Thursday, 1 February 2018

The Beauty Symphony - 10



Margareth dan Aldo
            “Hei.” Suara perempuan itu sontak mengagetkan Aldo. Untung saja gitar yang dipegangnya tidak lepas.
            Aldo mengarahkan matanya pada perempuan yang menyapa secara tiba-tiba. Rambut hitam sebahu tumbuh indah di atas kulit kepala. Bulu mata dan kelopak mata berkedip berulang-ulang kemudian perempuan itu menorehkan senyum.
            “Boleh bergabung dengan kamu?” tanya perempuan itu.
            Aldo seakan tak bisa melepaskan tatap matanya pada gadis itu. Dalam sekali lirik, ia sudah menyimpulkan bahwa perempuan yang ada di hadapannya saat ini merupakan perempuan manis.
            “O-oh enggak apa-apa. Silakan duduk.” Aldo mengulurkan tangan sambil menggeser bokong, memberi tempat untuk perempuan itu.
             Saat ini perempuan itu sudah bersama dengan Aldo. Aldo berusaha menahan kegugupan dalam hati begitu dia berada di sebelah perempuan itu.
            “Maaf ya aku mengagetkan kamu,” ucap perempuan itu dengan raut wajah sesal.
            “Enggak apa-apa. Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku yang seharusnya berterimakasih. Kalau kamu enggak datang, pasti aku akan melamun terus di bangku ini,” kilah Aldo sambil memangku gitar di atas paha.
            “Benarkah? Tapi apa yang kamu lamunkan? Kelihatannya serius banget.”
            Perempuan itu mulai memberikan perhatian akan jawaban Aldo. Tatapan perempuan itu seolah memadamkan api amarah yang sempat marak di hati Aldo. Membuat Aldo tak konsentrasi memainkan kunci-kunci gitar.
            “Bukan masalah penting. Aku cuma ingin memberikan pelajaran pada Pentatonic band untuk tidak mengacau jika kami sedang konser,” jawab Aldo sambil meletakkan kembali gitarnya di samping bangku taman.
            “Pentatonic band...? Sepertinya aku pernah mendengar nama band itu.” Perempuan itu sedikit mendongak sambil memegangi dagu.
            Aldo bisa melihat kalau perempuan yang ada di sampingnya tidak tahu sama sekali tentang Pentatonik band. “Kau kenal dengan Djarot? atau Naryo?”
            “Kalau Djarot dan Adit, aku kenal dengan mereka. Jadi mereka itu teman satu band?” Aldo mengangguk setuju.
            “Pentatonic band berusaha menghancurkan band kalian?” tanya perempuan itu tak percaya.
            “Aku pun tidak tahu pasti kalau mereka punya tujuan seperti itu. Tapi kalau mereka sampai menghalalkan segala cara untuk menghancurkan The Beauty Symphony, sampai kapanpun mereka tidak akan pernah menjadi band yang sukses dan terkenal.”
            Perempuan itu hanya mengangguk takzim mendengar pernyataan dari Aldo. “Tapi tunggu dulu. Berarti kamu anak band juga ‘kan? Apa tadi nama band-mu?”
            “The Beauty Symphony,” ujar Aldo dengan mantap.
            “Dengar dari orang-orang, band kalian itu jago banget mengarasemen lagu orang. Isn’t right?”
            “Kalau dibilang jago sama orang lain, kayaknya enggak terlalu bagus banget sih. Cuma kami berterimakasih banyak kalau orang lain bilang kami jago mengarasmen. Tapi itu semua engak terlepas dari usaha dan kerja kearas para personil band. Karena tidak mudah untuk mengubah suatu lagu,” jelas Aldo panjang lebar.
            “Boleh aku request satu lagu?” pinta Margareth.
            “Boleh. Mau request lagu apa?”
            “Berhenti berharap dari Sheila On 7. Tapi ambil dari kunci nada C#m. Oke?”
            Vinno terheran mendengar lagu permintaan dari Margareth. Ditambah dengan kunci nada lumayan tinggi. Vinno ingin mendengar apakah Margareth sanggup menyanyikan lagu permintaannya dengan baik. Sebelum masuk ke lirik, lelaki berwajah bulat kekotakan itu mengambil interlude.
            Aku tak percaya lagi dengan apa yang kauberi
            Aku terdampar di sini tersudut menunggu mati
            Aku percaya lagi akan guna matahari
            Yang dulu selalu terangi sudut gelap hati ini...
            Dalam hati, Aldo begitu terkesima mendengar suara Margareth. Halus tapi sanggup mengambil nada tinggi. Aldo hampir tidak percaya kalau kalau yang dia dengar saat ini adalah suara Margareth.
            Aku pulang tanpa dendam
            Kuterima kekalahanku
            Aku pulang tanpa dendam
            Kusalut ‘kan kemenanganmu
            Jemari Aldo semakin bersemangat memetik sambil memindahkan kunci nada. Margareth semakin menunjukkan performa terbaiknya dalam menyanyikan lagu permintaannya.
            kau ajarkan aku bahagia
            kau ajarkan aku derita
            kau tunjukkan aku bahagia
            kau tunjukkan aku derita
            kau berikan aku bahagia
            kau berikan aku derita
            Sesaat usai menyanyikan sepenggal lirik terakhir, Aldo menyudahi permainan gitarnya. Ia melihat ke arah Margareth sambil berdecak kagum.
            “Aku sih yes setelah mendengar kamu bernyanyi. Suara kamu itu halus tapi sanggup mengambil nada tinggi tanpa terdengar fals. Hebat kamu,” komentar Aldo dengan sedikit gaya bicara Anang.
             “Terimakasih banyak, Aldo. Aku merasa terhormat dipuji sama vokalis band terkenal seperti kamu,” puji Margareth.
            “Ah kamu, Margreth. Aku belum bisa dikatakan terkenal. Band ini pun masih bisa dikatakan band lokal ya walaupun tinggal tunggu teken kontrak dari label rekaman nasional,” seloroh Aldo sambil menggaruk kecil kepala.
            “Aduh sangking seriusnya kita nyanyi, kita jadi lupa memperkenalkan diri. Namaku Aldo.” Aldo mengulurkan tangannya.
            “Margareth.” Perempuan itu ikut membalas jabat tangan Aldo.
            Di sinilah momen canggung itu terjadi walau hanya beberapa saat. Kedua insan berlainan jenis itu menatap satu sama lain. Entah apa yang mereka katakan lewat tatap itu, hanya mereka berdua saja yang tahu.
            “Ehm, Margareth, terimakasih. Berkat kamu aku jadi merasa lebih baik,” ujar Aldo sambil menoreh senyum kecil.
            “Benarkah? Padahal aku tidak memberikan nasihat apapun. Kita hanya bernyanyi saja,” balas Margareth seraya tersenyum juga.
            Aldo membuka resleting tas gitar lalu meletakkan gitar miliknya. Begitu tersimpan, ia mulai memanggul gitar itu di kedua pundak sambil bangkit berdiri.
            “Mungkin aku bisa memperkenalkan kamu pada teman-teman satu band-ku,” ucap Aldo sebelum memalingkan badan.
            “Senang rasanya kalau bisa berkenalan dengan temanmu nanti—”
            “Atau mungkin... kita bisa nyanyi dalam satu panggung,” ajak Aldo secara tak langsung kemudian dia beranjak pergi dari hadapan Margareth.
            “Kau tidak sedang bercanda bukan, Aldo? Suaraku jelek,” pungkir Margareth.
            “Itu semua tidak benar setelah kau nanti latihan dengan kami,” pungkas Aldo sambil menaikkan bokong di atas jok motor. Usai menekan klakson, sepeda motor Aldo memelesat meninggalkan lingkungan kampus.

Monday, 29 January 2018

The Beauty Symphony - 9



Kehadiran     
            Usai para personil band The Beauty Symphony dan sang manajer menikmati sarapan pagi, mereka sudah berada di depan pintu masuk hotel. Di saat itu pula, Pak Tono, sang supir pribadi memberhentikan mobil tepat di hadapan mereka.
            Sang supir mempercepat laju mobil begitu semuanya berada di dalam.
            “Nah Pak Edward, sekarang Bapak bisa jelaskan bagaimana ciri-ciri pelaku pelemparan bos asap itu.” Aldo yang masih diliputi penasaran, menyuruh pak Edward melanjutkan pembicaraanya tadi.
            “Hmm baiklah. Begitu insiden pelemparan itu terjadi, saya langsung menyuruh polisi untuk mencari si pelaku. Meskipun polisi tidak berhasil meringkus pelaku, tapi polisi sudah mengantongi ciri-ciri pelaku dan nomor plat sepeda motornya,” tutur Pak Edward.
            “Cepat beritahu dong, Pak Edward. Jangan bikin penasaran,” desak Riky.
            “Si pelaku mengenakan topi hitam, jaket kulit cokelat muda. Tinggi sekitar 167 sentimeter. Kelihatannya rambut gondrong meski kepala si pelaku tertutup topi. Nomor plat kendaraan BK 2345 XYZ.”
            Keempat lelaki itu diam sejenak sambil menganalisa penjelasan yang dikatakan sang manajer.
            “Topi hitam? Gondrong? Plat BK 2345 XYZ?” ulang Jimmy.
            “Bukannya itu... Eko?” sambar Riky sambil menerka nama si pelaku. Aldo, Fidel dan Jimmy kompak menengok ke arah Riky.
            “Maksudmu Edo personil band Pentatonic yang terkenal di kampus kita?” Fidel meminta penjelasan mengenai Edo yang disebutkan Riky.
            Riky mengangguk pelan, membenarkan penegasan dari Fidel. “Benar sekali. Ciri-ciri yang sebutkan Pak Edward hampir mirip dengan Eko. Dia berambut gondrong, sering memakai topi hitam dan mengendarai sepeda motor RX King dengan plat nomor BK 2345 XYZ.”
            “Berarti firasatku tidak salah lagi. Kalian tahu, sewaktu gumpalan asap yang mengerubungi kita mulai menipis, aku seperti melihat Naryo sedang tergesa-gesa menuju pintu keluar. Aku yakin sabotase di panggung itu ulah mereka.” Aldo juga angkat bicara.
            “Kita tidak bisa menuduh mereka sembarangan tanpa bukti yang jelas. Bisa yang kita atau para polisi lihat memang mirip dengan Aldo dan Edo,” sanggah Fidel dengan apa yang diutarakan Aldo.
            “Ya aku juga yakin pasti itu ulah mereka. Mereka merasa iri dan tersaingi begitu mendengar kabar kalau kita akan masuk dapur rekaman di salah satu perusahaan musik nasional. Sabotase yang  mereka lakukan adalah usaha untuk menghancurkan image band kita,” dukung Jimmy pada pendapat Vinno.
            Fidel menghela napas lelah melihat teman-temannya yang sulit dinasihati terlebih Aldo, sang vokalis yang keras kepala. Fidel berharap ia dan teman-temannya akan sampai di rumah.
*
            Ada sekitar dua kafe berada di luar lingkungan kampus. Kantin Wanada berada di seberang jalan kampus Mensenno dan selalu ramai dikunjungi para mahasiswa dari berbagai jurusan untuk sekadar melamun sampai dengan bermain domino. Di antara keramaian itu, lima lelaki duduk di salah satu meja bundar sedang asyik berbincang serius dengan volume suara agak pelan.
            “Elo yakin Rot, cewek itu bisa kita manfaatkan buat ngedeketin si Aldo?” tanya Adit kurang yakin.
            “Iya. Kayaknya gua juga kurang yakin gitu. Bisa-bisa dia bakal ngebongkar rencana kita buat menghancurkan The Beauty Symphony?” sambung Edo. Ia juga menyatakan ketidakyakinannya pada rencana Djarot.
            Djarot berdecak pelan sambil menggelengkan kepala melihat Adit dan Edo masih meragukan rencana yang dia rancang. “Kalau loe masih enggak yakin. Mungkin Anton bisa menjelaskan.” Djarot merentangkan telapak tangannya ke arah Anton. Memberikan isyarat kepada temannya untuk menjelaskan siapa perempuan yang Djarot maksud.
            “Sebenarnya perempuan itu sudah lama memendam rasa kepada Djarot. Seminggu lalu, perempuan itu memberanikan diri mengungkapkan perasaannya secara lang—“
            “Wah hebat loe, Rot. Sangking gantengnya elo, cewek pun sampai memberanikan diri menembak cinta loe. Loe terima enggak?” potong Marthin cepat.
            Anton menautkan kedua alisnya melihat tingkah Martin yang seenak mulutnya memotong cerita Anton.
            “Eh tikus got, gua belum selesai cerita. Sekali lagi elo motong cerita gue, gue lempar kepala loe pake gelas kaca, ngerti?!” gertak Anton sambil memegang gelas kaca lalu dilepaskan kembali genggaman tangannya.
            “Djarot bilang kepada perempuan itu kalau dia butuh waktu untuk berpikir. Tapi kalian tahu sendiri ‘kan, bagaimana selera Djarot kalau memilih cewek? Jadi dengan memanfaatkan cinta si cewek tadi, Djarot membuat satu persyaratan—dia harus mendekati Aldo dan buat dia jatuh cinta padanya.” Anton menyeringai.
            Sontak Marthin, Edo dan Adit terbelalak mendengar hal itu. Si cewek jatuh cinta padamu dan kau membuat satu persyaratan yakni si perempuan harus membuat laki-laki lain jatuh cinta kepadanya. Gila!
            “Kau tidak sedang bercanda, bukan?” Adit menoleh ke arah Djarot, mempertanyakan apakah yang dijelaskan Anton memang benar dari dirinya.
            “Coba kau lihat wajah ini? Apakah aku sedang bercanda?” tunjuk Djarot pada wajahnya lalu berbicara lagi, “lagipula, perempuan itu bilang dia akan berbuat apa saja agar aku bisa menerima cintanya. Dan lagi-lagi benar kata pujangga itu. Cinta itu buta. Dan melalui kebutaan itu, aku mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, aku punya alat yang bisa menghancurkan The Beauty Symphony secara perlahan dan yang kedua. Aku berhasil mendapat sesuatu yang berharga milik gadis itu...”
            Adit, Edo dan Marthin tercengang sekaligus merinding sesaat melihat roman bengis Djarot. Adit secara pribadi tidak menyukai para personil The Beauty Symphony tapi dia sendiri tidak sampai memikirkan rencana itu. Seberapa besar kebencian Djarot pada Aldo dan teman-temannya?
            “Boleh aku tahu siapa nama perempuan itu?” tanya Adit pada Djarot.
            “Margareth. Kau kenal?” jawab Djarot.
            Bertambah lagi kekagetan Adit. Siapa tidak mengenal Margareth. Hampir seluruh masyarakat kampus mengenal perempuan berambut sebahu itu. Perempuan yang selalu mendapatkan IPK cumlaude di kampus Mensenno. Perempuan itu memang tidak cantik tapi raut wajah manis dengan gigi ginsul sebelah kiri, bisa membuat lelaki di kampus itu tak bosan memandangnya.
            Tapi siapa sangka perempuan itu punya rasa kepada Djarot yang sifatnya bertolak belakang dengan Margareth. Djarot, lelaki berkulit putih sering gonta-ganti pacar dan memiliki IPK rendah, bisa dicintai oleh perempuan seindah Margareth. Dan sungguh disayangkan Margareth sudah jatuh dalam pesona maut Djarot.
            “Oh di sini kalian rupanya, para pengacau!” Kelima lelaki yang asyik berbincang itu langsung ambil sikap waspada begitu Aldo dan teman-temannya menghampiri.
            “Eh kalian ngapain di sini?” Edo berbasa-basi. Sebenarnya Edo sendiri pun sudah tahu apa maksud kedatangan para personil The Beauty Symphony ke kantin Wanada.
            “Enggak usah kebanyakan basa-basi! Kalian ‘kan yang sudah mengacaukan konser kami?!” tanya Riky geram.
            Edo menggerakkan kepala ke kanan dan kiri sambil menggaruk kecil kepalanya. “Maksud loe apa sih Rik? Gua sama sekali enggak ngerti.” Edo mengangkat bahunya.
            Melihat tingkah Edo pura-pura tak tahu, membuat Aldo geram lalu mencengkeram kerah kaus lelaki gondrong itu, membenturkan tubuh kurus Edo ke dinding kantin.
            “Elo enggak usah pura-pura lupa deh! Siapa lagi di kampus ini yang gondrong, make topi hitam, naik Megapro BK 2345 XYZ kalau bukan elo?!” maki Aldo dengan suara keras.
            Memang tidak terlalu banyak pengunjung di kantin Wanada. Tapi melihat kondisi perseteruan Aldo dan Edo semakin menegangkan, membuat orang-orang yang sekedar lewat berduyun-duyun mendatangi kantin itu sekedar memenuhi penasaran mereka.
            Fidel sesegara mungkin menarik cengkeraman tangan Aldo dari kerah baju Edo.
            “Aldo sudah cukup! Loe bakal buat keributan besar jika loe enggak bisa kendaliin emosi loe,” cegah Fidel. Sementara itu tangan Aldo masih kuat mencengkeram kerah kaus Edo.
            Situasi semakin panas. Orang-orang mulai memadati kantin Wanada. Bukan untuk jajan atau sekadar duduk. Tapi menyaksikan duel panas Edo dan Aldo yang segera dimulai. Adit menyuruh Edo berada di belakang sambil dijaga Djarot, Anton dan Marthin. Mana tahu Aldo tiba-tiba bermain kasar.
            “Aldo, ayo kita pergi!” suruh Fidel sambil membalikkan badan Aldo. Badannya sudah berbalik tapi tatapan mata tak bisa lepas dari Edo. Tak puas hati Aldo kalau belum menghajar wajah para personil Pentatonik sampai lebam.
*
            “Loe semua kenapa sih pada ngalangin gue?!” damprat Aldo kepada teman-temannya.
            Fidel turut emosi dengan perkataan Aldo juga membalas, “Ini demi kebaikan kita, Do. Imageband kita. Elo enggak mau ‘kan band kita dicela orang-orang dengan sebutan band berandalan?!”
            “Oh jadi elo mau band kita  hancur perlahan-lahan karena ulah mereka?! Ayo jawab gua?!”
            Tak terima dirinya dibentak-bentak sang vokalis, tinju kanan Fidel tak sengaja mengenai pipi Aldo. Aldo tidak terima dengan perlakuan Fidel, membalas lagi dengan pukulan di bagian perut. Fidel mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Lalu Fidel membalas pukulan Aldo dengan meninju dagu sang vokalis.
            Situasi semakin tak tentu. Kedua lelaki itu terlibat baku hantam. Riky dan Jimmy dengan sigap melerai Aldo dan Fidel.
            “Elo berdua kenapa jadi berantam, hah?! Kita ini satu band! Kita ini ibarat keluarga. Dalam keluarga enggak boleh saling menyakiti satu sama lain. Semua persoalan bisa diselesaikan baik-baik,” tegur Riky pada kedua temannya.
            Tak mau mendengarkan teguran dari Riky, Aldo langsung mengeluarkan sepeda motor kemudian menekan tombol electric stater.
            “Gua mau cari angin dulu.” Begitu mesin sepeda motor menyala, Aldo langsung menarik tali gas, cepat-cepat meninggalkan pekarangan kontrakan.
*
            Tak ada tempat menenangkan diri yang sering dikunjungi Aldo selain taman kampus. Usai memakirkan sepeda motor, Aldo mencari kursi besi, mengistirahatkan pikiran yang kacau balau.
            Usai menarik dan membuang napas sebanyak tiga kali, Aldo baru sadar kalau dia memang sudah termakan emosi. Dirinya hampir saja membuat kekacauan di kantin Wanada kalau tidak segera dilerai Fidel. Dan karena masih terbawa emosi, Aldo membentak-bentak Fidel.
            “Maafkan aku, teman-teman. Maafkan aku juga, Fidel,” ucap Aldo lirih.
            Aldo memilih membenamkan diri dalam lamunan. Sambil merenungi kesalahan, dia berencana kembali ke rumah sambil meminta maaf pada teman-temannya terutama Fidel. Sembari menikmati keasrian lingkungan kampus, Aldo mengambil gitar yang dia letakkan di sebelahnya.
            “Hei.”

Saturday, 27 January 2018

The Beauty Symphony - 8



Rencana Selanjutnya
            Adit dan teman-temannya berada di tempat parkiri sepeda motor. Napas mereka terasa menyesakkan dada. Mereka melihat dari belakang para polisi mulai mencari biang kerok atas insiden kecil di panggung tadi.
            “Cepat Adit!” suruh Djarot dari belakang.
            Usai memutar kunci, Adit menekan kopling sambil menekan tombol electric stater. Begitu mesin menyala, lelaki agak pendek itu menarik tali gas, meninggalkan lapangan Merdeka. Diikuti dua motor di belakang Adit.
            Merasa sudah begitu jauh dan tak ada tanda-tanda kejaran polisi, Adit memperlambat laju motor. Dua motor di belakang Adit melaju agak cepat supaya bisa di samping sepeda motor Adit.
            “Yang tadi itu hampir saja,” ujar Martin yang mengendarai motornya sendirian.
            “Benar juga, Tin. Kalau kita tadi enggak cepat-cepat keluar, bisa saja kita langsung diringkus. Tapi berkat penonton yang hampir lebih dari lima kompi tentara, para polisi enggak bisa melacak kita,” tambah Edo yang dibonceng Anton.
            “Tapi gua merasa kurang puas gitu. Bisa saja gangguan tadi tidak terlalu berpengaruh sama penampilan mereka. Bisa saja mereka break sebentar lalu lanjut lagi,” kata Djarot.
            “Benar juga loe, Rot. Gua saja enggak sampai berpikir ke sana,” dukung Adit sambil berfokus pada kemudin motornya.
            “Tapi loe semua tenang saja. Gua punya rencana yang bakal membuat The Beauty Symphony hancur lebur.” Djarot menutup perkataannya dengan senyum kecil mengandung sejumlah tanda tanya.
*
            Untung saja hari ini Aldo dan Fidel masuk perkuliahan pukul 12.40 tengah hari. Dua perosnil The Beauty Symphony sedang menikmati sarapan pagi di hotel JW Marriot. Sementara itu, Jimmy dan Riky sedang menelepon teman sekelas mereka.
            “Mega, tolong ya sampaikan sama ketua group kita kalau aku enggak bisa masuk hari ini. Soalnya aku masih di Medan, oke?” Begitu mendengar balasan ‘oke’ dari orang yang dihubungi, Jimmy langsung menekan tombol merah.
            “Lex, titipkan absenku ya. Aku lagi di Medan ini.” Begitu permintaanya disetujui, Riky langsung menyimpan telepon genggam miliknya ke dalam saku celana.
            Riky dan Jimmy segera menghampiri meja makan. Sudah tersedia semangkuk sup telur puyuh ditambah ikan nila besar ditaburi sambal cabe dan lalapan sayur sawi. Mengamati menu sarapan pagi yang menggiurkan, Riky dan Jimmy langsung menarik bangku, mendekati meja makan.
            “Ada jadwal perkuliahan hari ini?” tanya Fidel sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
            “Masuk pukul 09.40 ya tapi enggak mungkin terkejar lagi sampai di Pematangsiantar,” jawab Riky seraya mengangkat ikan nila ke atas piringnya.
            Aldo melirik ke arloji yang selalu setia di lengan tangannya. Pukul 07.20 pagi. Memang tidak mungkin perjalanan dari Medan sampai ke Pematangsiantar ditempuh dalam waktu dua jam. Jika diperkiraan akan membutuhkan waktu maksimal tiga jam perjalanan dan paling sedikit dua jam empat puluh menit.
            “Jadi elo masuk jam berapa, Jim?” tanya Aldo.
            “Jam 07.30. Padahal ini sudah ketiga kalinya aku absen. Dosen mata kuliah yang satu ini, agak susah diajak negosiasi,” sahut Jimmy sambil menguyah daging ikan.
            “Hmm, kami pun juga begitu. Hampir di setiap mata kuliah absen kami selalu ada. Minimal satu. Sebenarnya sih bisa-bisa aja cuti untuk satu sampai dua tahun tapi lama nanti tamatnya,” jelas Fidel sambil mencelupkan tangan ke dalam kobokan lalu agak membilas bagian tangan yang masih kotor.
            “Kalau tamat nanti, kita bisa mencurahkan konsentrasi untuk band ini. Aku punya impian kalau band kita bisa konser keluar negeri. Ya minimal di konser di negara-negara di Asia Tenggara-lah,” sambung Aldo sambil meneguk segelas air.
            Teman-teman Aldo mengangguk setuju sambil mengaminkan perkataan dari sang vokalis. Mereka sudah selesai menghabiskan sarapan pagi. Begitu juga dengan sang manajer. Ia tidak terlibat dalam pembicaraan mereka meskipun sang manager berada satu meja dengan mereka.
            “Tapi aku masih penasaran dan geram dengan pelempar bom asap di konser kita. Untung konser kita enggak langsung kacau gara-gara ulah si pelempar itu,” ungkap Fidel sambil menyingkirkan piring bekas makanannya.
            “Polisi sudah menemukan ciri-ciri pelempar bom itu,” kata sang manajer tiba-tiba.
            Ketika Vinno dan teman-temannya hampir meninggalkan meja makan, mereka sontak melirik ke arah manajer mereka.
            “Pak Edward tahu darimana?” tanya Aldo, heran.
            “Nanti saya ceritakan di mobil,” tunda sang manajer sambil menyuruh mereka beranjak pergi dari sana.