Sunday, 2 July 2017

Sang Novelis - 29



Dendam Ini Harus Terbalaskan
            Sang ibu melangkah gesa di koridor rumah sakit sambil menangis sedu. Wanita paruh baya itu menemukan ruangan IGD, tempat putranya menjalani masa kritis. Begitu mereka berdua menemukan ruangan itu, saat itu juga seorang dokter keluar dengan wajah tertekuk.
            “Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya sang ibu dengan suara serak.
            Sang dokter membisu sesaat. Dia menatap kasihan pada wanita paruh baya itu.
            “Benturan keras di bagian kepala mengakibatkan pendarahan hebat di otak. Patahan tulang rusuk juga mengenai paru-parunya. Kami minta maaf sebelumnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan nyawa anak Ibu tapi Tuhan berkehendak lain,” jelas sang dokter.
            Tangisan sang ibu makin kencang. Dia memaki-maki dokter yang berada di hadapannya. Sementara sang anak berusaha menenangkan sang ibu yang mulai histeris. Tak mampu menerima kenyataan bahwa putra kesayangan sudah berpulang ke akhirat, tubuh sang ibu mendadak roboh.Hampir menubruk lantai tapi sang putri yang di sampingnya sigap menahan tubuh sang ibu.
***
            Gema suara sirine ambulan mengantarkan jenazah sang anak laki-laki menuju tempat persemayaman terakhir. Tapi sebelum dikembalikan ke tanah, jenazah dipulangkan dulu ke rumah agar para saudara atau kerabat terdekat bisa mengucapkan perpisahan terakhir. Sang ibu yang merasa terluka terlalu dalam, terus saja menangis meskipun tanpa suara keluar dari bibirnya. Tatap mata hampa menatap jenazah sang putra yang mendingin dan mengeras karena formalin.
            Tapi tak terlihat sang putri berada di samping sang ibunda. Sekedar menghibur atau menemani sang ibunda. Ia berada di halaman belakang tanpa ditemani siapapun. Bukan merenung akibat kepergian sang kakak, dia juga melebarkan senyum sambil tertawa tertahan.
            Satu kutu kecil telah berhasil kusingkirkan. Selanjutnya penulis sombong itu harus merasakan akibatnya karena telah menghancurkan cita-citaku, ucap perempuan muda itu dalam hati.
            “Apa yang kamu lakukan di sana, Dik? Seharusnya kau menemani ibumu di sana,” tanya salah satu saudara perempuan dari sang ibu.
            “Ya Tante, aku akan segera ke sana,” balas perempuan itu sambil mengembalikan wajah yang penuh senyum menjadi penuh haru duka.
***
            Sebulan telah berlalu sejenak meninggalnya sang kakak. Sementara itu, sang ibu dalam kondisi lemah sedang dirawat oleh saudara perempuan dari sang ibu. Anak perempuan dari sang ibu sedang mengutak-atik nomor yang ada di Smartphone-nya. Begitu mendapatkan nomor itu, ia langsung menekan tombol hijau.
            “Halo dengan siapa ini?”
            “Kakak lupa dengan suara ini?” tanya perempuan muda itu.
            “Oh saya ingat. Ada perlu apa, Dik?”
            “Bantu aku membuat E-KTP palsu. Akan kubayar seberapa yang kaumau,” jawab perempuan muda itu, terus terang. 
***
            11 Januari 2016
            Selain bekerja menjadi manajer di bidang kepenulisan, Christia juga aktif dalam komunitas Baca Buku. Komunitas yang berpusat di Jakarta Tengah itu beranggotakan 100 orang lebih termasuk dirinya sebagai penggagas komunitas itu.
            Wanita berambut sebahu itu menoleh arloji yang melingkar di lengan. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Ia baru saja selesai mengadakan rapat dengan para pengurus komunitas Baca Buku. Dalam rapat itu mengagendakan program penyumbangan buku fiksi maupun non fiksi untuk para anak jalananputus sekolah dan rencananya mereka akan membuat proposal pada pemerintah setempat demi keberlangsungan rencana program ini.
            Tapi pulang sendirian bukan hal bagus untuk perempuan seperti Christia. Saat ini keamanan Jakarta Tengah sedang beredar rumor perampokan serta pemerkosaan wanita yang bepergian sendirian. Hal itu menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran bagi diri Christia yang sudah menunggu jemputan pacarnya yang telat setengah jam.
            Aduh lama benar, si Jef. Kalau aku sampai kenapa-napa, aku akan batalkan pertunanganku dengannya, umpat batin Christia. Wanita itu tidak mengetahui kalau ada seseorang menunggu dari kejauhan menggunakan mobil Ertiga. Ia memarkirkan mobil berjarak 100 meter dari tempat Christia berdiri.
            “Kau milikku wanita jalang,” ucap sosok berjaket merah itu sambil mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.
            Ia menekan tuas pintu lalu mengendap-endap mendekati sang mangsa. Christia yang tak sadar sedang diincarkan tak mengetahui kalau sosok misterius itu tinggal sedikit lagi mendapatkan Christia. Sosok misterius itu muncul dari balik kios kecil lalu membekap mulut Christia.
            “Hmmp, hmmp, uhhmm!” jerit Christia tertahan. Tak butuh perlawanan lama, sengat alkohol memunculkan pening-pening di kepala. Christia tak sadarkan diri.
            “Aku datang untukmu, manajer sombong!” kata sosok misterius itu, kejam. Suasana di sekitar mereka benar-benar sepi. Cuma ada satu motor atau mobil lalu lalang di sana. Lampu jalan berpendar remang. Tubuh Christia lumayan berat. Sosok itu harus memajukan mobil ke tempat perempuan anggun itu tergeletak.
***
            Keesokan hari sang penulis dikagetkan dengan berita hilangnya Christia. Ia mengetahui hal itu karena orang tua Christia menghubungi dirinya. Christia tidak pulang ke rumah hingga pukul 11.00 siang. Orang tua Christia tidak bisa menghubungi putri mereka. Sang penulis merasa khawatir dengan manajernya, berusaha menghubungi kepolisian guna mencari keberadaan sang manajer.
            Dengan hilangnya Christia membuat sang penulis menjadi kerepotan. Padahal dalam waktu dua bulan, dia harus menyusun para pembicara dalam acara lauching novel kesembilan bersama sang manajer. Belum lagi menemukan Event Organizer yang cocok serta konsep acara launching novelnya.
            Sang penulis memijit pelan kepala yang mulai berdenyut panas. Ia bingung pada siapa dia akan merundingkan hal-hal serba mendesak ini. Dia memilih melipatkan kedua tangan lalu meletakkan kepala di atasnya. Beberapa saat ia tenggelam dalam lamunan, laki-laki itu dikagetkan dengan suara bel elektronik berbunyi di ruang tamu.
            Siapa yang bertamu siang-siang begini? umpat batin lelaki itu. Lelaki itu beranjak dari meja kerja menuju ruang tamu. Ia melangkah dengan berat hati menuju pintu ruang tamu.
            “Anda di sini mencari siapa ya?” tanya lelaki itu setelah membuka pintu ruang tamu. Di hadapannya saat ini, seorang wanita blazer hitam sedang berdiri mengenakan kemeja formal putih dan rok hitam di atas lutut, membuat tatapan lelaki itu semenit tak lepas darinya.
            “Apakah ini kediaman Pak Ervano Hansloffa, penulis novel best seller itu?” tanya wanita itu.
            “Ya betul ini memang rumah saya. Kalau boleh tahu, Anda siapa?”
            “Perkenalkan. Saya Egath Violana. Saya bukan bermaksud sok tahu tapi saya yakin Anda pasti membutuhkan bantuan manajer untuk acara launching novel kesembilan. Dan Saya punya kapasitas untuk itu,” terang wanita itu sambil memberikan berkas yang sedari tadi dipangku di tangannya.
            Bagaimana dia bisa mengetahui hal ini? tanya hati Ervano sambil menerima berkas yang sudah disodorkan wanita itu.

Thursday, 29 June 2017

Sang Novelis - 28



Lebih Dari Sekadar Kekecewaan Biasa
            9 Juni 2013
            Sudah cukup. Aku akan pergi ke rumah penulis itu.
            Perkataan itu tak terucap langsung dari bibir perempuan itu. Mungkin dia sudah habis kesabaran. Menunggu sang penulis tak kunjung memberikan kabar mengenai naskah yang diberikannya tiga bulan yang lalu.
            Awalnya perempuan itu tidak tahu alamat domisili sang penulis. Namun perempuan itu sering mengintip media sosial sang penulis. Sekarang, ia mengetahui alamat domisili sang penulis. Untung saja bus Trans Jakarta sudah beroperasi di Bekasi. Walau harus beberapa kali naik turun halte, itu sama sekali tak mengurangi niatnya menemui sang penulis.
***
            Kini perempuan itu sudah tiba di halte Salemba. Ia turun dari busway melewati jembatan penyeberangan. Untung saja ada mikrolet berhenti bertepatan saat perempuan itu menginjak tangga turun jembatan penyeberangan.
            “Rawa Mangun, Neng?” tanya sang supir mikrolet.
            Perempuan itu hanya menganggukkan kepala sambil melangkahkan kaki ke dalam mikrolet. Suasana di dalam mikrolet tidak terlalu padat. Hanya ada dua pria dan empat wanita termasuk dirinya.
            Di dalam mikrolet, perempuan itu menyusun berbagai pertanyaan mengenai naskah novelnya yang tak mendapat kepastian. Dalam hati perempuan itu, sesibuk apa sang penulis sampai-sampai tidak bisa menyempatkan waktu sebentar membaca naskah novelnya? Pertanyaan itu masih bersuara di dalam otaknya. Menuntut jawaban yang tepat dan benar-benar masuk akal.
            Ketika sudah berada di Rawa Mangun, perempuan itu memberhentikan laju mikrolet.
            “Kiri, Bang,” ucap perempuan itu. Setelah mikrolet berhenti, perempuan itu turun dari sana dan membayar ongkos.
            Memang ia sudah berada di Rawa Mangun, tapi ia belum menemukan rumah sang penulis. Ia bertanya pada orang-orang lewat mengenai alamat yang ia cari.
            “Oh laki-laki yang penulis itu toh? Mbak tinggal jalan lurus saja 50 meter lagi dari sini lalu belok kanan. Kalau ada rumah besar bercat hijau muda berpagar perak, itulah rumah penulis itu,” jelas lelaki paruh baya yang sedang duduk di depan warung rokok. Setelah lima orang ditanya, hanya satu yang tahu betul alamat sang penulis. Perempuan itu mengucapkan terimakasih sambil beranjak pergi dari lelaki itu.
            Perempuan itu berjalan sesuai petunjuk yang diberikan. Kini ia sudah berhadapan dengan rumah yang dijelaskan lelaki paruh baya itu. Rumah besar bercat hijau muda, dengan pagar motif tombak. Gugup dan gemetar menyatu dalam gerak tangan perempuan itu saat menggoyangkan lonceng kecil yang menggantung dekat engsel pagar.
            Ting, ting, ting!
            Sudah tiga kali lonceng itu berdenting. Tapi pemilik rumah belum juga menampakkan batang hidungnya. Perempuan itu mendentingkan lonceng sekali lagi.
              Ting, ting, ting!
            Pintu luar rumah itu mulai tersingkap. Menampakkan seorang wanita berpostur sedang, mengenakan kemeja lengan panjang dan rambut melewati bahu. Wanita itu menuju ke pagar yang membatasi rumah itu dengan dunia luar. Dia adalah Christia, manajer sang penulis novel Last Holiday.
            “Ada perlu apa?” tanya Christia sambil membuka engsel pagar.
            “Saya ingin meminta kejelasan mengenai penilaian naskah novel saya,” jawab perempuan itu, lugas.
            “Mohon maaf kami berdua tidak sempat untuk membaca naskah novel kamu,” tampik wanita berkemeja lengan panjang itu.
            “Apa? Enggak sempat? Enggak sempat apa maksud Anda?” tanya perempuan itu, agak emosi.
            “Bisakah Anda berbicara lebih sopan? Orang yang Anda cari sedang tidak berada di sini.”
            “Bohong. Saya ingin berbicara dengannya,” desak perempuan itu.
            Merasa tidak bisa meyakinkan perempuan itu, Christia mengambil handphone di dalam saku jins. Ketika ia sudah menemukan kontak yang dimaksud, ia menekan tombol hijau sambil menekan handphone ke daun telinga.
            “Halo.”
            “Halo Christia, ada apa?” Panggilan telepon sudah tersambung.
            “Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Anda?”
            “Siapa dia?”
            “Nanti kamu akan tahu sendiri,” ucap Christia sambil memberikan handphone itu pada perempuan di depannya.
            “Kenapa sampai sekarang Anda menelantarkan naskah saya? Apakah Anda berniat menipu saya?” tanya perempuan itu dengan tekanan suara agak tinggi.
            “Kamu salah paham. Saya benar-benar sibuk untuk saat ini. Banyak yang mengundang saya dalam acara atau seminar kepenulisan. Perlu kamu tahu, saya sedang melakukan ri—“
            “Maaf... jika saya mengganggu pekerjaan Anda. Maafkan juga kalau saya terlalu berharap naskah novel saya akan dibaca oleh penulis idola saya. Rasanya tidak mungkin kalau saya bisa menjadi penulis yang sesukses Anda.”
            “Kau salah paham lagi. Hei? Halo?” Perempuan itu sudah memutus sambungan telepon.
             “Bisakah Anda memberikan naskah novel itu kepadaku?” Perempuan itu memberikan handphone itu kepada pemiliknya. Bola mata perempuan itu memerah tapi tak tampak lelehan air mata menetes di kelopak mata.
            Christia memalingkan badan menuju dalam rumah sambil mengambil barang yang dimaksud perempuan itu. Sementara menunggu, perempuan itu menangis sesunggukkan tanpa mengeluarkan suara. Ia tidak tahu kata-kata seperti apa yang menggambarkan kesedihan yang dialaminya saat ini.
            “Ini dia.” Christia mengangsurkan ratusan kertas tersampul dan terjilid rapi. Perempuan itu menerima dengan tangan gemetar.
            “Maafkan kami.” Hanya dua kata itu yang terucap dari bibir Christia. Sementara perempuan itu sudah memalingkan badan, menjauhi rumah sang penulis novel.
***
            Perempuan itu duduk termangu di depan teras rumah. Ditemani secangkir susu cokelat yang mulai mendingin. Ia menatap lurus seakan sedang menembus batas angan.
            “Jangan terlalu memaksakan diri, Dik. Memang tidak mudah menjalin komunikasi dengan orang-orang high class. Mereka akan dipenuhi kesibukan luar biasa yang membuat mereka tak sempat berinteraksi dengan orang-orang low class seperti kita.” Sang kakak mencoba menasihati sang adik yang tengah melamun.
            Tapi sang adik tidak merespons nasihat sang kakak. Bahkan, tak ada niat melirik sang kakak yang duduk di sebelahnya. Ia hanya fokus pada lamunan mengenai cita-cita yang hancur karena ulah penulis idolanya.
            “Dan perlu kau tahu, kuharap kau menghentikan cita-citamu sebagai seorang penulis. Di Indonesia, penulis itu masih kalah saing dengan pegawai negeri sipil, pengusaha, dokter, polisi, tentara dan pekerjaan bergengsi lainnya. Penghasilan yang kau dapatkan dari hasil menulis tidak akan cukup memenuhi kebutuhan hidupmu. Bahkan ada salah satu penulis yang kukenal, keadaan hidupnya serba pas-pasan dan bisa kubilang hampir melarat. Terakhir, di Indonesia, minat membaca buku di kalangan masyarakat masih sangat rendah. Kebutuhan masyarakat Indonesia akan buku pun tidak terlalu tinggi. Dan jikalau kau berhasil menerbitkan sebuah buku, apakah kau yakin bukumu bakal laris manis di pasaran?” Sang kakak mencoba memengaruhi pikiran sang adik dengan stigma negatif mengenai buku dan dunia kepenulisan.
            Merasa cita-citanya dipandang enteng, perempuan itu menoleh ke arah sang kakak dengan sorot mata tajam.
            “Diam kau! Itu bukan urusanmu!” maki perempuan itu sambil menggertakkan rahangnya.
            Sang kakak hanya terdiam. Tak berani membalas makian sang adik. Perempuan itu memilih menyingkir dari hadapan sang kakak daripada emosi memuncak mendengar nasihat sang kakak yang terkesan mematahkan semangat.
***
            Sudah jam dua belas tengah malam. Diam-diam perempuan itu menyingkap pintu kamar tidur sedikit demi sedikit. Dan sekarang perempuan itu sudah keluar dari kamar tidur. Dia membawa segulung peralatan mekanik di tangan kanan. Perlahan-lahan menuruni anak tangga menuju Mega Pro yang terparkir di ruang tamu.
            “Kakak, aku ingin memberimu sedikit pelajaran agar kau tidak berlagak seperti pembalap jalan raya dan satu hal yang harus kau camkan... jangan membuatku marah,” gumam perempuan itu sambil menyeringai samar. Dia sudah berdiri di hadapan Mega Pro itu.
***
            10 Juni 2013
            Pagi ini sang ibu baru saja selesai memberikan sarapan pada kedua anaknya. Si kakak meraih tas sandang yang berada di bawah kursi sedangkan perempuan itu mulai menaiki anak tangga yang akan mengantarnya menuju kamar tidur.
            “Aku pergi dulu ya, Bu.” Sang kakak berpamitan dengan mencium punggung tangan sang ibu. Sang kakak sudah menggiring sepeda motornya menuju halaman rumah.
            Sebelum menaiki anak tangga terakhir, perempuan itu tersenyum samar saat deru knalpot sepeda motor menghantarkan sang kakak meninggalkan pekarangan rumah.
            Di dalam kamar tidur perempuan itu tak henti memaki sang penulis novel yang dulu menjadi pujaannya itu.
            “Dasar penulis sombong! Dasar penulis angkuh! Aku akan balas perbuatanmu padaku! Lihat saja!” maki perempuan itu, geram sambil mencoret-coret kertas bergambarkan wajah sang penulis novel. Belum puas sampai di situ, perempuan itu beralih ke rak buku. Ia menumpahkan segala amarah dan kekesalan dengan menjatuhkan rak buku.
            Praaakkkk!
            Debuman kayu disertai suara pecahan kaca cukup mengagetkan sang ibu yang sedang membersihkan rumah untuk menuju kamar tidur putrinya.
            “Ada apa ini?”
            Sang ibu membuka pintu kamar putrinya yang tidak terkunci. Ia melihat anaknya duduk di lantai sambil memalingkan kepala, menghindari tatapan mata sang ibu.
            “Kamu kenapa, Nak? Coba ceritakan apa masalahmu pada ibu?” rayu sang ibu sambil mencoba mendekati putrinya.
            “Jangan mendekat, Bu. Aku tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri,” hardik perempuan itu dengan sorot mata merah dan menusuk.
            Sang ibu merasa ada hal yang aneh pada putrinya, mencoba mendekat sekali lagi.
            “Tidak. Ini pasti ada apa-apa. Coba jelaskan apa masalahmu,” bantah sang ibu seraya memaksa mendekati putrinya.
            “Jangan mendekat, Ibu! Sudah kukatakan aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri! Dan kumohon, tinggalkan aku sendiri!” bentak perempuan sambil menyuruh sang ibu pergi.
            Sebenarnya sang ibu tidak rela meninggalkan anaknya sendirian. Naluriah alami seorang ibu mengatakan kalau anaknya sedang mengalami masalah yang tidak bisa dikatakan enteng. Itu terlihat bagaimana kekacauan yang dibuat oleh putrinya. Ingin sekali ia berada di sana, menemani putrinya menangis sambil mencoba membujuk agar mau bercerita. Tapi melihat keadaan putrinya yang begitu emosional, mau tak mau sang ibu harus meninggalkan anak sendirian. Ia masih menunggu waktu tepat agar bisa bicara dengan sang anak perempuannya.
            Ketika menuruni anak tangga terakhir, suara telepon menginterupsi lamunan sang ibu. Melangkah meraih gagang telepon.
            “Halo, dengan siapa ini?”
            “Apakah ini Ibu Miskha? Kami dari kepolisian.”
            “Ya ini saya sendiri. Ada apa dengan anak saya? Kenapa handphone anak saya bisa berada di kepolisian?” cecar sang ibu dengan nada panik.
            “Saya mohon Ibu segera ke RSU Bekasi. Kondisi anak ibu saat ini sedang kritis.”
            Perempuan paruh baya itu menangis tersedu-sedu seraya menuju kamar tidur.

Tuesday, 27 June 2017

Sang Novelis - 27



Penantian Yang Belum Terjawab
            8 Maret 2013
            Sudah dua minggu perempuan itu berlibur di rumah pamannya. Sambil berlibur, perempuan itu juga menunggu hasil evaluasi berupa kritik dan saran naskah novelnya. Menunggu dengan kecemasan apabila nanti sang penulis merespons negatif dan lebih banyak kritik. Menunggu dengan kebanggaan apabila sang penulis merespons positif dan ditambah dengan pujian.
            Ini sudah memasuki awal bulan Marettapi mengapa penulis itu tidak kunjung memberi kabar? tanya batin perempuan itu. 
***
            Lelaki berambut cepak itu mengurut-urut kening yang mulai panas. Ia berunding dengan pikirannya sendiri perihal pesanan naskah novel yang diterima dari beberapa penerbit yang melirik kesuksesan novel pertamanya.
            “Christia, menurut kamu mau pesanan naskah novel dari penerbit mana yang harus kuprioritaskan?” ujar lelaki itu.
            “Itu tergantung deadline yang diberikan penerbit dan tingkat kesulitan penulisan novel. Memang ada berapa penerbit yang ingin mengorder naskah novel padamu?” tanya Christia.
            “Ada sekitar tiga penerbit yang ingin mengorder naskah novel dariku. Yang pertama, penerbit Kumpul Pena. Penerbit ini mengorder naskah novel beraliran horor psikologi, tenggat waktu empat bulan. Yang kedua, penerbit Tinta Aksara. Penerbit ini mengorder naskah novel aliran adult romance, tenggat waktu tiga bulan. Dan terakhir, penerbit Dunia Kertas mengorder naskah novel beraliran drama kehidupan, tenggat waktu tiga bulan juga,” terang lelaki itu sambil memutar-mutar pena yang sedari tadi dipegangnya.
            “Tidak ada bonus yang dijanjikan dari tiga penerbit itu?”
            “Masing-masing penerbit sudah menerakan bonus dalam MoU diperlihatkan padaku sebelum aku memberikan tandatangan persetujuan. Untungnya para penerbit itu mau memberikan kesempatan untuk berpikir. Bonus yang ditawarkan sekitar 3-5% ditambah dengan royalti normal. Tapi, bonus itu akan diberikan pada semester kedua. Menurutmu, naskah novel mana yang harus kuterima jika melihat kemampuankudalam menulis?”
            Christia memilih menyesap teh manis panas di genggaman tangan kanan sambil berpikir. “Alangkah lebih baik kalau kamu mengambil order naskah novel drama kehidupan. Kenapa begitu? Ketika saya melakukan observasi pasar melalui toko-toku buku yang berada di Jabodetabek, saat ini novel beraliran drama kehidupan sedang dicari pasar. Drama kehidupan tidak terlalu memerlukan banyak riset. Dan lagi drama kehidupan bisa diambil dari berbagai aspek seperti keluarga, sekolah, lingkungan domisili, adat istiadat, dan masih banyak lagi,” anjur perempuan berkepang rambut kuda itu.
            “Mungkin ada benarnya juga yang kau katakan, Christia. Tapi drama kehidupan sepertinya bukan aliran saya,” sanggah laki-laki, halus.
            “Tidak ada salahnya untuk mencoba ‘kan? Anggap saja ini sebagai tantangan. Dan soal order naskah novel dari penerbit lain, mungkin kau bisa memilih satu lagi order naskah novel yang lain setelah naskah novel drama kehidupan sudah selesai. Bagaimana?”
            “Entahlah, Christia. Kurasa aku perlu waktu berpikir lebih banyak, mempertimbangkan tawaran dan usulmu itu. Dan aku juga ingat soal naskah novel yang diberikan anak itu harus secepatnya kubaca,” ungkap sang penulis.
            Christia mengembus napas lelah melihat sang penulis pasrah dan tak mau mendengar sarannya. Ketika keduanya terdiam lama, nada handphone menginterupsi keheningan yang mereka ciptakan. 
            “Biar saya saja yang mengangkat.” Lelaki itu kembali duduk ketika dia dan sang manajer sama-sama berdiri mengangkat handphone yang berada di meja kerja.
            “Halo, selamat siang,” sahut Christia sambil menerima panggilan itu.
            “Selamat siang. Bisa berbicara dengan penulis novel Last Holiday?”
            “Oh kamu ya. Ini saya manajernya, Christia Damanik. Untuk sementara kami belum bisa memberikan penilaian mengenai naskah yang kamu berikan. Kami punya beberapa urusan penting beberapa bulan kedepannya,” ungkap Christia.
            Perempuan yang tersambung via telepon itu terdiam beberapa detik lalu menjawab alasan yang diutarakan sang manajer. “Baiklah kalau begitu. Beri kabar jika naskah saya sudah selesai dievaluasi,” tandasnya sambil mengakhiri pembicaraan.
            “Siapa yang menghubungi saya?”
            “Perempuan yang memberikan naskah novel padamu dua minggu yang lalu,” jawab Christia sambil duduk kembali di depan sang penulis.
            “Kalau begini, aku juga harus cepat. Naskah novel milik perempuan itu akan kuperiksa secepatnya setelah aku memutuskan order naskah novel mana yang akan kupulih.”
***
            Ah urusan penting apa? Banyak alasan, rutuk batin perempuan itu sehabis menerima jawaban dari sang manajer.