Thursday, 11 January 2018

The Beauty Symphony - 4



Sekarang
            9 Mei 2016     
            Aldo mencelikkan kelopak mata ketika telinganya sengaja mendengar suara orang bernyanyi menggunakan gitar. Suara si penyanyi memang tidak terlalu bagus tapi petikan gitar si penyanyi membuat Aldo masih bisa sedikit menjiwai lagu yang dilantunkan. Ia membereskan kelambu beserta dengan selimut lalu menuju suara itu.
            Di pinggir pintu ruang tamu, Aldo melihat Fidel sedang memainkan gitar sambil meletakkan handphone di depannya.
            Ini anak.Pagi-pagi udah live streaming, ujar batin Aldo. Kini ia sudah berada di depan Fidel sambil menarik kursi plastik.
            “Heh, cepat jemput rantangan. Cacing di perut gua udah keroncongan nih,” suruh Aldo dengan mimik kesal.
            “Memangnya ini giliran siapa?” Fidel bertanya balik.
            “Ya elahpake ditanya segala. Ya elah giliran elo. Ayo cepat,” jawab Aldo seraya memaksa.
            “Tapi tunggu dulu... Honor manggung kita semalam ‘kan sama elo kan?” tahan Fidel sambil menyimpan handphone ke dalam saku celana pendek.
            “Iya nanti gua bagi rata. Tunggu si Riky sama si Jimmy bangun.”
            Tak berapa lama, Riky dan Jimmy keluar dari kamar mereka. Riky melangkah menuju meja belajar sambil membawa kertas dan alat tulis sedangkan Jimmy memegang wadah penanak nasi.
            “Begitu gua dengar kalian bicara tentang honor seketika itu juga gua langsung bangun dari tempat tidur,” gurau Riky sambil menarik kursi yang tak jauh dari meja belajar.
            “Kalau soal duit, langsung bangun loe semua. Kalau begitu tunggu sebentar.Biar gua ambil amplop semalam.” Aldo beranjak sebentar dari kursi menuju lemari pakaian. Ketika sampai di lemari, Aldo membuka laci merah sambil menyibak tumpukan celana.
            Kini amplop itu sudah di tangan Aldo. Jika diterawang dari kejauhan, isi amplop itu lumayan tebal. Ketiga teman Aldo menaksir jumlah uang di amplop itu paling sedikit 400 ribu.
            “Oke ini amplop belum sama sekali kubuka. Ayo kita lihat berapa jumlah uang di dalamnya.” Jemari Aldo yang gemuk pelan-pelan membuka perekat menempel di kertas amplop. Begitu perekat terlepas, lelaki berambut ikal itu menarik sejumlah uang yang ada di dalam kertas amplop. Kemudian menghitungnya secara hati-hati.
            “Baiklah honor manggung kita di kafe sebesar 350 ribu. Dan kita akan bagi uang ini secara adil dan merata. Pertama untuk Riky.” Aldo menyodorkan uang sejumlah 80 ribu pada Riky, “Sudah cukup untukmu?” tanya Aldo.
            Riky mengangguk seraya berkata, “Lumayan buat beli paket.”
            Sebelum Jimmy menerima uang itu, dia memilih berkomentar soal honor manggung mereka di kafe semalam. “Cuma 350 ribu? Sedikit amat. Ya entah ditambahin kek jadi 400 ribu sampai 500 ribu.”
            “Syukuri aja berapa yang dikasih manajer itu untuk kita.  Daripada enggak dikasih. Gimana?” Aldo menanggapi komentar Jimmy sambil memberikan uang sejumlah 75 ribu lalu disambut oleh tangan Jimmy.
            “Dan kini giliran kita berdua, Fidel. Aku 110 ribu dan elo 90 ribu? Deal?”
            “Beri waktu gua untuk mikir.” Fidel mendongakkan kepala sambil mengelus dagu.
            “Oke, gua setuju. Oh ya gua hampir lupa. Hut—“
            “Kalau itu, nanti ya, Bro,” potong Aldo, cepat, sambil memberikan uang senilai 90 ribu pada temannya.
            “Tapi ngomong-ngomong sudah tanggal berapa ini teman-teman?” tanya Fidel.
            “Tanggal 09 Mei, Bro. Memangnya kenapa?” balas Jimmy.
            “Kalian bawanya uang kontrakan?” Fidel memastikan.
            “Jelas gua bawalah. Ini ‘kan sudah waktunya membayar. Gimana dengan teman-teman yang lain?” Aldo menatap Jimmy dan Riky bergantian.
            Jimmy dan Riky mengangguk bersamaaan pertanda mereka sudah membawa uang kontrakan.
            “Baguslah kalau begitu. Soalnya tadi malam, aku sudah ditelepon tukang kontrakan kalau mereka akan datang malam ini. Tapi setelah bayar kontrakan, kita jadi bukan, ke studio Angel malam ini?”
            “Jelas jadilah. Kita ‘kan diundang sebagai salah satu band lokal untuk perayaan hari jadi kota Medan tanggal 12 Mei ini. Jadi penampilan kita enggak boleh mengecewakan.”

Sunday, 7 January 2018

The Beauty Symphony - 3



Akankah Jimmy Bergabung?
             Kodrat alam semesta jika siang sudah diberi kuasa selama dua belas jam maka malam akan diberi kuasa juga seperti halnya siang. Suasana di sekitar perumahan jalan Ismar Saragih cukup lengang diterangi lampu-lampu pijar ‘pabila malam tiba.
            Aldo sibuk menyiapkan tugas presentasi individu English Phonology. Sedangkan Fidel sedang asyiknya bermain gitar.
            “Heh, asyik main gitar aja. Elobantuguadong ngerjakan English Phonology,” tegur Aldo sambil berpaling sebentar dari laptopnya.
            “Ah gua lagi malas. Kerjain napa sendiri. Lagian ‘kan tugasnya gampang,” elak Fidel sambil tangannya begitu intens memetik senar gitar.
            Aldo membuang napas kesal melihat kawannya yang tidak bisa memberi sedikit bantuan. Lelaki berwajah bulat kekotakan itu kembali mengerahkan konsentrasi pada tugas yang akan dipresentasikan esok hari.
            “Sebenarnya gua masih kesal sama si Riky. Mentang-mentang kita belum terkenal di kampus ini, dia bisa seenaknya menertawai sambil mengejek kita,” ungkap Fidel sambil menyeruput kopi yang baru diseduh lima menit yang lalu.
            “Enggak usah terlalu diambil pusing. Kalau dipikirkan secara baik-baik, memang benar. Masa baru kenal sepuluh menit, langsung mau bergabung begitu saja? Pasti dia juga berpikir dulu matang-matang,” sanggah Aldo.
            “Setidaknya dia bisa memberikan alasan logis dan rasional tanpa tertawa keras di depan penghuni kantin. Sama aja dia meremahkan dan mempermalukan kita. Untung gua bisa menahan emosi. Kalau enggak, udah melayang ini tangan ke mukanya,” balas Fidel sambil menganggarkan tinju tangannya.
            Aldo tidak langsung merespon ucapan Fidel. Jemari kurusnya masih giat menekan tuts laptop.
            “Kalau dia tidak mau, ya sudah. Kita coba bujuk si Jimmy, anak prodi bahasa Indonesia itu buat bergabung dengan kita. Siapa tahu dia mau.” Aldo berpaling pada Fidel, berhenti sejenak mengetik.
            Fidel menaruh gitar di atas lantai marmer sambil menyeruput kopi dalam gelasnya. “Oke. Gua setuju sama loe. Pulang English Phonology besok kita jumpai dia,” tandas Fidel seraya meletakkan gelasnya yang sudah kosong.
*
            Aldo melangkahkan kakinya begitu cepat setelah selesai mata kuliah English Phonology. Senyum kecil mengembang di bibir cokelatnya. Sementara di belakangnya, Fidel tergesa-gesa menyusul Aldo.
            “Hei, tunggu dong. Mentang-mentang loe sukses presentasi, main tinggal kawan aja,” ketus Fidel sambil mempercepat kedua kakinya menyusul Vino.
            “Makanya cepat. Jangan kelamaan jalannya. Mau enggak pas kita sudah sampai ke kelasnya, si Jimmy malah enggak ada?”
            Fidel terdiam oleh pertanyaan Aldo. Ia memilih tetap melangkah, memperhatikan apa yang ada di depan. Ketika fokus dengan apa yang ada di hadapannya, mata Fidel tak sengaja melihat sosok lelaki kurus tinggi, sedang berjalan meninggalkan lantai dasar.
            “Do, itu Jimmy ‘kan, yang dibilang Riky kemarin?” tunjuk Fidel pada lelaki kurus tinggi di sana.
            “Oh iya. Kalau begitu ayo kita datangi dia,” gegas Aldo. Keduanya mempercepat langkah kaki menghampiri lelaki itu.
            Untung saja mereka bisa cepat. Lelaki kurus tinggi itu menghentikan langkah kaki ketika ia mengetahui ada yang berusaha menghampiri dirinya.
            “Tunggu.Elo Jimmy ‘kan, anak prodi bahasa Indonesia?”
            “Ya betul. Ada keperluan apa ya?” Jimmy bertanya balik pada kedua lelaki itu.
            “Alangkah baiknya kita bicarakan ini di kantin,” usul Aldo sambil mengajak teman-temannya menuju kantin.
            Kini ketiga lelaki itu sudah berada di kantin ketiga. Tidak terlalu banyak jajanan mereka di kantin itu. Teh manis dingin menemani perbincangan mereka. Aldo dan Fidel mulai membicarakan rencana mereka membentuk band di kampus Mensenno. Sambil mendengar pembicaraan mereka, Jimmy menyeruput teh manis dingin kepunyaannya sedkiit demi sedikit. Berusaha memikirkan matang-matang rencana kedua lelaki yang terdengar ambisius itu.
            “Jadi, kalian sudah mengajak Riky? Apa jawabannya?”
            “Kami sudah mengajaknya tapi dia bilang dia belum bisa mempercayai kami dan ingin lihat sejauh mana kemampuan kami dalam bermusik,” papar Aldo sambil menuangkan air mineral ke dalam gelasnya yang menyisakan es batu.
            “Kalian tahu, aku adalah teman dekat Riky. Aku juga tahu mengapa dia bisa mengatakan hal itu pada kalian.”
            “Apa hal yang tidak kami ketahui dari dia?” sambung Fidel yang terlihat antusias.
            “Sebenarnya... kami berdua pernah bergabung di salah satu band yang ada di kota Pematangsiantar ini,” ujar Jimmy demgan tatapan berkaca-kaca.
            “Lalu apa yang terjadi dengan band kalian?” tanya Aldo.
            “Nama band kami—Dual Tone, sudah masuk salah satu studio rekaman nasional. Memang, Pak Tanu Wijaya, manajer kami, waktu itu mengatakan jika kalian ingin bertahan di pasar musik Indonesia, kami harus mengikuti selera pasar. Dan jika perlu kami harus mengganti genre band. Tiga personil band Dual Tone sudah berdiskusi dengan kami berdua karena mereka tahu kami berdualah yang mengusung genre hard rock dalam band itu. Kami berdua bersikeras tidak ingin mengubah genre band itu dan lagipula hard rock sudah menjadi idealisme band kami. Tapi demi uang dan selera pasar, tiga personil band Dual Tone rela mendepak kami dari band.” Jimmy mengakhiri ceritanya mengenai band Dual Tone yang pernah membesarkan nama Riky dan Jimmy.
            “Kalau boleh tahu, siapa vokalis dalam band Dual Tone itu?” Fidel menyingkirkan gelas kaca yang sudah kosong.
            “Kau bilang kau pernah melihat kami berdua bermain alat musik di taman kampus, bukan? Seharusnya kau bisa menebak siapa di antara kami berdua yang menjadi vokalis di band itu.” Jimmy menggeser poni rambutnya ke kiri.
            “Riky?” tebak Fidel. Jimmy mengangguk pelan, membenarkan jawaban Vinno.
            “Dan bagaimana jawabanmu sekarang? Apakah kau ingin bergabung dengan band kami? Kita buat mereka yang sudah menyia-nyiakan dan membuang kita, menyesal akan keputusan mereka. Kita akan mengibarkan nama kita di kancah musik nasional tanpa harus mengubah genre band kita. Kita akan menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin berkarya di bidang musik. Itulah yang ingin kuwujudkan ketika aku ingin membentuk band musik.” Aldo begitu antusias dan membara ketika ia mengutarakan alasannya memgajak Riky bergabung dalam band-nya.
            Jimmy mengulas senyum kecil di bibirnya begitu mendengar alasan yang diutarakan Aldo. “Kau dan impianmu itu memang naif, Aldo, tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa mewujudkannya. Aku tertarik dengan apa yang kau katakan tapi bisakah kau memberikan aku waktu sekaligus membujuk Riky siapa tahu dia mau bergabung? Paling lama dua hari,” respon Jimmy.
            “Baiklah kalau begitu. Kau punya kontak yang bisa dihubungi?” Aldo mengeluarkan handphone.
            Jimmy juga mengeluarkan handphone dari dalam kantong.   Ia membuka kontak nomor lalu bertukar nomor.
            “Thanks, Bro. Gua nunggu jawaban lo,” pamit Aldo sambil menyuruh Fidel berpaling dari hadapan Jimmy.
*
            “Yap ini sudah tiga hari dan kita belum juga mendapat jawaban dari Jimmy. Gua rasa si Jimmy memang enggak berniat bergabung dengan kita...,” simpul Fidel pada Aldo yang sedang terpekur di depan pelantang.
            Aldo hanya mengangguk dua kali menyetujui perkataan Fidel. Terlihat tatapan mata kecewa dan kulum bibir melengkung ke bawah. Padahal tiga hari yang lalu, ia sudah mengatakan apa motivasi yang menggerakkan dirinya membentuk band. Dan ternyata hal itu belum bisa menggerakkan hati Jimmy bergabung dengan mereka.
            Sekian lama termenung, mereka tersentak begitu ada orang yang mengetuk pintu studio.
            “Siapa di sana?” tanya Fidel.
            “Ini kami, Jimmy dan Riky,” jawab orang yang berada di luar studio.
            Kini kekagetan Aldo dan Fidel bertambah saat keduanya mengetahui bagaimana bisa Jimmy dan Riky bisa tahu keberadaan mereka. Tapi mereka memilih membuka pintu studio terlebih dahulu sebelum menjawab tanda tanya yang masih mengambang di pikiran mereka.
            Begitu pintu terbuka, Jimmy dan Riky langsung menghampiri drum dan bass yang masih teronggok diam di atas lantai.
            “Bagaimana kalian bisa tahu kami ada di sini?” tanya Aldo, langsung.
            “Orang bilang kalian sering datang ke studio ini. Jadi kami tinggal menyusul kalian dan akhirnya kita bertemu,” jawab Riky.
            “Jadi... kalian setuju untuk bergabung dengan kami?” tanya Aldo sambil tangan kanannya memegang batang mic.
            Jimmy dan Riky sudah stand by dengan alat musik yang dipegang mereka. Mereka berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Aldo.
            “Jika kami berdua sudah menyusul kalian ke tempat ini, pasti kalian sudah tahu apa jawaban kami, ‘kan? Dan sekarang, katakan apa lagu yang ingin kita nyanyikan saat ini,” balas Jimmy sambil menyetem bass.
            Aldo mengulum senyum bahagia. Ia berterimakasih pada Tuhan karena pintu hati mereka sudah dibukakan untuk bergabung dengan mereka. Tadi mereka sempat putus asa karena Jimmy tak kunjung menjawab tawaran mereka. Dan Aldo pun yakin kalau Fidel juga turut senang dengan keadaan ini.
            “Hey, kita main lagu apa?” tanya Riky pada ketiga lelaki di depannya.

Friday, 29 December 2017

The Beauty Symphony - 2



Riky
            Dua tahun lalu...
            Terbentuknya The Beauty Symphony punya keunikan dan sejarah tersendiri bagi keempat lelaki ini. Meski mereka berempat berkuliah di Universitas Mensenno, tapi keempat lelaki itu beda jurusan. Aldo dan Fidel merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Riky, mahasiswa jurusan Pendidikan Ekonomi dan Jimmy, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.
            Bisa dikatakan ada kekuatan tak kasat mata mempertemukan mereka berempat. Sebelum mengenal Riky dan Jimmy, Aldo dan Fidel adalah dua sahabat akrab. Kedua lelaki itu juga satu kontrakan dan satu grup di jurusan yang sama. Mungkin, hal inilah yang membuat mereka selalu dekat.
            Aldo dan Fidel sama-sama menyukai musik. Para penghuni kampus pun tahu kalau Vinno merupakan sang juara satu kontes menyanyi, Mensenno Idol. Fidel sendiri pun merupakan partner Aldo dalam hal olah vokal dan musik.
            Jika jadwal kuliah dan tugas dari dosen tidak padat, mereka berdua selalu membawa gitar dan bernyanyi di taman kampus. Hal lazim ketika mereka akan menyanyi, orang-orang ikut bergabung dan bernyanyi dengan mereka. Bagi mereka berdua itu bukanlah masalah. Ini merupakan usaha menjalin keakraban dengan anak-anak dari jurusan lain sekaligus menambah jaringan pertemanan.
            Ada kalanya kedua lelaki itu bosan dengan suasana kampus. Kontrakan di jalan Ismar Saragih menjadi tempat tongkrongan mereka. Suasana di sekitar kontrakan mereka begitu tenang. Tidak terlalu banyak lalu lalang kendaraan lewat dan para pejalan kaki di sana. Suasana di sekitar mereka memang cocok jadi tempat menenangkan diri ataupun jika ingin belajar secara khusyuk.
            “Eh, Bro, ayo kita bentuk band. Gua bosan nih berduet sama loe terus,” ujar Fidel sambil meletakkan gitar yang dipegangnya di atas lantai ubin.
            “Loe pikir bentuk band gampang?” Susah tahu cari orang yang sehati dan sepikiran dengan kita. Lagipula elo enggak apa ingat sama Djarot dan Anton?” jawab Aldo sambil melangkah menuju dispenser.
            “Kalau mereka mah enggak usah dibahas lagi. Mereka itu cuma mau menonjolkan kelebihan diri mereka sendiri. Oh ya, Do, kemarin elo lihat enggak dua laki-laki yang satu putih, kurus, tinggi dan satu lagi, kulitnya sawo matang agak gemuk. Main gitar sama kajon di taman kampus?” Fidel bangkit berdiri sambil mendaratkan pantat, duduk di atas meja belajar.
            Aldo meneguk segelas air yang ada di tangan terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Fidel.
            “Hmm, oh ya. Gua juga lihat kok. Kalau yang kurus, putih, tinggi, itu anak pendidikan ekonomi. Kalau yang satu lagi, gua kurang kenal,” ujar Aldo sambil meletakkan gelas di atas meja belajar.
            “Kira-kira mereka mau nggak ya gabung sama kita?” Fidel ragu.
            “Ya kita jumpai saja mereka besok. Di tempat biasa mereka nongkrong.” Aldo mengeluarkan ponsel sambil membuka salah satu aplikasi media sosial.
            “Elo tahu tempat biasa mereka nongkrong di kampus ini?” tanya Fidel memastikan.
            “Di kantin gerbang kedua.”
*
            Cuma dua mata kuliah saja di hari ini. Tapi lelah menguras begitu banyak tenaga dan konsentrasi. Gedung perkuliahan mereka berada di tingkat tiga ditambah puluhan anak tangga yang harus mereka lalui untuk sampai di lantai dasar. Membuat otot-otot di betis mereka berkontrasi.
            “Ah naik betis gua turunin tangga ini. Kampus ini seharusnya bisa bikin lift,” keluh Fidel sambil memijit pelan betisnya.
            “Sudahlah, santai aja. Sudah mau sampai kok di kantin gerbang kedua. Jaraknya tinggal 250 meter lagi dari lantai dasar,” ujar Aldo sambil mengambil botol minuman kemudian meneguknya.
            Merasa akan tiba di tempat tujuan, Fidel berusaha sabar sambil menunggu Aldo menyimpan botol minuman ke dalam tas. Begitu sudah tersimpan, kedua lelaki itu melanjutkan perjalanan mereka.
            Kantin gerbang kedua merupakan kantin nomor dua yang sering ramai menjadi tongkrongan anak kampus. Di samping itu, kanting gerbang kedua juga punya reputasi kurang baik. Kantin itu sering menjadi tempatnya mahasiswa cabut di mata kuliah tertentu atau mahasiswa yang sering titip absen.
            Langkah kedua kaki lelaki itu sudah tiba di depan kantin gerbang kedua. Material bangunan kantin tersusun atas kayu kelapa dan beratapkan seng biasa. Tidak terlalu menarik dan terkesan mewah seperti kantin gerbang ketiga dan pertama. Keduanya bisa melihat banyak mahasiswa sekadar menghabiskan waktu sambil menikmati gulungan tembakau yang berpijar. Empat orang mahasiswa sedang mengerahkan konsentrasi menjalankan pion-pion hitam dan putih di atas papan catur. Tapi yang paling menarik perhatian Aldo dan Fidel yakni seorang laki-laki berkulit sawo matang agak gemuk memainkan melodi pada gitar akustik.
            “Ini ‘kan salah satu laki-laki yang kita jumpai di taman mini kampus kemarin?” Aldo memastikan apa yang dia lihat pada Fidel.
            “Mana gua tahu. ‘Kan elo yang bilang kalau dia sering nongkrong di kantin ini,” ketus Fidel. Kedua lelaki itu melangkah pelan memasuki kantin.
            Tidak ada yang mempedulikan keributan kecil yang mereka berdua lakukan. Penghuni kantin tetap berkonsentrasi dengan apa yang mereka lakukan. Tidak butuh waktu lama, kedua lelaki itu sudah berada di meja yang ditempati lelaki berkulit sawo matang itu.
            “Bang...,” sapa Aldo agak segan.
            Aldo memutar bola matanya pada Fidel seperti ingin mengatakan ‘dia tuli atau kita lagi dikacangin sama ini anak?’ lalu mengembalikan pandangan pada orang yang berada di depannya.
            “Kalau boleh tahu, Abang yang main gitar sama kajon di taman mini kampus itu ‘kan?” giliran Fidel bertanya pada laki-laki itu.
            Lelaki itu berhenti memainkan gitarnya sambil mendongakkan kepala. “Iya. Omong-omong kalian berdua siapa ya? Anak kampus Mensenno ini ‘kan?”
            “Ya, Bang. Kami dari prodi pendidikan bahasa Inggris stambuk 2014.” Aldo terlebih dahulu menjulurkan tangannya kemudian disusul Fidel.
            “Riky. Jadi, ada perlu apa datang ke sini?” Usai Vino dan Fidel berjabatan tangan, lelaki itu baru menyebutkan nama sekaligus bertanya apa keperluan mereka datang menjumpainya.
            “Kemarin, kami lihat Abang bermain gitar di taman mini. Kami juga terkesan dengan permainan gitar dari Abang dan teman Abang yang satu lagi. Langsung saja ke inti. Abang mau bergabung dengan band kami?” urai Aldo panjang lebar. Ia berharap dalam hati Riky akan merespon positif tawaran darinya.
            Riky merespon tawaran mereka dengan tertawa keras. Seluruh penghuni kantin melirik padanya. Entah apa yang membuat Riky tertawa. Apa karena tampang mereka tidak meyakinkan kalau mereka pandai musik. Atau ada salah kata yang diucapkan Aldo. Tapi begitu Riky tertawa, Fidel sudah menggenggam tangannya tak sabar ingin meninju wajah Riky.
            “Aku belum tahu bagaimana kemampuan kalian dalam bermusik. Aku belum mempercayai kalian. Aku juga butuh waktu untuk mengenal kalian lebih jauh. Jadi maaf, aku belum bisa bergabung dengan kalian.” Riky menggelengkan kepala guna memperkuat pernyataan yang diungkapkan untuk mereka berdua.
            Mendengarkan alasan Riky, tanpa banyak kata, Aldo dan Fidel mengundurkan diri dari hadapan Riky.
            “Terimakasih ya, Bang.” Fidel memilih mengucapkan kata itu, menutupi kekesalannya pada Riky.
            “Oh ya, aku hampir lupa. Aku juga satu stambuk dengan kalian. Jadi tidak usah memanggilku abang. Dan laki-laki yang bermain kajon itu namanya Jimmy. Anak dari prodi bahasa Indonesia. Coba tanya sama dia. Siapa tahu dia mau bergabung dengan kalian,” ujar Riky terakhir kali sambil kembali memainkan gitarnya.