Tuesday, 19 January 2016

Mencintai Mimpi



Kupejamkan mata dalam kedamaian
Ingin rasanya kukekang dirimu
Agar kau tak pergi
Agar kau tetap di sini
            Bisikkan lagi kata-kata cinta
            Yang membuat ragaku melambung jauh
            Coba kau ukir nama kita dalam prasasti
            Agar abadi tak lekang dihempas sunyi
Bangunkan aku dari mimpi indahmu
Yang terkadang jenuh perlahan beku
Membius sukma meracun jiwa
Mendekap kehampaan yang bertuai harapan

Wednesday, 13 January 2016

LiliAnna



Aku terpaku di atas pijakan kakiku. Kulihat Lili sedang asyik menghunjamkan pisau berkali-kali ke tubuh ibu. Cipratan darah merah kental membasahi wajahnya yang dingin dan bengis. Aku hanya bisa menangis dan meronta di dalam hati. Namun, aku merasa seperti lepas dari belenggu neraka. Yang dibunuh Lili bukanlah ibu kandungku. Dia adalah ibu tiriku yang merawatku semenjak aku berumur 8 tahun. Ia selalu memaki-makiku. Ia selalu memperlakukanku layaknya binatang hina. Ia selalu memberiku penderitaan mental yang entah kapan akan berakhir. Dan, disinilah akhir penderitaanku.
            Lili bangkit berdiri dan mendekatiku.
            “Aku sudah menyelesaikan semuanya.” Ucapnya kaku
            “Kenapa? Kenapa kau membunuhnya sialan. Dasar kau pembunuh!” makiku kasar.
            Bukannya marah dan menayangkal tuduhanku, dia tersenyum sinis sambil berkata, “Lihat dirimu,”
            Astaga! Aku tersentak bukan main. Kaus oblong orange dan celana pendekku sudah berlumuran darah. Rambutku, wajahku, dan tanganku bernodakan darah. Dan, tanganku memegang pisau yang digunakan Lili untuk mencabut nyawa ibu tiriku.
            “Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh! Kamu yang membunuhnya, Lili!” jeritku histeris. Deraian air mata tak henti membasahi wajahku. Tubuhku terasa berat hingga hampir hilang keseimbangan.
            “Kita adalah satu, Anna. Kita adalah Liliana.” 

Monday, 4 January 2016

Boneka yang Tersangkut di Atas Pohon



Malam semakin mencekam. Udara dingin menggetarkan tulang. Lelah dan penat sungguh membebani pikiran dan badan Ahmad. Ia baru saja turun dari angkot yang membawanya pulang menuju kontrakannya. Hanya saja ia masih harus menempuh 200 meter dari jalan menuju ke sana. Ia tak melihat satupun tukang ojek yang biasanya beroperasi di depan jalan Cemara. Biasanya sampai pukul sembilan malam pun mereka masih beroperasi di sana, tapi ini aneh. Arloji Ahmad masih menunjukkan pukul setengah sembilan, namun tak satu pun tukang ojek berada di sana—entah kemana perginya para tukang ojek. Dengan perasaan dongkol, Ahmad harus berjalan kaki untuk sampai di kontrakannya.
Sebenarnya, ia bisa saja menerima tawaran Rio untuk pulang bersama dengannya. Tapi, ia malah menyuruh Rio pulang lebih awal dengan alasan pekerjaannya belum tuntas. Dan sekarang, ia agak menyesali keputusannya.
Setelah 10 menit berlalu, ia tiba di depan jalan cemara. Dirasakannya suasana malam di jalan Cemara begitu senyap. Tak ada lalu-lalang seorang pun sekadar lewat di sana. Bahkan, warung-warung tutup lebih cepat—ada yang terjadi di sana?
Ahmad langsung menepis pikiran buruk mengenai cerita Rio tadi siang dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kontrakan. Dipandanginya kiri dan kanan. Rumah-rumah yang berada di seberang jalan, sudah mematikan lampu rumah bagian dalam—apakah mereka sudah tidur?
Suara derap sepatu kets yang dipakainya terdengar oleh kedua daun telinganya. Dinginnya angin malam, sukses membuat bulu kuduknya meremang. Ia hanya mengelus-elus pelan tengkuknya agar bulu kuduknya segera turun.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang anak kecil sedang menangis tersedu-sedu di depan sebuah pohon nangka yang mempunyai tinggi dua meter.
“Kenapa ada anak kecil menangis sendirian malam-malam begini?” tanya Ahmad membatin.
Ahmad heran, kenapa tak ada seorang pun yang mendengar suara tangisan anak ini. Padahal,suara tangisannya lumayan keras. Tak mungkin tak ada orang yang mendengarkannya. Ahmad yang tergerak oleh belas kasihan menghampiri anak itu.
“Dek, kenapa kamu menangis?” tanya Ahmad padanya.
Anak kecil itu mengangkat wajahnya. Ternyata dia adalah seorang perempuan, rambutnya pendek dengan wajah bulat dan kulit kuning langsat. Satu hal yang membuatnya tertegun wajahnya pucat pias seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
“Huhuhu, bonekaku tersangkut di atas sana, kak.” anak kecil itu mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk mata sambil menunjuk ke sebuah boneka Doraemon yang tergantung di salah satu ranting pohon.
“Kalau begitu, kakak bantu kamu ambil boneka itu, ya?” sahut Ahmad. Sang anak hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Ahmad melepas sepatunya, meraih batang nangka lalu menaikkan kedua tungkai kakinya. Kini, ia sudah berada di atas pohon. Ia meraih boneka yang tersangkut di ranting dengan menggunakan tangan kirinya sambil menjaga keseimbangannya agar tak terjatuh.
“Dek, kakak sudah dapatkan bonekanya.” seru Ahmad dari atas pohon. Anak kecil itu tak memberi respon apapun. Ia membisu menutupi wajahnya. Setelah boneka itu didapatkannya, Ahmad pelan-pelan turun dengan mengeratkan pegangan tangan kirinya pada batang nangka. Sementara, tangan kanannya memegang boneka.
Ahmad sudah berada di bawah pohon. Ia segera menghampiri anak perempuan yang sedari tadi menunggunya.
“Ini bonekanya, dik.” Ahmad menunjukkan boneka itu di hadapannya.
Anak perempuan itu pelan-pelan mendongakkan wajahnya. Ahmad terperanjat begitu wajah anak perempuan yang berada di depannya, berubah 180 derajat.
Setengah wajah anak perempuan itu tinggal tulang tengkorak yang nampak jelas oleh Ahmad. Setengah wajahnya lagi berlumuran darah kering. Rambut panjangnya lepek oleh darah yang tersisa di batok kepalanya.
Ahmad tak sanggup berkata apapun untuk mendeskripsikan ketakutan yang mengancam dirinya. Ahmad mencoba mundur pelan-pelan. Anak perempuan itu masih saja menertawakan Ahmad yang takut luar bisa memandangi dirinya.
“Khikhikhikhi!” suara lengkingan tawa dari mulut anak perempuan itu, terdengar menyakitkan di telinga Ahmad. Ahmad memekik, berlari secepat mungkin tanpa mempedulikan apakah anak setan itu mengikutinya dari belakang.
Ahmad menggebrak-gebrak pagar kontrakannya, berharap seseorang akan menghampiri dirinya. Ia tak mampu menyembunyikan ketakutan yang mencekam dirinya. Deru napasnya seakan ikut merasakan kengerian yang dirasakan sang pemilik tubuh. Detak jantungnya memompa udara secara cepat dan berlebihan.
“Ahmad, kamu kenapa?” tanya Rio sambil membuka gembok yang mengunci pagar. Rupanya, Rio belum tidur. Ia masih berkutat dengan laptop-nya.
“Ah... ah... cepat buka pagarnya! Buruan!” suruh Ahmad tak sabar.
Begitu disemprot Ahmad, Rio cepat-cepat membuka gembok pagar. Ia memapah temannya yang terlihat kelelehan. Ahmad duduk di atas kursi plastik. Rio membawakan segelas air hangat untuk diminum oleh temannya. Ketika Ahmad bisa mengendalikan diri, ia mulai bercerita pada Rio, semua yang terjadi padanya.
“Sudah kuberitahu samamu, kalau pulang, jangan di atas jam sepuluh. Dan para penduduk yang berada di sekitar sini sudah mencoba mengusir makhluk itu. Sepertinya, ia enggan untuk pindah dengan alasan, pohon itu adalah “rumah” aslinya.” jelas Rio panjang lebar.
Ahmad sudah mendengar penuturan dari Rio, temannya. Ia berjanji dalam hatinya untuk tidak pulang kerja di atas jam sepuluh malam. Jika bosnya meminta lembur, ia akan mempertimbangkan permintaan itu secara baik-baik dengan bosnya. Jangan sampai untuk kedua kalinya, ia bertemu dengan anak setan itu lagi.

Tumbal Arwah Jelangkung - Epilog



Sepulang sekolah, Lina mengundang Heru dan Donni makan  malam di rumahnya. Ia dan keluarganya akan mempersiapkan sajian makanan dan minuman khas buatan keluarganya. Tentu saja Heru dan Donni tidak menolak ajakan yang menaikkan selera makan mereka.
Sudah kedua kalinya, Lina menatap jam analog yang terpaku di atas dinding ruang tamunya. Ia sudah mengingatkan pada kedua teman laki-lakinya, mereka harus datang pukul tujuh malam. Sekarang jam dinding menunjukkan pukul 07.05. Saat prasangka mereka di alam pikirannya, suara ketukan pintu melenyapkan lamunannya.
Tok! Tok! Tok!
Lina berlari kecil begitu mendengar suara ketukan dari luar. Ia sudah menduga kalau tamunya tak lain adalah Heru dan Donni—dan itu benar. Mereka berdiri di hadapan Lina. Mereka sama-sama mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak berlengan panjang namun perbedaannya terletak pada warna.
“Wah, tidak biasanya kalian rapi seperti ini,” puji Lina sambil mempersilakan mereka masuk.
“Namanya juga tamu. Tamu adalah raja. Tidak mungkin ‘kan, seorang raja memakai busana yang koyak-koyak?” 
            “Hahaha, benar juga tuh. Ayo cepat ke dapur, ibu dan ayahku sudah lama menunggu kalian.”
            Ketiganya mempercepat langkah menuju dapur. Di sana, ayah dan ibu sedang mengobrol sembari menunggu kedatangan putri sulung mereka. Rafly, adiknya Lina, sedang memainkan gadget-nya.
            “Ayah, Donni dan Heru sudah datang,” panggil Lina. Ayah Lina menoleh sejenak pada putrinya.
            “Oh cepat duduk, nak. Kalian hampir saja melewatkan makan malam gratis.” Gurau ayah Lina. Mereka tertawa kecil. Sebelum mereka menyantap hidangan, ayah Lina memimpin doa terlebih dahulu.
            Semua menu yang disajikan di atas meja makan, merupakan menu kesukaan mereka. Ikan nila panggang berolesankansambal cabe rawit, tak henti mengepulkan uap hangat di hadapan wajah Heru. Heru tak mampu menahan laparnya lebih lama. Ia langsung mengambil sepotong ikan panggang lalu diletakkan di atas piring kacanya. Disusul oleh Donni yang menyambar mangkuk besar berisi opor ayam yang tersedia di depan matanya. Makan malam yang benar-benar nikmat bagi kedua lelaki itu. Apalagi, ditambah segelas es kolang-kaling. Lengkaplah sudah kenikmatan dunia. 
            “Oh aku sempat lupa, bagaimana dengan mas Payino? Apakah mas Payino sudah ditahan oleh pihak kepolisian?” tanya Lina seraya menelan kunyahan nasinya.
            “Polisi tidak bisa menahan mas Payino karena belum ada keterangan dari pihak ibu Hesty. Dan kalian tahu, ibu Hesty hampir saja membunuh istri dari ayahnya almarhum Prakoso, teman kita.” Tatapan mata orang tua Lina kini tertuju pada Heru.
            “Benarkah?” sela Lina. Heru mengangguk kecil menjawab pertanyaan temannya. “Tapi syukurlah, beliau sudah sadar dari koma.” Ungkap Heru.
            “Satu lagi, apa yang terjadi setelah polisi menemukan ibu Hesty?”
            “Kalau itu...”
            Sebuah terali besi dingin membatasi dirinya dengan dunia luar. Seorang wanita dengan tatapan mata cekung, terus saja menangisi boneka yang sudah rusak di bagian badannya. Ia menimang-nimangnya seperti sedang menenangkan anak bayi yang menangis ingin diberi asupan gizi.
            “Cup, cup anakku, jangan menangis. Ibu di sini kok. Ibu di sini,” ia terus menatap nanar boneka perempuan yang sama sekali tidak mengeluarkan suara tangisan sedikit pun. Mulut kecilnya terkatup erat dan membisu. Bola mata plastiknya tidak meneteskan setitik air mata pun. Ia hanya benda mati yang diperlakukan tuannya seperti manusia biasa.
            “Kamu kenapa sih dari tadi diam melulu?! Kamu enggak dengar, ya, apa yang ibu bilang tadi, hah!” ia mengguncang tubuh boneka berulang kali berharap boneka itu akan merespon pertanyaannya. 
            Hestyani Firiawan—seorang pasien rumah sakit jiwa yang baru satu hari berada di sana. Semenjak dirinya sadar, ia selalu saja meraung-raung sambil memanggil nama anaknya. Bahkan, ia sempat menjambak rambut salah satu seorang polisi yang akan membawa bonekanya ke kantor polisi. Melihat tingkah lakunya yang brutal, mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa.
            “Dasar kurang ajar! Ibumu sudah lelah bertanya, tetap saja enggak mau dijawab! ANAK MACAM APA KAMU INI?!” makinya sambil melempar boneka itu ke sudut kamar. Ia merangkak perlahan menuju ranjang sambil memeluk kedua kakinya yang telah dilipat hingga menutupi wajah.
            Rambut panjangnya kusut berantakan. Ia tak seperti Hesty yang dulu, selalu berpenampilan anggun dan menarik perhatian orang lain. Sekarang, ia tak lebih dari seorang perempuan gila dan menakutkan yang sering berkeliaran di jalan-jalan kota besar.
            Suhu di ruangan remang-remang berukuran 3x4 meter itu menurun dratis. Hesty mendongakkan wajahnya sambil memutar-mutarkan kepalanya mencari sumber keanehan yang pelan-pelan mencekam dirinya. Belahan bibir pucatnya gemetar tak karuan. Pandangan matanya tak bisa lepas dari sosok perempuan bergaun hitam yang berdiri tepat dari hadapannya.
            “Ibu...”
           
The End