Thursday, 22 November 2018

DUAL - 19


Awal Konfrontasi
            “Bagaimana video yang kukirim? Cukup menghibur bukan? Hehehe,” lanjut Jonas, “kalian mau kubikin kayak teman kalian ini?” lelaki berkulit putih pucat mengarahkan kamera depan smartphone-nya ke mayat Chyntia.
            “Kalau aku sampai di sana, aku akan mencabik-cabik badanmu, JONAS!” Anggara membentak keras Jonas. Lelaki itu menatap hampa pada Anggara lalu memberikan senyum getir pada lawan bicaranya.
            “Supaya kau lebih cepat bertemu dengan kami, aku sudah mengirimkan anak buahku untuk menjemputmu? Di hotel Edelweiss kan? Dadah.” seraya mengedipkan kelopak mata sebelah kanan, Jonas mengakhiri panggilan videonya.
            “Itu berarti—“ ketika Fiolina hendak menyimpulkan pembicaraan dari Anggara, keduanya mendengar suara-suara yang berasal dari luar, mencari-cari nama mereka berdua.
            Keduanya mendengar seseorang tengah memutar kunci. Begitu engsel tak lagi terkunci, tiga orang bersenjata AK-47 menyerbu seraya menodong pucuk senjata mereka pada Anggara dan Fiolina.
            “Sekarang bagaimana?” tanya Fiolina sambil mengangkat kedua tangannya.
            Anggara sempat diam sejenak. Entah dia sedang berpikir atau mencoba pasrah akan keadaan. “Kita ikuti saja.”
***
            Alvaro dan Santo Aruru berada di dalam kantor bos besar mereka, Fahnan. Keduanya sedang menyampaikan laporan mereka terkait Dedy Rahmad Yahdi. Fahnan mendengar dengan seksama sambil memberikan pertanyaan balasan pada mereka.
            “Bagaimana keadaan jalan sekitar ketika kalian mengeksekusinya?”
            “Awalnya jalan sempat ramai karena kami mengikuti target yang melewati perkebunan teh dan melati. Tapi itu tidak berlangsung lama. Kami berhasil menghabisi target dengan menembakkan peluru pada dua ban mobilnya. Kemudian saya dan Aretha menubruk mobil Dedy dengan keras hingga membuatnya hilang kendali dan terbalik. Pada saat itu jalan sepi hanya ada aku, Aretha dan Santo di jalan raya.” Santo mengangguk pelan, meyakinkan bosnya.
            Alvaro memberikan sejumlah foto sebagai dokumentasi hasil pembunuhan mereka. Fahnan mengangguk takzim sambil menyunggingkan senyum puas atas hasil kerja keduanya.
            “Very good! Aku suka dengan hasil kerja kalian tapi...,”
            “Tapi apa bos?” tanya Santo langsung.
            “Ke mana Aretha?”
            Alvaro dan Santo berpandangan sekilas lalu kembali tertuju pada Fahnan. “Dia sedang tidak enak badan,” jawab Alvaro.
            “Ah tidak apa-apa. Seandainya dia ada di sini, aku akan memberikan kalian bertiga bonus tunai saat ini juga. Tapi berhubung dia tidak ada di sini, aku akan mentransfernya nanti saja,” ujar Fahnan seraya kembali duduk di kursi berodanya.
            “Kalian ingin minum apa? Biar kupanggil pelayan,” tawar bos pada mereka berdua.
            “Bukankah bar kita menyediakan soju bukan? Kebetulan aku ingin sekali minum itu. Bagaimana denganmu, Al?” Santo sudah memesan minumannya. Alvaro merasakan sesuatu sedang disembunyikan ayahnya. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang tengah disembunyikan lewat gelagat anehnya.             
            “Sama denganmu juga,” ikut Alvaro. Sang bos mengangguk pelan mengiyakan permintaan mereka. Bos Fahnan menghubungi pegawai bar yang berada di lantai dua mengatakan pesanan kedua anggotannya.
            “Baiklah sembari menunggu pesanan kalian berdua datang, aku ingin berbincang denganmu, Alvaro.” Mimik wajah Fahnan tadi terlihat agak santai, jadi serius.
            Ini menjadi keganjilan tersendrii baginya. Alvaro yang biasa akrab dengan Fahnan, jadi siaga dengan tingkah aneh ayahnya. Ia menyorot mata curiga.
            “Iya langsung saja... Sebenarnya... perjanjian macam apa yang kalian buat dengan anggota HOVTA?”
            “Perjanjian macam apa yang ayah maksud...?”Alvaro pura-pura tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan ayahnya.
            “Lalu... bagaimana kau menjelaskan ini?” Fahnan memperlihatkan layar handphone-nya pada Alvaro. Lelaki itu ternganga menyaksikan apa yang ditunjukkan sang ayah.
            “Da-darimana ayah dapatkan i-itu?!” Lidah dan bibir Alvaro sama-sama kelu mempertanyakan sumber data yang didapatkan ayahnya.
            Fahnan menatap dingin pada Alvaro. Lelaki berwajah kekotakan itu tidak mampu menahan gelisah karena surat perjanjian antara Aretha, Alvaro dan Anggara dan Fiolina sudah bocor sampai ke tangan ayahnya.
            “Ayah... Ini ak—“
            “Jelaskan saja di markas HOVTA.” Penjelasan Alvaro diinterupsi tiga orang bersenjata laras panjang. Ketiganya menyeruduk ruang kantor Fahnan lalu mengacungkan pucuk senjata pada Alvaro dan Santo.
            “Alvaro, ada apa ini?!” tanya Santo panik.

Tuesday, 6 November 2018

DUAL - 18



Pranoto Satya Doeadji
            Perjalanan berjam-jam mau tak mau harus ditempuh Anggara dan Fiolina. Mereka hampir kesasar ketika mencari Hotel Edelweiss. Keduanya bertanya ke sana ke mari guna mencari letak hotel itu juga berbekal keterangan Rusli Ali Hidayat. Akhirnya mereka berdua menemukan hotel berbintang lima itu.
            Hotel itu diperkirakan memiliki empat puluh tingkat gedung. Bagian tengah hotel terpasang nama hotel yang dipercantik dengan lampu kecil berwarna-warni yang menyala di malam hari. Pintu masuk hotel dipasang pintu otomatis yang bisa buka tutup dan seorang bellboy siap menanti tamu-tamu yang datang ke hotel. Mereka kini kembali ke tanah bekas berdirinya panti asuhan Kasih Kita yang sekarang menjelma menjadi gedung pencakar langit.
            “Selamat malam, Bapak,Ibu. Selamat datang di Hotel Edelweiss. Ada yang bisa kami bantu?” sapa sang resepsionis sambil menawarkan hal-hal yang mungkin bisa dibantu si resepsionis perempuan.
            “Ya kami ingin tahu apakah direktur Hotel Edelweiss, Pranoto Satya Doeadji, berada di sini?” Tanpa tedeng aling-aling, Anggara menanyakan keberadaan sang direktur yang mereka cari.
            “Sebelumnya maaf, Pak, ada keperluan apa Bapak bertemu dengan Pak direktrur? Apakah Bapak sudah bikin janji dengan Pak direktur?” Sang resepsionis merasa curiga dengan dua tamu di hadapannya. Jika dilihat dari perawakan mereka, sang resepsionis menduga kalau mereka akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak. Untuk menjaga supaya hal itu tak terjadi, sang resepsionis bertanya sesopan mungkin mengenai maksud kedatangan mereka.
            Anggara berdecak pelan. Dalam pikiran lelaki itu kalau sudah banyak tanya begini, pasti akan sulit. Ia menatap Fiolina yang berada di sebelahnya. Fiolina melalui tatapan mata yang diisyarakatkan Anggara mengatakan, apakah sebaiknya resepsionis ini dihabisi?
            Perempuan berkulit sawo matang menggeleng pelan lalu melirik pada sang resepsionis. Ia mengeluarkan kartu ATM di dalam dompet. “Kuharap kau mampu diajak bekerjasama, Nona. Aku harap kau bisa mengatakan di mana direkturmu berada.”
            Perempuan yang ditaksir Fiolina berusia 19 tahun itu diam sejenak. Ia masih menimbang-nimbang dalam pikirannya apakah dia harus menerima kartu ATM itu atau tetap berpegang pada kode etik.
            “Saldo dalam kartu itu berkisar Rp 3.956.000,00. Aku yakin untuk anak gadis lajang sepertimu, uang itu sudah cukup membeli bedak, lipstik, body lotion sampai membeli BH dan CD-mu. Kode PIN akan kuberitahu kalau kamu mau menunjukkan di mana ruang kantor direkturmu.” Fiolina menyatakan nominal uang yang berada di kartu ATM-nya.
            Tidak butuh waktu lama, gadis remaja itu mengangguk setuju. Ia bangkit berdiri dari meja tugas. Anggara dan Fiolina mengulas senyum puas. Sebelum menjumpai kedua orang asing itu, gadis 19 tahun itu menitipkan pekerjaannya pada teman yang berada di sebelahnya.
            “Ikuti saya,” ujar gadis remaja 19 tahun itu. Sepuluh meter dari meja resepionis, ketiganya sudah berdiri di depan lift. Sang gadis resepsionis menekan tombol angka ke lantai 12.
            “Apakah ini tidak bisa langsung menuju lantai kantor direkturmu?” tanya Anggara.
            “Kita akan menaiki lift sebanyak tiga kali. Kantor direktur berada di lantai 36. Mohon bersabar ya,” jelas sang gadis resepsionis. Keduanya cuma mengangguk pelan.
            Kini mereka bertiga sudah berada di dalam lift. Awalnya belum ada yang berani memulai percakapan. Ketiganya masih membisu dan sibuk dengan gawai masing-masing. Anggara yang bosan dengan gawainya, iseng bertanya pada gadis itu.
            “Hei, Dek, kalau boleh tahu siapa namamu?”
            “Riska, Pak. Saya baru empat bulan bekerja di hotel ini.” Lelaki berkulit putih itu mengangguk pelan ketika ia tahu identitas gadis itu. Padahal ia berharap kalau gadis itu merupakan pegawai tetap di hotel itu. Ia ingin mendengar apa saja yang selama ini ia ketahui tentang hotel Edelweiss termasuk sang direktur yang mereka cari. Banyak pasangan muda silih berganti, keluar masuk dari lantai satu ke lantai lainnya. Begitu banyak pasangan muda-mudi memakai pakaian bermerek serta para perempuan mengenakan pakaian dan perhiasan ala pelacur high class. Keduanya berasumsi kalau banyaknya tingkatan lantai di hotel ini digunakan sebagai prostitusi.
            Akan tetapi, mereka berdua tidak punya urusan dengan para pelacur yang melanggeng bebas di lantai hotel. Yang terpenting saat ini sampai di lantai 36. Suasana kembali hening sediakala. Anggara kembali memainkan PUBG yang sempat berhenti. Lima belas menit lamanya ia harus berganti lift untuk menuju ke lantai 36. Ketika permainan mulai menunjukkan tanda-tanda kemenangan, sang gadis resepsionis menginterupsi kesenangannya.
            “Pak, kita sudah sampai.” Tidak terasa kalau mereka sudah berada di lantai 36. Anggara berdecak kesal. Mau tak mau ia harus menghentikan permainannya yang sudah mencapai kemenangan. Ia menonaktifkan permainan lalu menyimpan handphone di dalam saku celana jins.
            “Yang mana kantornya?” tanya Anggara pada gadis itu.
            Gadis itu mengacungkan telunjuk pada satu ruangan terpasang plangkat berlampu bertuliskan DIREKTUR. “Itu dia.”
            Anggara menoleh Fiolina bersamaan dengan anggukan kepala mereka berdua. Sebelum mereka mencapai kantor direktur, gadis itu menjulurkan tangan seraya menahan langkah keduanya.
            “Kau kan sudah berjanji...,” ujar gadis itu pada Fiolina. Ia mengerti apa yang dimaksud gadis itu. Ia merogoh kantongnya lalu melemperkan secarik kertas yang terlipat.
            “Terimakasih,” ucap gadis itu lalu meninggalkan mereka di sana.
            “Kau serius memberikan kartu ATM dan kode PIN-mu pada gadis itu?” Anggara menyuruh rekannya memelankan derap kakinya sambil menyiagakan senjata.
            “Hehe sebenarnya saldonya tinggal Rp 396.700,00 lagi. Lagipula hari ini masa aktifnya sudah habis. Biar dia sendiri yang memperbarui masa aktif kartunya,” balas Fiolina. Kedua tangannya sudah bersiaga memegang Colt 911.     
            Tapi ada satu hal menjadi tanda tanya dalam pikiran keduanya. Hotel ini seperti tidak punya sistem keamanan memadai. Selain satpam yang menjaga pintu masuk, tidak ada dia temukan satu pun satpam atau sekuriti berkeliling memantau keadaan hotel. Namun hal itu tak menjadi masalah bagi Anggara. Ia cukup menguntungkan dirinya.
             “Kau mendengar suara?” bisik Anggara pada Fiolina.
            “Maksudmu... suara desahan ‘kan?” Fiolina mengerling matanya sekejap. Anggara mengangguk pelan atas jawaban benar dari rekannya.
            “Baiklah, pertama kita ketok pintu ini lalu setelah kita dibuka, langsung eksekusi.” Fiolina mengangguk mengerti dengan instruksi dari rekannya. Kini mereka berdua sudah berada  tepat di ruangan sang direktur. Memang suara desahan itu berasal dari ruangan sang direktur. Anggara berdiri di sebelah kiri dan Fiolina berdiri di sebelah kanan.
            Sementara di dalam ruangan, seorang pria berusia 40 tahun sedang asyik menikmati layanan dari gadis yang diperkirakan berusia 26 tahun ini. Goyangan dan desahaan sang gadis dan pria menghasilkan gejolak birahi. Mereka hanyut dalam permainan biologis yang dinamakan persetubuhan. Persetubuhan yang melibarkan atasan dan sekretarisnya.
            “Pak...” panggil si gadis dengan suara berat bercampur berahi, “ada yang ketok-ketok.”
            Sang direktur sudah mendengar suara ketukan pintu sebanyak dua kali. Hanya saja dirinya malas menanggapi. Dia terus berkonsentrasi pada bentuk konkrit kenikmatan duniawi di hadapannya. Akan tetapi suara ketukan pintu semakin intens mengganggu kesenangan dua insan beda jenis itu.
            “Brengsek!” maki sang direktur. Ia memberhentikan secara sepihak aktivitas biologisnya. Ia terus memaki-maki pelayan hotel yang bersikap tidak sopan mengganggu kesenangannya.
            “Permisi, Pak. Makan malamnya sudah siap,” ucap Anggara dari luar. Ia memanipulasi diri seolah dirinya adalah pegawai hotel untuk memancing sang direktur agar mau membuka pintu.
            Sambil merapikan jas dan ikat pinggang, dengan langkah kaki cepat dan tangan kanan memegang kunci. Ia tak sabaran ingin memberikan pelajaran kepada pegawai hotel yang kurang ajar itu.
            Bola mata sang direktur terbeliak. Raut wajah langsung menunjukkan ketakutan. Dua orang tidak dikenal  dan bersenjata api langsung menggerebek ruangannya. Sementara sang gadis cuma mematung saja mengamati sang direktur yang sedang terancam.
            “Si-siapa kalian?! Apa kaliian polisi?!” Sang direktur mencecar pertanyaan interogratif dengan suara bergetar.
            “Apa benar Anda yang bernama Pranoto Satya Doeadji?” Anggara balik bertanya sambil mengacungkan pistol tepat di kening pria paruh baya itu.
            “Mau apa kau mencari saya?!” ketika sang direktur akan mengacungkan pisau yang terselip di pinggang, Anggara sigap merebut pisau dari tangan si pria kemudian melemparkannya jauh dari tempatnya berdiri.
            “Tepat sekali. Kami punya beberapa pertanyaan untukmu sebelum peluru di pistolku ini meledakkan isi kepalamu dan juga gundikmu ini.” Pranoto tidak punya pilihan lagi selain diam dan menuruti apa kata dua penjahat itu.
            “Yang pertama...” terdengar suara letupan pistol mengenai lantai ruangan sang direktur. Rupanya sekretaris sekaligus wanita pemuas nafsu Pranoto berusaha mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Hampir saja peluru timah itu melubangi tangan putihnya yang halus. Dan gadis itu kembali membeku bagai patung manekin wajah pucat pasi.
            “Kerja bagus, Fiolina. Pertanyaan pertama, apa benar hotel ini dulunya berdiri di atas tanah panti asuhan Kasih Kita?” Ia berusaha bertanya dengan tenang tanpa membawa kenangan masa lalunya di panti asuhan Kasih Kita.
            “Ya-yang kau bilang itu benar. Sembilan tahun yang lalu, sebelum kami membangun hotel ini, kami mendengar rumor bahwa di panti asuhan ini telah terjadi pembantaian sadis. Korbannya adalah seorang wanita yang diperkirakan adalah pengurus panti dan seluruh anak-anak panti yang diperkirakan 25 orang. Akan tetapi polisi menghentikan penyelidikan dan menutup kasus itu karena tidak adanya satupun saksi maupun barang bukti. Tahun berikutnya kami setelah kami mengurus surat kepemilikan tanah panti itu, kami mulai membangun hotel ini,” jelas Pranoto panjang lebar.
            Anggara terkekeh mendengar uraian panjang lebar dari Pranoto. Tangan kanannya makin menggenggam gagang pistol itu. “Bapak tahu, siapa anak-anak yang masih hidup ketika peristiwa pembantaian itu?”
            Pranoto menampakkan raut wajah yang memang diatur untuk tetap tenang bahkan dalam kondisi tertekan.
            “...Mereka... ada di hadapanmu.” Lelaki berusia 42 tahun itu melebarkan kelopak mata secara spontan diikuti suara napas tertahan di tenggorokan.
            “Walaupun kami masih anak-anak tapi kami tahu apa permasalahan yang terjadi di panti asuhan kami. Aku ingat saat seorang laki-laki berpakaian rapi dan formal mendatangi panti asuhan kami, dia bilang kalau dia ingin membeli panti ini. Aku yakin, yakin sekali kalau itu kau, Pranoto Satya Doedji!” Anggara sebisa mungkin menuruti setan-setan yang berbisik di telinga agar ia segera membedil kepala Pranoto.
            “Tunggu dulu! kau bilang, kau belum punya bukti jelas menuduhku sebagai orang yang bertanggungjawab atas pembantaian ibu asuh dan teman-temanmu ‘kan? Jadi kau tidak bisa menuduhku sembarangan. Aku akan panggil satpam untuk menyeretmu dari ruangan saya,” sangkal Pranoto. Ia menerima segala tuduhan Anggara pada dirinya.
            Ingatan Anggara merekam jelas bagaimana perawakan Pranoto meskipun peristiwa itu sudah berlalu bertahun-tahun. Ia masih mengingat mulai dari sisiran rambut sampai dengan aksen bicaranya. Pikirannya mengatakan kalau pria yang ada di hadapannya adalah Pranoto Satya Doeadji.
            “Kelihatannya kau keras kepala sekali, Orang Tua. Kalau cara halus tidak bisa membuatmu membuka mulut, mungkin peluru ini bisa membuatmu bicara.” Lelaki berambut pirang itu tidak bisa memberikan toleransi kesabaran lagi. Lelaki paruh baya di depannya memang tidak bisa diajak kompromi. Anggara mengarahkan telunjuknya di depan pelatuk pistol.
            Letupan pistol milik Anggara melubangi asbes kantor Pranoto. Rupanya lelaki paruh baya itu secara cepat memegang pergelangan tangan Anggara lalu mengarahkan muncung pistol ke atas. Pranoto memelintir tangan lelaki rambut pirang itu hingga pistol yang dia pegang terlepas.  
            “Argh sialan!” Anggara yang tersulut emosi, mengarahkan bogem mentah miliknya ke wajah Pranoto. Akan tetapi pukulan Anggara berhasil dielakkan oleh lelaki paruh baya itu lalu memberikan serangan balasan melalui tinjuan di bagian perut.
            Perhatian Fiolina teralihkan pada Anggara. Perempuan yang dari tadi disandera Fiolina segera mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari kaki. Ia menggengam pisau itu lalu dilayangkan ke pipi.
            Terlambat bagi Fiolina untuk mengelak. Pisau itu menorehkan goresan di bagian pipi. Dari pipi tergores itu darah segar mengalir. Dalam hati Fiolina, ternyata gadis itu tidak hanya pandai urusan ranjang. Ia pandai juga dalam urusan mempertahankan diri. Lelaki berambut pirang merasa bahaya sedang dihadapi rekannya. Tapi ia sendiri dalam sedang posisi tidak menguntungkan. Tangan kanan Pranoto menjepit kuat batang lehernya.
            Gawat! Aku... mulai susah bernapas! pekik batin Anggara sambil berusaha melepaskan pitingan tangan Pranoto. Ia hampir saja menyerah. Tetapi melihat rekannya yang dalam kondisi bahaya, Anggara mengepalkan tangan, menekuk pergelangan tangan lalu memukulkan bagian sikut ke perut Pranoto kuat-kuat.
            Saat Pranoto mengaduh kesakitan, Anggara mengambil kesempatan memelintir pergelangan tangan lelaki itu lalu menghempaskan ke lantai. Anggara secepat kilat mepistol itu. Tanpa banyak basa-basi ketika Pranoto bangkit, ia mengarahkan ujung pistol tepat di keningnya.          
            “Habisi saja dia, Fiolina,” suruh Anggara. Tubuh Pranoto jatuh begitu saja ketika dua timah panas menembus tulang tengkoraknya. Begitu mendapat perintah dari Anggara, Fiolina langsung mengeksekusi dengan menekan pelatuk Colt 911.
            Kini giliran perempuan itu menyusul Pranoto ke alam baka. Anggara dan Fiolina mengembuskan napas lega. Keduanya memilih beristirahat dengan menyandarkan punggung pada dinding.
            “Fiolina...”
            “Kenapa?”
            “Coba kita periksa dokumen-dokumen di ruangan ini sebelum kita keluar dari sini. Kalau ada yang berhubungan dengan panti asuhan atau HOVTA, ambil saja.” Begitu mereka tidak merasa kelelahan lagi, keduanya langsung bangkit berdiri. Mereka beralih pada lemari berkas bertingkat empat yang berada di belakang meja kerja Pranoto.
            Keduanya menjatuhkan semua berkas yang tertata rapi di lemari ke lantai. Mereka membuka map-map tergeletak satu per satu. Sekian lama memeriksa map, Fiolina menemukan satu map yang mencurigakan.
            “Apa ini?” Setelah dibuka, map itu berisi tiga lembar perjanjian yang di dalamnya disebut nama HOVTA, Killer Order.
            “Nanti saja dibaca. Aku juga sudah dapatkan 3 map. Yang terpenting ayo keluar dari sini,” ajak Anggara seraya menarik tangan Fiolina agar ia tidak ketinggalan. Sebelum mereka beranjak dari ruangan, tiga kali handphone Fiolina bergetar.
            “Sebentar Anggara. Sepertinya ada pesan masuk ke whatsapp-ku,” tahan Fiolina. Terpaksa langkah kaki Anggara terhenti padahal ia sudah nyaris memegang gagang pintu.
               Fiolina sepertinya harus membeliakkan kelopak matanya lebar-lebar. Apa yang ditampilkan lewat LCD smartphone-nya membuat air mata gadis itu meluncur pelan. Tangan kanannya bergetar hebat. Hampir-hampir genggam tangannya melepas handphone-nya.
            “Ada apa, Fiolina?! Itu pesan dari siapa?!” Anggara mendesak Fiolina untuk menjawab tapi gadis itu menangis sesunggukan. Air matanya menetes lebih banyak.
            Anggara mengambil handphone yang masih dalam genggaman tangan Fiolina. Ia membuka pesan masuk whatsapp. Ada pesan video dari Jonas. Ketika melihat video itu, deru napasnya seakan menjadi berat.
            Ada dengus amarah dan kekecewaan luar bisa ketika dalam video itu dirinya menyaksikan kalau  Jonas dan kepala pimpinan sedang menyetubuhi Chyntia secara brutal. Kepala pimpinan memukul-mukul kepala si perempuan malang itu hingga hancur tak berbentuk. Tubuh bugil Chyntia, Jonas dan kepala pimpinan bermandikan darah segar. Usai menyiksa Chyntia secara biadab, keduanya membawa peralatan bedah untuk mengambil organ tubuh gadis itu.
            “Aku... aku... tidak akan... memaafkan para bajingan itu!” pekik Anggara. Air matanya ikut menetes tak bisa membayangkan bagaimana sakit dan laknatnya penyiksaan yang dilakukan kedua orang itu.
            “Halo...” kalimat sapaan dari Jonas menjadi pembuka pembicaraan ketika Anggara membuka video ketiga.

Monday, 29 October 2018

DUAL - 17


The Tortured Body
            Untaian rantai besi menggantung kedua tangannya ke atas. Bola besi turut membelenggu pergerakan kakinya. Yang bisa dilakukan saat ini hanya diam di tempat dirinya terus menerus menerima siksaan selama tiga hari. Tubuh tanpa sehelai benang itu terpampang vulgar di hadapan Jonas dan lelaki bertongkat besi itu. Ia tak bisa berkata-kata apapun selain membisu. Semua pelecehan dikolaborasikan dengan kekerasan fisik cukup menodai dan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan. Namun bukan tanpa alasan dirinya menerima siksaan bertubi-tubi. Ada sesuatu yang tengah dipertahankan untuk tidak sampai keluar begitu saja dari mulutnya.
            “Keras kepala juga kau, wanita binal, sampai-sampai aku bingung apalagi yang mesti kulakukan untuk membuatmu bicara,” ujar Jonas di hadapan Chyntia.
            Chyntia menatap Jonas seperti bersiap-siap menerkam lelaki berkacanata itu. Jonas yang mendapat tatapan  itu malah tertawa senang. Ia mengeraskan suara tawanya hingga kepalanya mendongak ke atas. Keberanian Chyntia yang sempat tumbuh pupus oleh respon Jonas yang terkesan meremahkan dirinya.
            Suara tawa Jonas berangsur-angsur reda. Ia melepaskan kacamata yang bertengger di kedua telinganya kemudian menatap datar perempuan itu. Tak disangka, Jonas merentangkan telapak tangan luar sebelah kanan memberikan tamparan demi tamparan di pipi Chyntia yang terlihat merah kebiru-biruan itu.
            Perempuan itu diam saja menerima semua perlakuan kasar lelaki berkacamata itu. Walaupun bibirnya tak menyuarkan kesakitan, namun air mata meluruh deras. Hatinya meronta-ronta, tak sudi diperlukan bak binatang. Bahkan binatang pun tak pantas menerima perlakukan Jonas.
            “DASAR MANUSIA BIADAB! IBLIS JAHANAM! KEPARAT!!!” Tiga makian penuh amarah bernada kebencian keluar begitu saja dari mulut Chyntia. Meskipun pita suara serak, ia lantang menyuarkan makian kasar nan pedas serta nama-nama hewan pun tak ketinggalan untuk menggambarkan betapa hinanya perbuatan Jonas padanya.
            Jonas perlahan mengurangi intesitas tamparan pada pipi Chyntia. Kedua pipi Chyntia yang awalnya kenyal, mulus dan putih kini memerah, membengkak dan terlihat darah menitikkan sedikit dari daging pipinya. Wajah cantiknya dipermak Jonas menjadi bengap, babak belur bak menghakimi seorang maling ayam. Lelaki itu tetap menatap dingin pada Chyntia sambil merogoh sesuatu pada kantong jinsnya.
            Chyntia melihat lelaki berkacamata itu menarik sebuah pisau tipis dari dalam kantong jins. Lalu, lelaki itu mendekat, mengarahkan mata pisau tajam itu ke wajahnya. Jonas menekan kuat mata pisau sambil menyayat kulit pipi Chyntia pelan-pelan. Pekik perih terlontar dari mulut perempuan malang itu. Tapi penderitaan yang dia rasakan belum selesai. Lelehan darah mengalir deras dari luka sayat pisau Jonas.
            Jonas melanjutkan sayatan berikutnya di pipi sebelah kiri setelah ia menorehkan luka sayat sebanyak empat kali. Setengah dari wajah perempuan itu tertutupi darah. Chyntia tidak bisa menahan penyiksaan yang dirasa. Ingin rasanya ia membuka mulut saja, membeberkan rencana Anggara dan Fiolina. Jonas sudah melakukan empat luka sayat di pipi sebelah kiri. Antara jerit kesakitan dan air mata penderitaan menjadi simponi indah menyenangkan di daun telinga Jonas dan lelaki bertongkat besi  sedari tadi berdiri sambil memainkan batang kelaminnya.
            “Aku bisa saja menyiksamu lebih lama lagi, Chyntia tapi tak bisakah kita lebih kooperatif?” bujuk Jonas. Ia memberikan jeda sesaat untuk Chyntia menikmati rasa sakitnya seraya menunggu balasan perempuan itu.
            Sekitaran pipi sampai pangkal leher Chyntia dimerahi darah. Wajah perempuan itu mengalami kerusakan hampir 80%. Jonas melirik sedikit arloji Seiko di lengan kanan. Sudah satu menit lebih ia menunggu. Lelaki itu melanjutkan sayatan di bagian kening. Namun terlintas dalam pikiran Jonas membuat perempuan malang itu.
            Lelaki berkacamata itu menekan ujung mata pisau sampai menembus daging bagian kening. Ia menyayat pelan-pelan kemudian berhenti sebentar. Lewat lima belas detik Jonas melanjutkan sayatan di kening Chyntia. Air mata Chyntia meluruh begitu deras tak kuasa menahan pedihnya daging yang tersayat-sayat. Air mata menghapus sedikit darah menempel di wajah perempuan itu. Perempuan malang itu harus menderita cacat seumur hidup. Terlihat ada empat luka menganga di wajah  gadis malang itu. Luka-luka itu masih terlihat baru. Menampakkan jaringan kulit bagian dalam yang memerah.
            Jonas melanjutkan lagi sayatan kedua. Chytia sendiri sudah terlalu lemah untuk menangis. Darah yang begitu banyak keluar membuat dirinya lemas. Untuk merengek saja ia sudah tidak mampu. Ia membiarkan dirinya diam. Antara pasrah dan menyerah akan siksaan tanpa henti dari Jonas.
            “Cukup... Aku... akan memberitahumu.” Dengan napas tersengal dan wajah sepucat kertas tisu, Chyntia berusaha sekuat tenaga menyuruh Jonas berhenti. Lelaki berkacamata itu menyeringai sambil tertawa lepas. Ia menarik tisu yang tersimpan di dalam saku kemejanya lalu mengelap tangan yang berlumuran darah.
            “Nah gitu dong. Coba kalau kamu bilang gini dari tadi, mungkin kamu takkan tersiksa seperti ini.” Chyntia berusaha menarik napas sebisa mungkin. Rasanya ia tidak bisa mengumpulkan oksigen lebih banyak untuk memberi kekuatan dirinya berbicara.
            “Aku... Alvaro dan Fiolina... bekerjasama untuk... menguras habis uang HOVTA dan... Anggara dan Fiolina... bekerjasama... dengan... Alvaro dan Aretha dari Killer Order untuk menghabisi... kalian semua... satu per satu... de-demi balas de-de-ndam.” Chyntia sudah mengeluarkan semua energinya untuk mengatakan kebenaran itu pada Jonas dan Kepala Pimpinan. Mengatakan kalimat yang tidak begitu panjang saja, seperti dirinya dan malaikat maut beradu paksa untuk menarik napas kehidupannya. Pandangan mata Chyntia mulai meredup. Ia bahkan melihat ada dua Jonas dan dua Kepala Pimpinan di hadapannya.
            “Sudah kuduga, Pak Kepala. Aku merasakan firasat buruk sejak pertama kali Bapak mengajak Killer Order bekerjasama dengan kita guna menaikkan suplai organ tubuh untuk kita perjualbelikan. Dan aku malah berpikiran kalau suplai organ tubuh yang kita punya berasal dari anggota HOVTA juga, hehe.” Jonas terkekeh dengan spekulasinya sendiri.
            Chyntia tidak mengerti apa yang maksud perkataan Jonas. Ia sendiri pun sudah mencapai batas bertahan. Akan lebih baik kalau dia segera saja dibunuh daripada hidup dengan kondisi setengah mati. Ia tak dapat berdiri lebih lama. Kedua tungkai kakinya bergetar-getar, tak punya daya lagi.  Tak sanggup lagi bertahan, Chyntia tak mampu mempertahankan posisi berdiri. Kedua lutut kakinya setengah berlutut. Seolah menjadikan udara sebagai tumpuan kakinya.
            “Kau jangan merasa sudah lega dulu, perempuan sialan. Kau masih harus menerima hukuman karena sudah berkhianat pada HOVTA.” Kepala pimpinan dan Jonas berdiri di hadapan Chyntia yang sudah seperti seonggok daging. Mereka berdua tersenyum penuh nafsu kebinatangan. Perempuan itu sendiri tidak apa yang akan dilakukan kedua orang gila itu. Ia sudah menyerahkan nyawanya pada Sang Tuhan jikalau kematian kekal akan menjadi upahnya di akhirat sana.
***
            Perempuan berusia 26 tahun itu memohon ampun pada Fiolina. Akan tetapi Fiolina sendiri menanggapi permohonan si perempuan dengan senyuman sinis sambil menempelkan ujung Colt 911 di keningnya. Suara letupan pistol teredam sedikit ketika peluru sedang menembus tulang tengkorak perempuan malang itu.
            “Target selesai. Sekarang kita tinggal hubungi Chyntia dan mulai menjalankan misi kita,” ketika Fiolina akan mengeluarkan handphone, sebuah pesan masuk ke nomor whatsappFiolina.
            Pesan masuk berasal dari Kepala pimpinan. Fiolina yang merasa penasaran, membuka pesan itu. Bola mata Fiolina terbeliak apa yang terpampang di layar handphone-nya.
            “Anggara...”