Monday, 4 January 2016

Boneka yang Tersangkut di Atas Pohon



Malam semakin mencekam. Udara dingin menggetarkan tulang. Lelah dan penat sungguh membebani pikiran dan badan Ahmad. Ia baru saja turun dari angkot yang membawanya pulang menuju kontrakannya. Hanya saja ia masih harus menempuh 200 meter dari jalan menuju ke sana. Ia tak melihat satupun tukang ojek yang biasanya beroperasi di depan jalan Cemara. Biasanya sampai pukul sembilan malam pun mereka masih beroperasi di sana, tapi ini aneh. Arloji Ahmad masih menunjukkan pukul setengah sembilan, namun tak satu pun tukang ojek berada di sana—entah kemana perginya para tukang ojek. Dengan perasaan dongkol, Ahmad harus berjalan kaki untuk sampai di kontrakannya.
Sebenarnya, ia bisa saja menerima tawaran Rio untuk pulang bersama dengannya. Tapi, ia malah menyuruh Rio pulang lebih awal dengan alasan pekerjaannya belum tuntas. Dan sekarang, ia agak menyesali keputusannya.
Setelah 10 menit berlalu, ia tiba di depan jalan cemara. Dirasakannya suasana malam di jalan Cemara begitu senyap. Tak ada lalu-lalang seorang pun sekadar lewat di sana. Bahkan, warung-warung tutup lebih cepat—ada yang terjadi di sana?
Ahmad langsung menepis pikiran buruk mengenai cerita Rio tadi siang dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kontrakan. Dipandanginya kiri dan kanan. Rumah-rumah yang berada di seberang jalan, sudah mematikan lampu rumah bagian dalam—apakah mereka sudah tidur?
Suara derap sepatu kets yang dipakainya terdengar oleh kedua daun telinganya. Dinginnya angin malam, sukses membuat bulu kuduknya meremang. Ia hanya mengelus-elus pelan tengkuknya agar bulu kuduknya segera turun.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang anak kecil sedang menangis tersedu-sedu di depan sebuah pohon nangka yang mempunyai tinggi dua meter.
“Kenapa ada anak kecil menangis sendirian malam-malam begini?” tanya Ahmad membatin.
Ahmad heran, kenapa tak ada seorang pun yang mendengar suara tangisan anak ini. Padahal,suara tangisannya lumayan keras. Tak mungkin tak ada orang yang mendengarkannya. Ahmad yang tergerak oleh belas kasihan menghampiri anak itu.
“Dek, kenapa kamu menangis?” tanya Ahmad padanya.
Anak kecil itu mengangkat wajahnya. Ternyata dia adalah seorang perempuan, rambutnya pendek dengan wajah bulat dan kulit kuning langsat. Satu hal yang membuatnya tertegun wajahnya pucat pias seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
“Huhuhu, bonekaku tersangkut di atas sana, kak.” anak kecil itu mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk mata sambil menunjuk ke sebuah boneka Doraemon yang tergantung di salah satu ranting pohon.
“Kalau begitu, kakak bantu kamu ambil boneka itu, ya?” sahut Ahmad. Sang anak hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Ahmad melepas sepatunya, meraih batang nangka lalu menaikkan kedua tungkai kakinya. Kini, ia sudah berada di atas pohon. Ia meraih boneka yang tersangkut di ranting dengan menggunakan tangan kirinya sambil menjaga keseimbangannya agar tak terjatuh.
“Dek, kakak sudah dapatkan bonekanya.” seru Ahmad dari atas pohon. Anak kecil itu tak memberi respon apapun. Ia membisu menutupi wajahnya. Setelah boneka itu didapatkannya, Ahmad pelan-pelan turun dengan mengeratkan pegangan tangan kirinya pada batang nangka. Sementara, tangan kanannya memegang boneka.
Ahmad sudah berada di bawah pohon. Ia segera menghampiri anak perempuan yang sedari tadi menunggunya.
“Ini bonekanya, dik.” Ahmad menunjukkan boneka itu di hadapannya.
Anak perempuan itu pelan-pelan mendongakkan wajahnya. Ahmad terperanjat begitu wajah anak perempuan yang berada di depannya, berubah 180 derajat.
Setengah wajah anak perempuan itu tinggal tulang tengkorak yang nampak jelas oleh Ahmad. Setengah wajahnya lagi berlumuran darah kering. Rambut panjangnya lepek oleh darah yang tersisa di batok kepalanya.
Ahmad tak sanggup berkata apapun untuk mendeskripsikan ketakutan yang mengancam dirinya. Ahmad mencoba mundur pelan-pelan. Anak perempuan itu masih saja menertawakan Ahmad yang takut luar bisa memandangi dirinya.
“Khikhikhikhi!” suara lengkingan tawa dari mulut anak perempuan itu, terdengar menyakitkan di telinga Ahmad. Ahmad memekik, berlari secepat mungkin tanpa mempedulikan apakah anak setan itu mengikutinya dari belakang.
Ahmad menggebrak-gebrak pagar kontrakannya, berharap seseorang akan menghampiri dirinya. Ia tak mampu menyembunyikan ketakutan yang mencekam dirinya. Deru napasnya seakan ikut merasakan kengerian yang dirasakan sang pemilik tubuh. Detak jantungnya memompa udara secara cepat dan berlebihan.
“Ahmad, kamu kenapa?” tanya Rio sambil membuka gembok yang mengunci pagar. Rupanya, Rio belum tidur. Ia masih berkutat dengan laptop-nya.
“Ah... ah... cepat buka pagarnya! Buruan!” suruh Ahmad tak sabar.
Begitu disemprot Ahmad, Rio cepat-cepat membuka gembok pagar. Ia memapah temannya yang terlihat kelelehan. Ahmad duduk di atas kursi plastik. Rio membawakan segelas air hangat untuk diminum oleh temannya. Ketika Ahmad bisa mengendalikan diri, ia mulai bercerita pada Rio, semua yang terjadi padanya.
“Sudah kuberitahu samamu, kalau pulang, jangan di atas jam sepuluh. Dan para penduduk yang berada di sekitar sini sudah mencoba mengusir makhluk itu. Sepertinya, ia enggan untuk pindah dengan alasan, pohon itu adalah “rumah” aslinya.” jelas Rio panjang lebar.
Ahmad sudah mendengar penuturan dari Rio, temannya. Ia berjanji dalam hatinya untuk tidak pulang kerja di atas jam sepuluh malam. Jika bosnya meminta lembur, ia akan mempertimbangkan permintaan itu secara baik-baik dengan bosnya. Jangan sampai untuk kedua kalinya, ia bertemu dengan anak setan itu lagi.

Tumbal Arwah Jelangkung - Epilog



Sepulang sekolah, Lina mengundang Heru dan Donni makan  malam di rumahnya. Ia dan keluarganya akan mempersiapkan sajian makanan dan minuman khas buatan keluarganya. Tentu saja Heru dan Donni tidak menolak ajakan yang menaikkan selera makan mereka.
Sudah kedua kalinya, Lina menatap jam analog yang terpaku di atas dinding ruang tamunya. Ia sudah mengingatkan pada kedua teman laki-lakinya, mereka harus datang pukul tujuh malam. Sekarang jam dinding menunjukkan pukul 07.05. Saat prasangka mereka di alam pikirannya, suara ketukan pintu melenyapkan lamunannya.
Tok! Tok! Tok!
Lina berlari kecil begitu mendengar suara ketukan dari luar. Ia sudah menduga kalau tamunya tak lain adalah Heru dan Donni—dan itu benar. Mereka berdiri di hadapan Lina. Mereka sama-sama mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak berlengan panjang namun perbedaannya terletak pada warna.
“Wah, tidak biasanya kalian rapi seperti ini,” puji Lina sambil mempersilakan mereka masuk.
“Namanya juga tamu. Tamu adalah raja. Tidak mungkin ‘kan, seorang raja memakai busana yang koyak-koyak?” 
            “Hahaha, benar juga tuh. Ayo cepat ke dapur, ibu dan ayahku sudah lama menunggu kalian.”
            Ketiganya mempercepat langkah menuju dapur. Di sana, ayah dan ibu sedang mengobrol sembari menunggu kedatangan putri sulung mereka. Rafly, adiknya Lina, sedang memainkan gadget-nya.
            “Ayah, Donni dan Heru sudah datang,” panggil Lina. Ayah Lina menoleh sejenak pada putrinya.
            “Oh cepat duduk, nak. Kalian hampir saja melewatkan makan malam gratis.” Gurau ayah Lina. Mereka tertawa kecil. Sebelum mereka menyantap hidangan, ayah Lina memimpin doa terlebih dahulu.
            Semua menu yang disajikan di atas meja makan, merupakan menu kesukaan mereka. Ikan nila panggang berolesankansambal cabe rawit, tak henti mengepulkan uap hangat di hadapan wajah Heru. Heru tak mampu menahan laparnya lebih lama. Ia langsung mengambil sepotong ikan panggang lalu diletakkan di atas piring kacanya. Disusul oleh Donni yang menyambar mangkuk besar berisi opor ayam yang tersedia di depan matanya. Makan malam yang benar-benar nikmat bagi kedua lelaki itu. Apalagi, ditambah segelas es kolang-kaling. Lengkaplah sudah kenikmatan dunia. 
            “Oh aku sempat lupa, bagaimana dengan mas Payino? Apakah mas Payino sudah ditahan oleh pihak kepolisian?” tanya Lina seraya menelan kunyahan nasinya.
            “Polisi tidak bisa menahan mas Payino karena belum ada keterangan dari pihak ibu Hesty. Dan kalian tahu, ibu Hesty hampir saja membunuh istri dari ayahnya almarhum Prakoso, teman kita.” Tatapan mata orang tua Lina kini tertuju pada Heru.
            “Benarkah?” sela Lina. Heru mengangguk kecil menjawab pertanyaan temannya. “Tapi syukurlah, beliau sudah sadar dari koma.” Ungkap Heru.
            “Satu lagi, apa yang terjadi setelah polisi menemukan ibu Hesty?”
            “Kalau itu...”
            Sebuah terali besi dingin membatasi dirinya dengan dunia luar. Seorang wanita dengan tatapan mata cekung, terus saja menangisi boneka yang sudah rusak di bagian badannya. Ia menimang-nimangnya seperti sedang menenangkan anak bayi yang menangis ingin diberi asupan gizi.
            “Cup, cup anakku, jangan menangis. Ibu di sini kok. Ibu di sini,” ia terus menatap nanar boneka perempuan yang sama sekali tidak mengeluarkan suara tangisan sedikit pun. Mulut kecilnya terkatup erat dan membisu. Bola mata plastiknya tidak meneteskan setitik air mata pun. Ia hanya benda mati yang diperlakukan tuannya seperti manusia biasa.
            “Kamu kenapa sih dari tadi diam melulu?! Kamu enggak dengar, ya, apa yang ibu bilang tadi, hah!” ia mengguncang tubuh boneka berulang kali berharap boneka itu akan merespon pertanyaannya. 
            Hestyani Firiawan—seorang pasien rumah sakit jiwa yang baru satu hari berada di sana. Semenjak dirinya sadar, ia selalu saja meraung-raung sambil memanggil nama anaknya. Bahkan, ia sempat menjambak rambut salah satu seorang polisi yang akan membawa bonekanya ke kantor polisi. Melihat tingkah lakunya yang brutal, mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa.
            “Dasar kurang ajar! Ibumu sudah lelah bertanya, tetap saja enggak mau dijawab! ANAK MACAM APA KAMU INI?!” makinya sambil melempar boneka itu ke sudut kamar. Ia merangkak perlahan menuju ranjang sambil memeluk kedua kakinya yang telah dilipat hingga menutupi wajah.
            Rambut panjangnya kusut berantakan. Ia tak seperti Hesty yang dulu, selalu berpenampilan anggun dan menarik perhatian orang lain. Sekarang, ia tak lebih dari seorang perempuan gila dan menakutkan yang sering berkeliaran di jalan-jalan kota besar.
            Suhu di ruangan remang-remang berukuran 3x4 meter itu menurun dratis. Hesty mendongakkan wajahnya sambil memutar-mutarkan kepalanya mencari sumber keanehan yang pelan-pelan mencekam dirinya. Belahan bibir pucatnya gemetar tak karuan. Pandangan matanya tak bisa lepas dari sosok perempuan bergaun hitam yang berdiri tepat dari hadapannya.
            “Ibu...”
           
The End





Sunday, 3 January 2016

Tumbal Arwah Jelangkung - Sepuluh



            Rasa nyeri hebat masih berdenyut di kepalanya. Donni sudah sadar. Namun, ada hal janggal di tempatnya berada sekarang. Tempat ini beraroma kemenyan dan wewangian yang belum pernah dibauinya. Hanya terdapat satu lubang ventilasi yang berada di atas jendela yang memiliki dua tirai. Dan satu hal yang pasti—tempat ini begitu remang. Bisa dibilang hampir gelap. Donni melihat seorang wanita berjubah hitam sedang menghampirinya.
            “Kau sudah bangun?”
            Kedua bola mata Donni mendelik.  Ia kenal betul, suara wanita yang membelakanginya saat ini. Wanita itu sedang berjongkok menyalakan lilin hitam yang disusun seperti pentagram di atas tubuh seorang wanita yang terbaring tak berdaya.
            “Lina? Mau kau apakan dia?!” pekik Donni. Ia tak bisa menggerakkan badannya leluasa karena dililit tali tambang dan lengannya dirantai.
            “Entah apa yang membuat kalian terlambat menyadari bahwa semua ini adalah ulahku.” Wanita itu berbalik badan, menghadapkan diri ke arah Donni. Ia tak percaya tubuh Lina sudah ditaburi dengan kembang tujuh rupa dan di atas dadanya sebuah boneka perempuan ditaruh dengan posisi duduk.
            “Arwah anakku ingin sekali meminta tubuh yang masih hidup sebagai pengganti tubuhnnya yang sudah mati. Ia merasa, tubuh temanmu ini, cocok sekali untuknya,” tutur ibu Hesty. Tangan kirinya memegang sebuah pisau dapur.
            Donni tak mengerti sama sekali apa yang dikatakan oleh gurunya. Sialnya, ia juga tak bisa menemukan menemukan kancing peniti yang biasanya ia dilekatkan di saku belakang celana jeans-nya.
            “Kau seperti tidak mengerti dengan penjelasanku. Baik, akan kujelaskan semua. Aku bukanlah orang yang suka mengajar murid-murid seperti kebanyakan guru meskipun aku adalah sarjana pendidikan matematika. Aku lebih suka dengan menjahit dan membuat mainan seperti boneka.”
            “Lalu, kenapa kau bisa menjadi guru di sekolah kami? Ada apa dengan keluargamu?” Donni sudah menemukan letak kancing peniti itu. Pelan-pelan ditariknya hingga peniti itu berada di genggaman tangannya.
            “Anakku meninggal dunia karena dibunuh teman-temannya. Teman-teman sebayanya, iri padanya karena anakku merupakan murid terpintar meskipun dia punya cacat di bagian matanya. Hatiku hancur mengetahui putriku satu-satunya dibunuh ditambah lagi suamiku meminta cerai. Aku memutuskan pindah rumah ke komplek Grand Morista. Ya, untuk memenuhi kebutuhan hidupku, aku mempergunakan ijazahku untuk melamar sebagai guru honor di sekolahmu tercinta.”
            Ia tak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan gurunya. Kedua tangannya masih sibuk membentuk lubang kunci yang pas pada gembok yang membelenggunya.
            “Oh ya, walaupun sudah berlalu dua tahun, rasa sakit karena kehilangan putri kesayanganku membuatku makin merana. Apalagi, dia selalu datang ke mimpiku dengan wajah penuh kemalangan dan kesedihan. Aku selalu menangis jika membayangkan hal itu.”
“Suatu hari, aku anakku datang lagi dalam mimpiku. Ia menyuruhku, menjahit sebuah boneka sebagai media pemanggilan arwah sekaligus penyegelan jiwa-jiwa yang ditumbalkan. Semakin banyak jiwa yang ditumbalkan, akan membuatnya semakin kuat menempati raga yang dipilihnya. Sekarang, dia sedang merasuk ke dalam raga anak ini. Dan jika anakku sudah berhasil mengambil alih raganya, roh perempuan ini akan tersegel dalam bonekauntuk selamanya, hahaha!” ibu Hesty tertawa jahat, menyadari rencananya akan segera terwujud.
Donni mengetahui bahaya besar akan menimpa nyawa temannya. Donni berteriak sekuat tenaga membangunkan Lina, tapi Lina masih saja tertidur. Kelopak matanya mengatup erat seolah dia berada dalam kondisi tidur yang begitu dalam.
Kondisi Lina tak jauh beda dengan Donni. Ia tak bisa berkutik di tangan makhluk itu. Makhluk itu mencekik kuat lehernya hingga membuatnya napasnya tersendat-sendat.
“Pergilah! Ini tubuhku!” hardikan makhluk itu meremangkan bulu kuduk Lina.
Makhluk itu menatap geram ke arah Lina. Ia menyunggingkan seringai lebar menyeramkan yang membuat pertahanan Lina kian mengendur.
“Menyerahlah, maka aku akan membiarkan kau hidup dan kau bisa melihat teman-temanmu.”
Kini untuk mengangkat jari-jarinya saat ia sudah kesulitan. Ia mulai merasakan urat nadi di lehernya mati rasa. Terlintas di pikirannya untuk menyerah dan membiarkan makhluk itu menguasai raganya.
“LINA! LINA! KAU DENGAR AKU? BANGUNLAH LINA! KAU TAKKAN MUNGKIN KALAH!” pekik Donni sekuat-kuatnya berharap Lina bisa mendengarnya. Ia melihat gumpalan asap hitam mengepul dari rahang mulut Lina yang menganga.
Lina bisa mendengarnya. Sekilas, teriakan itu menyebut-nyebut namanya—itu Donni—ya Donni. Ia berusaha mengerak-gerakkan satu jarinya tapi makhluk itu semakin menguatkan cengkramannya di leher Lina.
“Lina!”
“Bagus anakku, tinggal sedikit lagi maka kau akan mendapatkan tubuh yang kau inginkan!” raut wajah ibu Hesty semakin sumringah. Ia melebarkan senyumnya seiring membesarnya gumpalan asap yang keluar dari mulut Lina.
“Apakah ini akhir dari hidupku?” gumam Lina. Jika dia masih diberikan kesempatan hidup oleh sang Mahakuasa, ia ingin menyatakan perasaannya pada Donni. Menghabiskan hari-harinya bersama Donni. Ia belajar sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang sutradara film. Lina berharap Shanti akan menjadi partnernya dalam film-film buatannya nanti.
“Berani-beraninya kau menyakiti sahabatku, makhluk jelek!” suara itu sontak membangunkan Lina dari dunia khayalannya. Bondan, Indra dan Shanti bersiap di belakang Lina, menolongnya supaya terbebas dari jeratan makhluk terkutuk itu.
“Kami datang untuk menolongmu.” ujar Bondan seraya tersenyum kecil. Sungguh tak diduganya, mereka bertiga datang di saat dirinya hampir menyerahkan nyawa pada kematian.
Makhluk itu melepaskan cekikannya pada leher Lina. Makhluk itu mengambil sikap was-was dengan kehadiran ketiga temannya yang datang tanpa sepengetahuannya.
“Ayo kita lakukan!” Lina bergabung bersama ketiga temannya. Ia hanya mengangguk pelan, dengan napas agak sesak. Mereka bersama-sama mengangkat kedua telapak tangan, seolah mengumpulkan kekuatan untuk menghempaskan makhluk itu keluar dari tubuh Lina.
“Akkkhhh!” makhluk itu melolong keras ketika kekuatan yang dikumpulkan di telapak tangan mereka, berhasil menghempas tubuh makhluk itu keluar dari raga Lina.
“Sekarang dia sudah pergi. Waktunya bangun, Lina. Donni sangat membutuhkan pertolonganmu.” tutur Shanti lembut. Ia tak dapat menahan air matanya bisa melihat sahabat dalam kondisi seperti ini—teduh dan menyejukkan hati.
“Kami harus pergi..., selamat tinggal.”Lina bak patung, memandangi tubuh halus teman-temannya yang pelan-pelan menipis. Air matanya terus meleleh mengiringi perjumpaan singkat di alam pikirannya. Terakhir kali, ia hanya melihat tangan mereka yang melambai lambat. Kini, tinggallah Lina sendiri.
“Selamat tinggal...” gumam Lina.
Gumpalan kabut hitam yang menyelimuti boneka, lenyap seketika. Ibu Hesty tercengang sementara sosok makhluk yang merasuk tubuh Lina, terhempas keluar dan bertelut membelakangi ibu Hesty.
“Apa yang terjadi?” Donni juga terheran-heran. Gembok yang mengunci tangannya sudah terbuka namun tali tambang masih mengikat kencang tubuhnya. Donni melihat Lina sudah mulai mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.
“A-a-apa yang terjadi anakku?” tanya ibu Hesty terbata. Bola mata sosok perempuan itu merah menyala. Pandangannya liar seakan-akan ingin menerkam apa yang berada di hadapannya. Deru nafasnya begitu berat. Ia menggeram dengan suara tercekat.
“Iiiibbbuuuuuuu!!!” sosok itu meraung hebat. Air mukanya menjadi lebih beringas dan kejam. Kali ini, sosok itu benar-benar tampak mengerikan. Ia mengubah dirinya menjadi segumpal kabut hitam lalu menebus tubuh kasar ibu Hesty.
Perubahan mengerikan tampak nyata dalam diri ibu Hesty. Wajahnya yang sepucat tisu, tertutupi rambut panjangnya. Sorot matanya tajam dan mematikan. Kornea matanya memutih. Rahangnya kaku menegang. Genggamannya mengencang pada pisau dapur yang dipegangnya.
“Ma...ti!” Bola matanya tertuju pada Donni yang masih terikat tali tambang.
Ibu Hesty mempercepat langkahnya menuju Donni. Tak seperti ibu Hesty yang dilihatnya sewaktu menyambutnya di ruang tamu. Sosok itu benar-benar sudah mengambil alih tubuh dan pikiran ibu Hesty. Dan sekarang, dari mulutnya, dia mengeluarkan desisan-desisan halus bercampur dengan ceracau yang tak jelas.
“Ini gawat!” Donni tergesa-gesa melonggarkan ikatan tali yang menjerat tubuhnya. Sebelum tali yang menjeratnya terlepas, ibu Hesty tiba di hadapannya.
Tali itu tak kunjung lepas. Ibu Hesty menyeringai penuh kemenangan. Kedua tangannya sudah menggenggam pisau yang terhunus di depan mata Donni. Ia hanya mendelik lebar. Arah mata pisau yang berkilap itu menukik, siap menghunjam keningnya.
Dalam posisi setengah berdiri, Lina berhasil menangkis serangan ibu Hesty dengan menolakkan kedua telapak tangannya mengenai dada ibu Hesty. Tubuh ibu Hesty terpelanting jauh. Bagian belakang kepalanya mengenai dinding beton. Meskipun dirinya sedang dirasuki, ibu Hesty masih merasakan tempurung kepalanya bergetar. Pandangannya berkunang-kunang. Tapi, sosok itu terus memaksanya untuk terus bangkit.
“Cepat Donni. Selagi ada lilin yang menyala, bakar tali yang mengikatmu.” seru Lina. Ia masih berdiri menghadang ibu Hesty yang sudah bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.
Donni menyeret-nyeret perutnya ke arah lilin yang menyala. Api yang berkobar liar, cukup untuk menghanguskan tali tambang yang tak terlalu tebal pilinannya.
Ia berbalik ke belakang dan mengarahkan tali itu tepat di atas lilin yang menyala. Pijaran api mulai menjilat serat-serat taling tambang. Untuk mempercepatnya, Donni merenggangkan dan menarik kuat talinya agar cepat putus.
Di sana, ibu Hesty sudah menenggakkan pijakan kakinya yang sempat goyah. Ibu Hesty kembali menajamkan sorot matanya yang bengis dan tidak mengenal rasa ampun. Lutut Lina bergetar. Ia tak mampu menahan ketakutannya.
“Cepatlah Donni!” dengus Lina. Tinggal satu meter lagi, ibu Hesty bisa saja mengakhiri kesempatan hidupnya dalam sekejap.
 “Pergilah kau ke neraka!”
Donni merentangkan kedua tangan boneka dan mengarahkan badan boneka itu tepat di bagian dadanya.Tinggal beberapa senti lagi, ujung mata pisau yang lancip itu, akan menancap kening Donni.
Donni melepaskan boneka yang dipegangnya. Pisau dapur berhasilmenembus bagian dada boneka. Ibu Hesty membelakkan bola matanya yang memerah. Ia barusan menyadari perbuatan yang dilakukannya.
“Tidak...TIIIIDDDAAAAAKKKKKK!!!” ibu Hesty mengaum keras bak raja hutan yang kehilangan mangsanya. Dia menjambak rambutnya sendiri, merasakan panas luar biasa membakar tubuhnya. Ia kehilangan kendali tubuhnya. Mondar-mandir tak tentu arah. Ibu Hesty terus menepuk-nepuk tubuhnya yang serasa tebakar hingga membuatnya berguling-guling seraya menggelepar bagai ikan yang kehabisan udara.
“Ayo kita pergi dari sini, Lina.” Donni menarik lengan Lina, meninggalkan ibu Hesty yang masih meraung-raung dengan suara yang hampir serak .
Ketika mereka keluar, Heru dan beberapa polisi yang mengikutinya dari belakang telah berhasil menemukan Donni dan Lina. Keduanya letih dengan tetesan peluh yang mengalir lambat dari dahi mereka.
“Kalian tak apa-apa?” tanya Heru. Mereka mengangguk pelan, merespon pertanyaan Heru.
“Polisi sudah menemukan rumah ini setelah beberapa saat kami mendengar suara jeritan wanita, tapi di mana ibu Hesty?”
“Dia berada di dalam.” pungkas Donni seraya mengarahkan jempolnya ke gudang bekas yang terdapat di dalam rumah ini.
Usai diberitahu oleh Donni, pihak kepolisian langsung menyerbu ruangan yang ditunjukkan oleh Donni. Mereka masih bersiaga dengan pistol yang mengacung di depan mata mereka.
“Aku senang semua ini sudah berakhir.” ucap Heru lega. Ia memapah kedua temannya yang kehabisan tenaga, menuju halaman rumah ibu Hesty.
            Di luar sana, ayah dan ibu Lina sudah menantikan kehadiran mereka. Rafly, adiknya Lina, berdiri di samping ibunya. Ibunya berlari terlebih dahulu, menyongsong kedatangan anaknya dengan sebuah pelukan hangat.
            “Lina, syukurlah kamu selamat, nak!” ujar ibunya penuh haru dan air mata kebahagian. Lina juga tak mampu menahan titik air mata yang berkumpul di ujung pelupuk matanya.
            “Ini semua berkat pertolongan mereka, bu.” kepala Lina berputar ke arah Donni dan Heru.
            “Terimakasih banyak, ya nak.”
            Kedua lelaki itu mengangguk kepala seraya mengulas senyum kecil dari belahan bibir mereka. Mereka semua beranjak pergi dari sana menaiki Toyota yang sedari tadi parkir di halaman rumah itu.