakan tiga puluh eksemplar lagi untuk pemesanan novel Otak Pikiran,”
            “Good succesfor you, Liane,” pungkas Ervano dengan ulas senyum kecil di bibirnya. Langkah yang sempat terhenti karena pertanyaan sang istri, ia lanjutkan lagi. Ervano tak mau membuat manajernya lama menunggu.
***
             Sudah jauh dari rumah Ervano. Violana membuka percakapan lebih dulu.
            “Kau punya rekomendasi tempat yang cocok berbincang empat mata?” sambil mengerling mata pada lelaki di sampingnya lalu fokus pada setir.
            “Booktarian Cafe? Kamu pernah dengar?” usul Ervano.
            “Belum. Memang di mana lokasinya?”
            “Dekat Glodok LTC. Jarak kafe itu kira-kira empat blok dari Glodok LTC,” jawab Ervano, rinci.
            Violana memilih menimbang-nimbang usulan dari Ervano. Tapi tak butuh banyak waktu bagi Violana memikirkan jawabannya.
            “Boleh juga. Jalan-jalan sambil menenangkan pikiran.”
            Perempuan berkemeja kotak-kotak merah putih melirik Ervano sekejap. Ia mengulas senyum kecil sambil berfokus pada setir.
***
            Daerah parkir di kafe ini cukup besar. Diperkirakan bisa menampung empat mobil dan sepuluh sepeda motor. Violana memilih memakirkan mobilnya di sudut tempat parkir.
            “Silakan turun,” suruh Violana sopan.
            “Terimakasih,” jawab Ervano.
            Begitu sampai di pintu masuk, Ervano membukakan pintu masuk untuk sang manajer. Kemudian, disusul lelaki berkaos kemeja biru itu.
            Ervano memilih tempat duduk yang berada di meja nomor empat belas. Meja berbentuk persegi panjang dengan kursi berbentuk persegi panjang pula. Tapi Ervano sempat melihat ekspresi takjub yang tak sengaja dipancarkan sang manajer lewat wajah. Di bagian asbes kafe itu terdapat, beberapa buku yang digantung menggunakan tali. Keduanya bisa melihat kalau buku-buku yang digantung merupakan buku-buku bestseller yang biasanya sering terpajang di toko buku.
            Selain itu, tiga rak buku berbentuk aneh tapi tak mengurangi unsur kreatif dan tema yang diusung pihak pengelola kafe. Rak pertama dan kedua berada di bagian pemesanan makanan sekaligus memesan lagu untuk para pembaca buku yang ingin menikmati suasana membaca buku dengan alunan musik.
            Kafe ini juga terbagi menjadi dua tempat. Satu tempat tanpa musik dengan pembatas kaca dilengkapi anti kedap suara. Dan satu lagi, untuk para pembaca buku yang menginginkan musik. Dan rak ketiga, berada di pertengahan ruang pertama dan kedua.
            Rak ketiga berisi buku-buku nonfiksi di antara lain: buku panduan, biografi, kamus bahasa asing, kamus bahasa Indonesia, motivasi, pengembangan diri, dan lain-lain. Ervano dan Violana memilih ruang pertama tanpa musik.
            “Konsep yang unik. Jarang ada kafe memakai konsep seperti ini,” ujar Violana.
            “Oh ya, kamu pesan apa? Makanan dan minuman?” tanya Ervano.
            “Jus alpukat saja. Aku tidak selera makan hari ini.”
            Ervano menuju tempat pemesanan menu sambil mengatakan pesanan yang diinginkan sang manajer juga dirinya. Usai mengatakan pesanan mereka, Ervano balik lagi ke meja bersama dengan Violana.
            “Aku baru ingat. Kamu mau omong apa sewaktu di rumah?”
            Sebelum mengatakan maksud perkataannya sewaktu berada di rumah Ervano, Violana memilih berdeham lebih dahulu sambil menarik napas pelan.
            “Kau tidak menonton berita di televisi rumahmu?”
            “Nonton. Tapi lebih sering berita-berita olahraga sama yang sedang update akhir-akhir ini. Berita persidangan kasus pembunuhan Marina.”
            “Bukan. Bukan itu. Berita pembunuhan sekitar lima hari lalu di Cirebon. Namanya Rajaf Raksana. Pernah nonton?”
            Sambil mengingat apa yang telah ditontonnya beberapa hari lalu, ada ide yang tiba-tiba melintas di otak.
            “Oh itu. Ada apa dengan berita itu? Kamu masuk peliputan berita itu?” canda Ervano.
            “Tidak. Rajaf Raksana itu temanku. Teman semasa kuliah.”
            “Oh, terus?” tanya Ervano yang mulai tak tertarik dengan apa yang dikatakan sang manajer.
            “Aku mau melayat ke rumahnya. Aku hanya minta izin beberapa hari ini saja. Bisa?” tanya Violana, ingin memastikan.
            “Hmmm. Oke. Unutng saja, waktu kamu pergi ke Garut selama seminggu, kamu tepat datang ke Jakarta tiga hari sebelum acara bedah buku. Tapi sekarang, tidak acara apa-apa. Kamu mau pergi ke mana saja, ya terserah. Aku punya ide untuk novel baruku tapi bisa saja dibicarakan setelah kamu tiba di Jakarta lagi,” ungkap Ervano panjang lebar.
            “Bapak Ervano, pesanan Anda sudah siap,” panggil suara perempuan yang berada di seberang jauh meja keduanya.
            Ervano menoleh ke arah sumber suara itu. Saat tahu pesanannya sudah siap, lelaki itu melangkah menuju barista yang sudah meletakkan nampan pesanan di atas bartender. Ervano meletakkan pesanan jus alpokat di hadapan manajernya sedangkan pesanan nasi goreng, ia letakkan sendiri.
            “Tapi boleh aku bertanya satu hal padamu?” tanya Violana sambil menyeruput jus alpukat itu, sekali seruputan.
            “Apa itu?” tanya Ervano lagi.
            “Apa istrimu tak pernah mengeluh atau cemburu ketika kita bersama-sama?”
             Sambil mengunyah sesendok nasi di dalam mulut, Ervano menjawab pertanyaan sang manajer.
            “Pernah aku bertanya pertanyaan yang kamu tanyakan itu tapi istriku menjawab tidak. Dia yakin kalau kedekatan kita berdua cuma sebatas rekan kerja.”
            “Istrimu orang baik, Ervano. Kamu jangan menyia-nyiakan dia. Kamu tahu, perempuan makhluk super sensitif jika melihat pasangannya dekat-dekat dengan orang lain meskipun itu atas nama profesionalisme kerja,” jelas Violana.
            “Bagaimana dengan kamu, manajerku, Egath Violana? Kamu enggak berkeinginan mencari pendamping hidup di usiamu yang menginjak keduapuluh enam ini?”
            “Tidak,” jawab Violana singkat, “tapi, kamu akan tahu kok siapa pria idamanku selama ini.” Violana menggoreskan lengkung senyum sebagai penutup perkataannya sambil menyedot kembali jus alpukat.
            Ervano tak ingin bertanya lagi. Ia memilih menikmati nasi goreng yang belum habis setengah. Ia tak mau berpusing-pusing memikirkan siapa pria idaman yang dimaksud sang manajer.
            Lapar sudah meraja dalam perut sejengkalnya.

Friday, 24 March 2017

Sang Novelis - 12



Everything About Her
            Aku ingin menjadi penulis terkenal.
            Kecintaan begitu besar akan dunia literasi dimulai saat dirinya di bangku Sekolah Dasar. Buku apapun selalu menjadi teman setia kala waktu senggang. Kalau teman-teman sepermainan memilih bermain-main atau bercengkerama, ia lebih memilih menutup pintu kamar. Menghabiskan waktu berdua bersama buku-buku kesayangan.
            Buku bagai kawan yang tak banyak komentar. Buku menghadirkan susunan kata per kata yang memilih sukarela menghibur kalau dunia nyata hanya menebar sunyi dan senyap. Buku bagai kawan yang tak mengecewakan. Karena dia akan memberimu suatu pandangan baru dan dunia baru yang mungkin belum pernah kautemui sebelumnya. Orang-orang baru dengan sikap berbeda, latar belakang berbeda dan fisik serta mental berbeda.
            Meski sering bergaul dengan buku-buku, ia masih bergaul dengan teman-teman sebaya. Walau hanya sekedar bertegur sapa.
            Suatu kali, ada lelaki nakal mencoba mengganggu kemesraan dirinya dengan buku kesayangannya.
            Perempuan itu duduk di bangku taman mini. Dua lelaki nakal dengan tawa menjengkelkan menghampiri perempuan itu.
            “Buku apa sih yang kamu baca?” tanya lelaki nakal itu sambil menarik paksa buku yang dipegang perempuan itu.
            “Kembalikan! Kembalikan buku itu!” jerit perempuan itu. Tak rela ‘kekasih’nya diganggu orang lain.
            Sambil melihat-lihat isi buku secara cepat, ia melempar buku itu tepat di muka perempuan itu.
            “Dasar cewek aneh! Emangnya buku itu bisa kamu ajak ngomong dan main-main?!”
            Perempuan itu memilih tak menjawab. Ia memilih bungkam sambil menatap nanar lelaki yang sedang mencibir dirinya.
            “Ayo teman-teman. Kita tinggalkan cewek aneh ini,” ajak lelaki berpostur gempal dan pendek. Tak lupa sebelum pergi, ia menempeleng kepala perempuan itu sambil tertawa mengejek.
            Sebelum pindah ke tempat lain, ia memilih menatap penuh kesal, ketiga lelaki jahil yang baru saja mengusili dirinya.
***
            Kalau para perempuan puber menyibukan diri dengan trend pakaian dan kosmetik, perempuan satu ini memilih enggan mengikuti. Ia lebih nyaman dengan model standard anak SMA ditambah kacamata bertengger di depan kedua mata.
            Disibukkan pula dengan gonta-ganti pacar. Cari pacar dengan lelaki yang mempunyai reputasi cemerlang di sekolah. Tapi sekali lagi, perempuan itu tidak terlalu memikirkan apa itu pacar dan lika-liku menarik dalam dunia pacaran.
            Bagi dirinya, pacar terbaik adalah buku. Ia bisa saja membeli novel romansa dengan berbagai lika-liku cinta cukup menguras emosi. Dari berbagai pengarang, negara dan latar belakang. Tapi novel romansa dari luar negeri selalu menarik perhatian dirinya. Dari novel-novel romansa yang selama ini dibaca, setidaknya mengetahui bagaimana seluk-beluk dunia pacaran dan percintaan sepasang kekasih. Menilai semua itu dengan sudut pandang yang ia ciptakan sendiri.
            Melalui membaca, impian yang semula ia ragukan, mulai menuntut untuk segera direalisasikan. Menjadi seorang penulis terkenal.
            Satu langkah kecil sudah dilakukan untuk menggapai impian itu—membaca. Seseorang yang gemar membaca, memiliki renjana untuk menulis sebuah buku. Buku yang ditulis dengan kedua tangannya. Sistem operasi yang rumit di otak, akan merealisasikan berbagai kata-kata dalam sebuah tulisan. Terkonsep pada ide yang dibawakan penulis itu sendiri. Tapi, ia tidak tahu harus memulai darimana.
            Dia membutuhkan seorang yang cukup ahli dalam bidang kepenulisan. Atau, memiliki buku panduan dari seorang yang sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan.
            Waktu itu, ia belum punya cukup keberanian bertanya pada penulis yang punya segudang keahlian dalam kepenulisan. Belum lagi rasa takut atau segan ketika ia bertanya pada penulis kondang. Takut jikalau pertanyaannya tidak direspon dengan baik. Jadilah, ia mencari teknik-teknik menulis melalui internet.
            Coba-coba menulis sebuah puisi. Menurut dia, menulis puisi adalah hal yang cukup mudah. Bisa berkata hal seperti itu karena ia pernah memenangkan lomba baca puisi tingkat kabupaten. Namun membuat puisi seindah Chairil Anwar, W.S Rendra atau Sapardi Damono selalu ia coba lakukan jika tidak sedang mengerjakan tugas-tugas serius.
             Pernah menulis cerpen. Tak terkira berapa banyak cerpen sudah dicoba dia tulis. Namun tetek benget Ejaan Baca Indonesia dan struktur dasar cerita tak pernah menjadi perhatian. Yang penting menulis. Menulis untuk kesenangan pribadi.
            Namun setelah membaca teknik-teknik dasar dalam menulis, ia baru menyadari kalau kata-kata yang berada di kepala dan akan dijadikan suatu cerita tak sembarang menulis. Selalu menempatkan unsur SPOK dalam membuat kalimat. Selalu memprioritaskan kalimat utama dan kalimat penjelas jika ingin membuat sebuah paragraf.
            Saat dia ingin menerapkan teknik itu, tak disangka ia tak bisa berbuat apa-apa. Serba hati-hati dalam menempatkan apakah suatu kata adalah subjek, predikat, objek, atau keterangan. Begitu juga dalam membuat paragraf. Bagaimana membuat paragraf berisi kalimat utama dengan gagasan utama dan kalimat penjelas dengan gagasan penjelas. Sungguh teknik ini membuat isi kepalanya seratus persen tak berfungsi.
            Daripada bingung, dia memilih terus mencari teknik menulis yang gampang diterapkan. Juga, membaca banyak novel bagus. Dari novel-novel itu, ia bisa mengoreksi apakah kata-kata yang ada dalam novel bacaannya sudah mengandung unsur SPOK dan unsur kalimat utama serta kalimat penjelas per paragraf.
            Lambat laun, keinginan menuliskan sebuah novel semakin tak terbendung. Tapi banyak teknik menulis yang berkata begini dan begitu, membuat dirinya tak mampu menuliskan sepatah kata pun. Bingung harus menerapkan teknik seperti apa dalam menulis cerita yang baik dan benar.
***
            Hari minggu. Waktu yang tepat untuk menikmati libur akhir pekan. Dia memilih mengunjungi sebuah toko buku besar yang berada di jalan Daan Mogot.
            Tak seperti tempat wisata yang menawarkan wahana permainan mengasyikan, toko buku hanya menawarkan berjuta-juta buku bacaan. Fiksi maupun nonfiksi. Disusun rapi di sebuah rak buku berdasarkan genre. Ada juga buku yang disusun  merupakan recommended books, best seller atau new arrival. Dia memilih berjalan ke arah tumpukan buku yang berisi buku-buku best seller.
            Salah satu buku yang diambil adalah jenis novel. Novel thriller romantis berjudul The Last Holiday. Untung saja, ada novel yang sudah dibuka segel untuk bisa dilihat para calon pembeli. Namun, tubuh perempuan itu agak tersentak. Seperti mengingat sebuah perkataan.
***
            Ketika berjalan ke perpustakaan kampus, perempuan itu memelankan langkah kaki. Menguping pembicaraan sekumpulan perempuan sebayanya yang sedang asyik mengobrol.
            “Eh tahu enggak teman-teman, novel ini bagus banget. Keren!” seru salah satu perempuan yang berada di kumpulan perempuan di sana.
             “Ah masa sih? Emangnya isi ceritanya kayak mana?” tanya salah satu perempuan yang ada di sana. Jumlah perempuan di sana sekitar empat orang.
            “Ini novel bercerita tentang kisah cinta segitiga sekaligus persahabatan dua orang laki-laki dan perempuan. Ternyata ada satu cowok yang suka sama sahabat perempuan mereka sendiri. Tapi yang bikin ngenes, ternyata si cewek sudah tunangan sama si cowok yang jadi sahabatnya,” jelas perempuan itu, sepengetahuannya.
            “Aduh, sedih banget ya. Terus, terus?” tanya  salah satu perempuan yang berada di kumpulan itu.
            “Enak aja mau gratisan aja. Makanya beli ini novel,” ujar perempuan yang bercerita itu.
            “Gue pinjam dong,” mohon perempuan itu.
            “Pinjam? Beli dong.”
***
            Begitulah sekilas yang diingat perempuan itu. Kalau tidak salah judul novel yang dibicarakan teman-teman perempuan di sekolahnya, The Last Holiday.
            Membaca blurb yang berada di bagian belakang novel, inti cerita yang dipaparkan temannya waktu itu, tidak terlalu salah. Hampir mengena. Lalu ia melihat profil penulis novel itu.
            Ternyata aku berbeda umur dua tahun dengannya, pikir perempuan itu.
            Usai melihat isi novel itu sekilas, dia melangkah menuju kasir dan membayar sesuai banderol harga.
            Butuh tiga puluh menit setelah tiga kali menaiki angkutan kota. Melewati perumahan yang dibangun berjarak antara satu rumah dengan rumah lain.
            “Beli novel lagi, Dik?” kata sang kakak sambil melirik sebentar lalu memusatkan perhatian pada layar kaca.
            “Yang penting bukan pakai uangmu,” balas perempuan itu sambil meneruskan langkah kaki menuju kamar tidur.
            Begitu sampai di kamar, dia merebahkan bokong di atas kasur bergambar Tweety, merogoh novel yang berada di dalam tas sandang.
            Segel plastik melapisi novel yang berada di dalamnya. Dan sebentar lagi, segel plastik itu akan dirobek oleh kedua tangannya. Sebelum membuka lembaran novel itu, ia mengirup aroma yang biasa terdapat pada buku-buku baru.
            Mumpung hari minggu, perempuan itu akan menghabiskan waktu membaca novel yang baru saja dibeli.
            Kedua bola mata yang bulat itu seakan tak mau melepaskan tatapan perempuan itu. Menyuruh untuk tetap berfokus pada deretan kata yang tertulis di dalam novel itu.
            Ia duduk di sebuah kursi malas yang sengaja diletakkan pihak losmen khusus untuk para pengunjung yang ingin menikmati suasana di luar. Raka meletakkan pantatnya di atas permukaan kursi. Ia mulai mengamati suasana malam dipenuhi bintang-bintang kecil kelap-kelip di hamparan langit gelap.
“Sayang, kenapa kamu duduk sendirian di teras ini? Apa kamu belum mengantuk?” Sebuah suara perempuan membuat dirinya agak tersentak.
“Eh kamu Rahel. Belum mengantuk nih. Kamu sendiri kenapa datang ke teras?“ Raka membalas pertanyaan dari Rahel, kekasihnya, dan menanyakan pertanyaan serupa.
“Aku juga belum mengantuk, tapi kenapa kamu duduk sendirian di teras ini? Sudah jam sepuluh lho. Kamu enggak takut masuk angin?“
“Tidak Rahel. Entah kenapa aku merasakan hal yang tidak enak saat kita berniat berlibur ke pulau itu.“
“Hal tidak enak seperti apa?“
“Sebenarnya aku juga merasa khawatir dengan liburan ini sejak awal. Firasatku mengatakan kalau sesuatu yang buruk bakal terjadi sama kita semua. Aku merasa ragu kalau  mengatakan semua pada kalian semua,“ ungkap Raka dengan wajah menggambarkan keraguan yang jelas.
“Aku juga sependapat dengan kamu, kalau kita membatalkan liburan ini hanya berdasarkan kekhawatiran semata, mereka akan marah pada kita. Biarlah, kita serahkan saja semua pada Yang Mahakuasa supaya lancar dan yang terpenting keep positive thinking, darling.“ tutur Rahel disertai senyuman manis.
“Makasih ya  sayang, kamu mau mendengarkan ceritaku. Tidak salah aku memilih kamu menjadi pacarku,” kata Raka sambil menggenggam tangan Rahel.
            Sepenggal cerita dalam novel itu berhasil sukses membuat perempuan itu menorehkan senyum kecil. Yang biasanya jarang ia perlihatkan kepada orang lain.
            Tapi semakin serius menikmati novel itu, kantuk semakin intens menyerang dirinya. Dengan kondisi kepala mengangguk menahan kantuk, dia membaca novel yang berada di tangannya.
            Dengan posisi tidur beralaskan tangan masih menggapit novel, perempuan itu pelan-pelan menggerakkan badan. Namun tak sadar kalau dirinya tertidur sewaktu membaca novel. 
              “Astaga! Bisa-bisanya aku tertidur waktu baca novel,” ujarnya pada dirinya sendiri, “sudah halaman ke berapa ya?” sambil membolak-balikkan kertas-kertas yang menempel dalam novel itu.
            “Nak, ayo makan siang,” seru sang ibu dari luar kamar putrinya.
            “Iya, Bu. Sebentar lagi,” jawab perempuan itu.
            Lama mencari akhirnya dia menemukan di halaman ke berapa ia membaca novel itu. Dengan pembatas buku, ia menandai halaman yang belum dibaca. Ia akan menuju meja makan. Perut keroncong sudah menuntut untuk diisi asupan makanan bernutrisi.    
***
            Sesi makan siang sudah terlewati. Kembali ke kamar tercinta. Melanjutkan novel yang belum selesai dibaca.
            Mendaratkan bokong ke atas kasur sambil tangan kiri meraih novel yang berada di atas kasur. Perut sudah terisi. Kini, ia bisa mencurahkan konsentrasi membaca novel yang belum usai.
            Armand masih dalam keadaan setengah sadar setelah beberapa menit lalu dikeroyok oleh mereka bertiga. Luka memar dan lebam menghiasi area pipi dan mata. Dari lubang hidung masih tersisa tetesan-tetesan darah. Ia merasakan tulang-tulang yang merekat di persendian, sudah berpindah posisi. Untuk menengadahkan kepala saja, ia sudah hampir mau mati.
            Dia berusaha sekuat tenaga menyeret badan untuk mencapai mayat Rania yang tidak terlalu jauh darinya. Rasa sakit luar biasa itu hilang demi sampai kepada Rania. Armand bangkit walaupun rasa sakit menyiksa. Dengan bersusah payah, Armand duduk, mencoba mengambil tubuh Rania menaruhnya dalam dekapannya.
            Dipandanginya dalam-dalam tubuh Rania yang tak bernyawa—gadis yang sangat dicintainya. Tanpa terasa tetesan air mata sudah membanjiri wajah. Tangis memecah kesunyian semakin keras menggema di ruangan eksekusi. Armand menggoyang-goyangkan badan Rania berharap dia masih hidup.
            “Rania... Bangun Rania, bangun!“ Armand masih saja berusaha untuk membangunkan Rania tapi apa daya usaha nya sia-sia, Tuhan sudah memutuskan Rania telah berakhir di sini.
“Rangga, kau... HARUS MEMBAYAR KEMATIAN RANIA! KAU HARUS MATI DI TANGANKU, RANGGA!!!“ Armand memekik keras. Sumpah serapah sudah diikrarkan mengutuk Rangga. Tatapan matanya merah padam.Api dendam sudah tersulut di hatinya.
            Ketika membaca di bagian ini, secara refleks tangan perempuan itu menutup mulutnya. Hati kecilnya tersentuh dengan tragedi dan kemalangan dialami tokoh utama. Seakan merasakan penderitaan yang dialami Armand. Tokoh laki-laki dalam novel itu. Yang kehilangan sosok perempuan yang dicintainya. Dibunuh sahabatnya sendiri.
            Tak terasa novel itu sudah dekat penghujung. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore.
            Tamat. Begitulah kata yang tertulis di akhir cerita. Sebelum menyimpan novel itu dalam laci, sesuatu terlintas di pikiran perempuan itu.
            Sebenarnya aku kurang suka di bagian ending. Terlalu cepat. Mungkin novel ini bisa jadi best seller karena peristiwa dialami tokoh-tokoh dalam novel ini cukup menguras emosi para pembaca, pikir perempuan itu.
            Ia melihat sekali lagi profil penulis novel itu.
            Untung ada dia punya facebook. Besok saja aku coba chatting dan bertanya seputar teknik menulis.