Tuesday, 13 October 2015

Penikmat Rindu



Kunikmati dinginnya malam
Merasuk badan menusuk tulang
Mencekam malam tiada penghuni
Hanya aku saja bertemankan sepi
            Kuingat dirimu di sana
            Kau sedang meraih apa yang kaucitakan
            Kuberdoa selalu
            Agar kau diberi kekuatan oleh Sang Mahakuasa
            Agar kau bahagia dengan apa yang kau dapatkan
            Walaupun aku tak melihatnya dari sini
Kita terbentang jarak dan waktu
Kita tak saling merindu
Kau sudah dimiliki lelaki lain
Di sini aku hanya menunggu angin menyentuh kulitku
            Aku hanyalah penikmat rindu
            Meski kau tak menyapa rinduku
            Kutahu aku takkan mengingatku
            Tapi kau adalah rindu abadiku
            Yang entah kapan akan terbalaskan

Saturday, 10 October 2015

Love in Dead - Chapter 3


SMA Negeri 1 mendadak gempar mendengar kabar bahwa salah satu siswa mereka menjadi korban pembunuhan . OSIS langsung bertindak dengan melakukan sumbangan keliling untuk mengumpulkan dana dukacita yang akan diberikan kepada pihak keluarga bersangkutan .
Anji adalah salah satu murid kelas XI IPA 3 . Keluarga besar XI IPA 3 sudah bersiap – siap melayat ke rumah duka begitu uang sumbangan dari OSIS sudah terkumpul .
“ Aku gak menyangka Anji akan mati dengan cara mengenaskan . “ tutur Icha dengan wajah murung ditekuk .
“ Aku juga sama Cha . Aku juga turut belasungkawa . “ sahut Aldian yang berada di sampingnya . Mereka berdiri di samping gerbang sekolah .
Tampak salah satu dari gerombolan di sana adalah Fidel dan Andy . Mereka berdua mengendarai sepeda motor bebek bermerek Jupiter Z . Fidel dan Andy sama – sama murid dari kelas XI IPS 2 . Meskipun beda kelas dan jurusan tak menghalangi niat mereka untuk melakukan perpisahan terakhir untuk sahabat mereka .
Ingin sekali Aldian memanggil mereka , mengucapkan salam dukacita , tapi ia enggan , takut mereka akan memarahi bahkan memaki dirinya . Begitu mereka berdua sampai di gerbang , Icha memanggil mereka .
“ Fidel ! Andy ! “
Mereka berdua mendekati sumber suara yang sudah mereka kenali dan mendapati Icha dan Aldian berdiri di belakang gerbang agak jauh dari gerombolan motor .
“ Fidel , Andy , aku turut berdukacita atas meninggalnya Anji . Yang sabar ya . “ tutur Icha penuh simpati .
“ Terimakasih ya Icha atas nasihatnya . “ Fidel dan Andy tersenyum lirih sekedar menghargai Icha .
“ Fidel .. Andy , aku .. “
“ Terimakasih . Kami pergi dulu ya Icha . “ Fidel langsung menukas omongan Aldian . Mereka berdua menatap Aldian dengan perasaan sinis dan tidak bersahabat . Mungkin mereka bersikap seperti itu lantaran melihat Icha selalu bersama dengan Aldian . Fidel memutar kunci dan menekan tombol stater , memacu sepeda motor menjauhi Icha dan Aldian .
Suasana pemakaman Anji terlihat begitu suram . Puluhan orang yang memakai pakaian hitam masih memadati pemakaman . Fidel dan Andy masih menangisi kepergian teman mereka untuk selama – lamanya . Tetesan air mata kedukaan membasahi wajah mereka merasakan kehilangan sosok Anji .
Drrttt drrtt
Handphone Fidel berdering dalam saku celananya . Ia menjauh dari kerumunan itu untuk membaca pesan apa yang masuk ke Handphonenya .  Tak menunggu beberapa lama , Fidel datang kembali dan kali ini ia menyuruh Andy untuk ikut bersamanya .
“ Ndy , gua mau pergi dulu nih . Orang tua gua pada pergi ke pesta . Gak ada  yang jaga di rumah . “ kata Fidel sambil menyeka air mata yang tersisa dengan tangannya .
“ Ya sudahlah . Loe pergi aja . Lagian gua masih agak lama kok di sini . “ pungkas Andy sambil menepuk pelan pundak temannya .
“ Terimakasih ya Andy . Gua tau loe bisa diandalkan . “ Fidel tersenyum kecil sambil berpaling dari hadapan Andy .
Andy kembali melihat prosesi pemakaman Anji sesaat Fidel pergi . Ia melihat kerumunan orang memadati pemakaman mulai berkurang , namun orang tua dan kakak almarhum masih terpaku memandangi nisan Anji . Air mata yang sempat mengering itu kini menetes lagi , ia tak tahan melihat isak tangis keluarga Anji .
Matahari sudah semakin condong keBarat . Andy melirikke arah arlojinya , jarum jam tepat menunjukkan pukul 15 . 30 . Waktu terasa  cepat berputar ketika dirinya berada di makam tersebut . Dilihatnya suasana pemakaman sudah sepi , ia memutuskan untuk pulang .
Area pemakaman ini cukup luas , sekitar 500 meter persegi . Pemakaman ini dikelilingi oleh pepohonan kamboja dan beringin yang tumbuh besar , seolah memancarkan aura kematian begitu dingin dan mencekam . Membuat bulu kuduk siapapun yang berada di sana tegak berdiri .
Andy begitu hati – hati menggerakkan kakinya . Ia merasa seseorang sedang menguntitnya . Matanya begitu was – was , liar mengamati apapun yang berada di sekitarnya . Sepi dan hening . Suara derikan kepik pohon memecah kesunyian makam . Andy mulai diselimuti ketakutan , mulai mempercepat langkahnya , mencari jalan keluar dari makam tersebut .
Sebuah tangan mencengkeram leher Andy dari balik pohon beringin tanpa ia sadari . Andy terlanjur kaget , sosok itu sudah menjatuhkan dirinya ke permukaan tanah . Kepalanya terantuk mengenai bagian tumpul batu nisan tersebut . Rasa pening mulai menyerang keningnya . Sambil memegangi kepalanya , ia melihat sosok yang ditutupi oleh kain merah menatap tajam ke arahnya .
Ia mengamati apa yang digenggam di tangan kanannya – sebuah golok . Sebuah golok terhunus dari belakangnya , kini sudah terpampang di matanya .
Arrrgggghh !
Secepat kilat golok tersebut sudah menyabet leher Andy . Darah kental menyembur kencang membasahi wajah , pinggiran batu nisan serta penutup mulutnya . Andy kejang – kejang sesaat sebelum nafas dalam tubuhnya benar – benar hilang .
Tak puas melihat korbannya mati dengan luka sabetan menganga di leher , sosok tersebut secara membabi buta membacoknya hingga puas .
            Bola matanya berputar – putar mengamati keadaan makam dan terlihatlah semak belukar tumbuh tak jauh dari tempat pembantaian sadis tersebut . Keadaan makam yang benar – benar sepi , menguntungkan dirinya . Tanpa rasa ragu sosok itu menyeret tubuh tak berdaya Andy ke semak belukar dan membuangnya ke sana .
            Dipandanginya mayat malang tersebut seraya melepaskan kain yang menutupi mulutnya .
            “ Selamat tinggal kawan . “
            Bola matanya hampa , tak ada tanda kehidupan yang terpancar . Seakan – akan telah tertutupi kabut tebal yang bernama dendam dan kebencian yang mengakar di dalamnya .

Sunday, 4 October 2015

Love in Dead - Chapter 2



Mobil pick up sudah tiba di rumahnya. Aldian menapakkan kakinya tepat di depan halaman rumahnya, melangkah menuju gerbang. Tepat di depan gerbang, ia menggoyangkan lonceng kecil yang tergantung di pagarnya.
            Teng teng teng
Suara dentingan lonceng itu bergema sampai ke dalam rumah. Seorang wanita terlihat membuka pintu begitu mendengar suara lonceng. Ia mengenakan kaos oblong merah bercelana pendek dengan rambut lurus tanpa diikat, dibiarkan saja tertiup angin.
Ia memandang Aldian lekat-lekat, dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Seragam putihnya sudah kotor tertutupi tanah. Bibirnya pecah. Wajahnya dihiasi oleh lebam dan memar di sekitar kelopak mata dan pipi.
Wanita itu hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepala melihat kondisi anak itu.
“Terima kasih bibi Fanny.“ ujar Aldian sambil melewati bibinya.
Aldian melepaskan pakaiannya satu per satu, mulai dari seragam sampai celana panjangnya. Ia meringis merasakan pedihnya luka yang berada di bibirnya juga nyeri hampir di sekujur tubuh . Aldian memilitkan handuk hijau itu di pinggang, bersiap menuju kamar mandi.
Satu malam berlalu. Aldian sudah bersiap-siap. Setelah memakai seragam, ia bergerak menuju dapur. Sesampainya di sana, ia menjumpai bibinya tengah menggoreng telor dadar. Aldian menyadari bahwa sarapannya belum siap, hanya bisa duduk menunggu makanan siap disajikan.
Bibi Fanny sudah selesai menggoreng telor dadar. Ia meletakkan telor dadar di atas piring kaca tepat di hadapan Aldian. Ia mengambil telor dadar itu dengan sendok, diletakkan di atas nasinya.
Suasana sarapan di dapur begitu sunyi. Tak ada yang memulai percakapan di antara mereka berdua, baik dari Aldian maupun bibinya. Usai memasak telur dadar, bibi Fanny beranjak dari dapur menuju ruang tamu untuk menyalakan TV—meninggalkan Aldian sendirian.
Kelihatannya, bibi Fanny tak menyukai keberadaannya di rumah itu. Jika saja paman Mindo tidak bekerja di luar kota, mungkin saja ia tidak melewatkan momen sarapan pagi dengan keadaan seperti ini. Selesai menikmati sarapannya, Aldian langsung memanggul ransel di punggungnya sambil berpamitan. Ketika ia berpamitan, bibi Fanny tak memperdulikan apakah Aldian mau pergi—pandangan matanya masih melekat di layar kaca.
Suara deruman mobil mendekati sekolah. Seorang laki-laki turun dengan memegang beberapa buku di tangan kanan , melirik ke arah arlojinya—jam 07.00. Untung ia bisa cepat 15 menit, jadi ia tak terlambat. Aldian berjalan sambil menundukan kepala, tak ingin luka memar di wajahnya dilihat teman-temannya.
“Hey Aldian!“
Aldian menghentikan langkahnya sejenak untuk mengetahui suara yang memanggil namanya.
“Aldian!“
Aldian mulai mengenali suara yang memanggilnya—itu suara Icha. Merasa kurang yakin dengan apa yang didengarnya, Aldian menoleh sedikit ke belekang.
“Aldian? Lho, kenapa wajah kamu?“ Icha sedikit tersentak melihat lebam dan memar menghiasi daerah kelopak mata dan pipinya .
“Tidak apa-apa, Icha. Aku hanya mengalami sedikit kecelakaan.“ ujar Aldian sambil menepis pelan tangan Icha yang hendak menyentuh wajahnya.
“Kamu yakin?“ Icha menatap penuh tanda tanya ke arah mata Aldian.
Aldian menangguk pelan menjawab pertanyaan Icha.
Teeettt
“ Bel sudah berbunyi, aku harus masuk. Icha kamu harus cepat-cepat pergi dari sini. Jangan sampai telat.“ Aldian berpaling dari Icha buru – buru, sementara Icha masih berdiri di sana melihat kelakuan aneh Aldian hari ini.
Bel istirahat kedua berdering keras. Ratusan siswa berhamburan menuju kantin, tak terkecuali Aldian. Dengan wajah murung, ia menyeret kakinya menuju kantin yang berada tak jauh dari ruang kelasnya, hanya berjarak sekitar 15 meter. Tiba di kantin, Aldian melihat Icha sedang makan bersama dengan dua orang temannya.
“Cie cie Icha, tuh si Aldian sudah datang jumpain lo.“ Ovy menggoda Icha dengan menyenggolkan sikutnya ke badan Icha.
“Apaan sih sih Ovy? Bikin malu gua aja lo.“ pipi Icha bersemu mendengar candaan dari Ovy.
“Iya nih si Icha, bukannya nyuruh Aldian duduk. Sudah capek si Aldian berdiri tuh.“ timpal Dian di sampingnya.
Mengetahui Icha berada di kantin, semula niat Aldian ingin membeli makanan untuk mengisi perut, diurungkannya. Icha dan teman-temannya kebingungan dengan sikap Aldian yang menarik diri—hanya bisa termangu. Icha langsung melangkahi bangku panjang tempat mereka bertiga duduk untuk mengejar Aldian.
“Tunggu Aldian!“ seru Icha menahan langkah Aldian agar tak jauh.
Langkah Aldian tinggal sedikit lagi memasuki ruang kelas. Melihat Icha sudah tiba di belakangnya, ia terpaksa berhenti.
“Aldian, ada apa sih sama kamu?“ Icha berusaha melihat ke dalam mata Aldian yang menghindari tatapannya.
“Tidak apa-apa Icha. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri saja.“ balas Aldian sambil mengembalikan pandangannya ke kiri.
“Tapi, kenapa kamu menghindari aku? Apa kau tak menganggapku teman?“
“Kita tetap teman. Aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri. Percayalah.“ tegas Aldian meyakinkan Icha akan tindakannya. Dalam hati Aldian, kata “teman” merupakan kata yang menyakitkan untuknya . Aldian menginginkan Icha lebih sekedar dari teman.
Hari rabu di SMA Negeri 1 begitu suntuk dan membuat sakit kepala. Itulah yang dirasakan oleh para siswa-siswi di sana. Berpulang dengan wajah penuh kebosanan, ratusan siswa berserak sana-sini meninggalkan pekarangan sekolah. Seperti biasanya, Aldian berjalan sendiri, namun di depannya, dirinya dihadang oleh sekelompok laki-laki.
“Heh alien! Ngapain lo dekatin si Icha? Loe gak ingat apa yang gue bilang kemarin?!“ Mereka bertiga berjalan mengelilingi Aldian. Fidel berdiri di hadapan Aldian.
“Aku gak akan dekat-dekat lagi sama Icha. Aku hanya memastikan Icha akan menjauh dariku.“
“Benarkah? Aku senang kau berbuat seperti itu. Tapi, jika kau coba bermain-main dengan kami, kami gak akan segan melukaimu.“ telunjuk Fidel mengacung ke arah wajah Aldian yang tertunduk lesu.
“Ayo coy kita pergi.“ Fidel menempeleng dahi Aldian dengan telunjuknya lalu mengajak teman-temannya pergi. Dari kejauhan, Aldian memandang nanar ketiga teman-temannya. Mereka tak pernah berhenti merendahkan dirinya.
Sore ini, menjelang pukul setengah tujuh, Anji baru saja usai bermain bola di  lapangan menuju rumahnya di perumnas Air Lihas. Ia mengendarai Satria FU kepunyaannya. Sambil terus fokus pada sepeda motornya, Anji melihat jalan di sebelah kiri dan kanan ditumbuhi rumput ilalang dan putri malu. Di sepanjang jalan, tertancap beberapa lampu jalan yang tidak terurus, hanya dijadikan pajangan saja.
Matanya menangkap sesuatu tergeletak di atas tanah. Anji menyipitkan matanya untuk melihat apa yang berada di sana. Ia menggas sepeda motornya pelan-pelan, mengamati benda apa itu. Ia sudah tiba di sana, mendapati  seseorang pingsan di sana.
Anji mematikan mesin sepeda motor, mendekat ke arahnya. Sebelum Anji membalikkan wajahnya, tak ada kecurigaan terlintas di benak Anji tapi semuanya terjadi begitu cepat ketika ia membalikkan badannya.
TAP!
Sebilah golok menancap ke pelipisnya. Darah kental  bercucuran deras membasahi wajahnya. Anji menggelepar hebat berusaha melepaskan golok yang bersarang di kepala. Ternyata semua sia-sia. Darah sudah terlanjur mengalir deras dan golok itu sudah mencabut nyawa Anji dari tubuhnya.
“Rasain!“ sumpah serapah terlontar begitu kejam dari mulutnya. Ia melepaskan golok yang menancap dan berlalu begitu saja meninggalkan mayat Anji.

Tuesday, 29 September 2015

Penyesalan dalam Perpisahan

Aku terpekur di sini
Ditemani angin berhembus lirih
Terjebak dalam kehampaan
Terluka karena kepedihan
    Kenyataan sudah menghadapkanku
    Kalau kau takkan iringi langkahku lagi
    Takdir sudah menuliskan untukku
    Bahwa kau hanya bayangan dalam pikiranku
    Waktu sudah menghapusku
    Juga menghapus kenangan tentang dirimu
Apakah kau melihatku
Di saat aku berlinang air mata
Apakah kau bahagia apakah kau tertawa riang
Di sini aku merana tanpa hadirmu
Oh sang Ilahi pertemukanlah kami
Walau waktuku hanya sejenak
Kuingin ucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya

Tuesday, 22 September 2015

Pelangi di Medan Perang



Hujan deras turun membasahi mayat – mayat tentara bergelimpangan di medan perang. Dada dan perut tertembus oleh peluru timah yang panas dan tajam membuat darah bercampur air hujan mengalir deras bagai mata air. Darah dan mayat mereka adalah bukti perang masih berkelanjutan di sana. Suara desing senapan jarak jauh menjadi nyanyian penuh  tragedi dan duka jikalau peluru – peluru itu sudah menembus tubuh  mereka.Para tentara tetap was – was dan terus menajamkan penglihatan mereka meskipun derasnya air hujan menghalangi mereka.
            Sementara itu di barak pengungsian, wajah para pengungsi diselimuti ketakutan, kegelisahan, dan air mata. Sudah lima hari mereka berada di sana. Kebutuhan sandang dan pangan mereka bergantung pada sumbangan para relawan dari berbagai negara. Bukan hanya terbatas dalam kebutuhan sandang dan pangan, mereka terbatas dalam kebutuhan air bersih. Perusahaan penyedia air lumpuh total dan tak bisa beroperasi selama perang masih berlanjut. Mereka harus berbagi air bersih dengan sesama pengungsi dalam memenuhi air minum dan MCK. 
            Awan gelap meneteskan ribuan liter air ke permukaan tanah juga membasahi bagian atas kain tenda. Di dalam tenda, puluhan pengungsi tidur berhimpitan dan berdesakan satu sama lain.Di atas tikar seluas 15 meter, mereka harus rela tidur diterpa deru nafas panas yang berhembus ke wajah mereka. Mereka berharap bisa kembali ke rumah mereka masing – masing tapi perang memupuskan harapan mereka.
            Di antara kerumunan pengungsi yang tidur, seorang anak kecil memakai kaus oblong melipat kedua tangannya di atas lutunya sambil menopangkan dagu di atas lipatan tangannya. Wajah penuh keseriusan mengamati tetesan – tetesan air menitik deras dari langit. Sepertinya ia sedang meresapi titik air yang menetes tanpa henti ke atas permukaan tanah.
            “ Horushi, kamu tidak tidur nak? “ tanya seorang wanita dari belakangnya.
            “ Tidak bu. Aku tidak ingin tidur. Di dalam sempit. “ jawab Horushi singkat tanpa menengok ke belakang.
            Nanoku menghampiri anaknya yang sedang duduk di depan pintu tenda. Nanoku mengambil tempat duduk di sebelah kanan anaknya.
            “ Apa yang kamu pikirkan Horushi? “
            Horushi diam sesaat. Ia sedang merangkai jawaban tepat untuk menjawab pertanyaan ibunya.
            “ Aku berpikir perang yang terjadi di negara ini sama seperti hujan yang turun siang ini, bu. Deras daan tiada habisnya. Aku melihat ketakutan, duka, dan kesedihan di wajah mereka, bu. Mereka kehilangan orang tua, sanak saudara, orang – orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang ini dan ayah... “ Horushi tidak mampu meneruskan kata – katanya. Tetes air mata sudah terlebih dahulu membasahi wajah polosnya. Yang diingatnya sebelum ia dan ibunya dievakuasi yaitu sebuah rudal mendarat tepat di atas rumah mereka dan ayahnya sedang berusaha mengeluarkan mereka.
            Ledakan besar menghempaskan tubuh mereka ketika rudal itu meluluhlantakan rumah mereka. Ketika Horushi bangkit berdiri, ia melihat kobaran api besar menghanguskan rumah yang menjadi tempat tinggal mereka selama 9 tahun dan menyadari rudal itu sudah menghantarkan ayahnya ke surga. Horushi histeris, meraung, memanggilnama ayahnya, berharap sang ayah bisa mendengar suaranya dan mendatangi dirinya, namun ia tak melihat ayahnya datang menyambut dirinya. Di depannya hanya tertinggal puing – puing rumah yang sudah menjadi arang.
            Horushi masih tenggelam dalam kesedihannya. Kejadian itu membekas dalam benaknya dan mungkin menimbulkan luka abadi yang tak tahu kapan akan sembuh. Horushi memutar ulang ingatannya saat ayahnya menemani dirinya bermain saat ibunya sedang sibuk di dapur serta ayahnya selalu membacakan dongeng menemani dirinya tidur pada malam hari.
            Nanoku terdiam. Ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam karena anaknya sudah kehilangan sosok ayah yang dibanggakannya. Ia pun merasakan hal yang sama dengan anaknya. Nanoku kehilangan sosok suami yang sangat dicintainya dan kini ia harus merawat anaknya sendirian tanpa seorang suami.
            “ Nak, apakah kamu tahu apa yang terjadi setelah hujan deras? “ Nanoku membuka mulutnya setelah begitu lama ia diam.
            Horushi menggeleng pelan menanggapi pertanyaan ibunya.
            “ Ibu selalu meyakinkan diri bahwa selalu ada pelangi indah sehabis hujan deras. Selalu ada kebahagian setelah kesedihan. Selalu ada sukacita setelah dukacita dan selalu ada tawa riang setelah air mata. “ tutur Nanoku sambil mengusap pelan sudut kelopak matanya. Ia juga mengelus rambut anaknya penuh kasih.
            “ Bagaimana ibu bisa seyakin itu? “ sahut Horushi seraya menatap penuh binar ke arah ibunya.
            “ Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya terlalu lama dalam penderitaan. Tuhan pasti akan menolong hambaNya. Ibu percaya perang juga akan berhenti demikian juga hujan ini. Setelah hujan reda, sinar matahari akan membiaskan percikan air dan memunculkan pelangi indah. “
            Nanoku menyuruh anaknya mengalihkan pandanganya ke arah hujan sembari mengelap air mata yang tersisa di wajah anaknya. Di luar sana, hujan semakin berkurang intensitasnya, tidak sederas beberapa menit lalu.
            Hujan deras sudah tergantikan rintik – rintik gerimis kecil. Awan gelap tak lagi merajai langit. Seberkas cahaya terang mulaimenampakkan wujudnya. Lama kelamaan rintik – rintik gerimis itu berhenti dan bulatan berpijar sudah keluar dari persembunyiannya. Ia siap menyinari permukaan bumi yang telah lama diguyur hujan deras selama satu setengah jam.
            Dari ujung bulatan berpijar itu tercipta suatu lengkungan warna – warni yang jatuh ke permukaan tanah. Horushi sumringah ketika ia melihat warna – warni indah itu terbias di langit biru.
            “ Ma, aku melihatnya! Aku melihatnya!... Pelangi. “
            Nanoku tersenyum kecil melihat kepolosan anaknya dan ia pun juga melihatnya. Ia yakin bahwa apa yang dikatakan pada anaknya tentang pelangi bukanlah omong kosong belaka. Ia yakin kalau pelangi yang terbias di langit adalah penanda bahwa perang akan segera berakhir.
            “ Aku tak menyangka bahwa pelangi ciptaan Tuhan bisa seindah ini dan diantara warna di pelangi itu ada warna yang paling  kusukai yaitu biru. “ Horushi menunjuk salah satu warna yang berada di bawah warna hijau.
            “ Ibu juga suka warna biru, Horushi. Bagi ibu warna biru adalah lambang sebuah kedamaian. Warna biru menunjukkan bahwa selalu ada kedamaian setelah perang. “ Nanoku menghela nafas kecil seraya bangkit berdiri.
            “ Untuk itu kita tidak boleh menyerah kepada keadaan. Biarpun perang, kita tidak boleh membuang harapan kita dan pasti kedamaian akan terwujud. Sekarang ayo kita makan dulu, Horushi, para relawan sudah membuat masakan enak untuk kita. “ pungkas Nanoku sambil memberikan tangannya pada anaknya. Horushi menjemput tangan ibunya dan bersama – sama pergi ke dapur umum.
Selesai